DEWI APRIANI ACO
Prodi Antropologi Sosial, Universitas Khairun

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

RESPONS MASYARAKAT TIDORE TERHADAP KEBERADAAN OBJEK WISATA HATIJA ADAM; ANDI SUMAR KARMAN; DEWI APRIANI ACO
ETNOHISTORI: Jurnal Ilmiah Kebudayaan dan Kesejarahan Vol 7, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/etnohistori.v7i1.4093

Abstract

Objek Wisata Ake Sahu adalah jenis wisata alam, dan terdapat air panas yang tersedia secara alami di bibir pantai. Sejak tahun 2006 Pemerintah kota Tidore bersama masyarakat Kelurahan Tosa memulai mengembangkan potensi wisata Ake Sahu. Adapun aktivitas wisatawan seperti berenang di laut, berendam air panas, piknik keluarga, duduk bersama teman-teman sambil menikmati kopi.Selain dari itu tempat tersebut juga sering di gunakan oleh mahasiswa dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan wisata ilmiah. Studi yang dilakukan ini bertujuan untuk mengetahui 1). aktivitas kepariwisatawan di Objek Wisata Ake Sahu, 2). Respons masyarakat lokal terhadap keberadaan Objek Wisata Ake Sahu. Diharapkan studi ini secara teoritis dapat memperkaya studi dalam kajian-kajian antropologi terkait dengan pariwisata. Secara praktis diharapakan dapat bermanfaat bagi peneliti-peneliti yang berkeinginan untuk melakukan studi dengan kajian serupa. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat beberapa aktivitas yang dilakukan oleh wisatawan di Objek Wisata Ake Sahu, yang diantaranya berupa Batobo pante (mandi air laut), Batobo Ake Sahu (mandi air panas), makan-makan, memotret (foto-foto), ikat tali di pohon beringin, kumpul bersama keluarga dan pasangan. Masyarakat setempat merespons kehadiran pariwisata terlihat pada partisipasi mereka dalam kerja sama dalam membersihkan lokasi wisata, menyediakan barang-barang untuk kebutuhan wisatawan yang untuk di sewakan dan untuk dijual. Kata kunci: Pariwisata, Respons, Masyarakat Lokal, Ake Sahu, Tidore.
RITUAL ARUWAHANG PADA ORANG TERNATE DI TOGOLOBE, PULAU HIRI ASRUL LAMUNU; SAFRUDIN ABD. RAHMAN; DEWI APRIANI ACO
ETNOHISTORI: Jurnal Ilmiah Kebudayaan dan Kesejarahan Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/etnohistori.v7i2.4087

Abstract

Ternate is an historical Sultanate with a variety of cultures and traditions. An example of this is the Aruwahang death rite of the ethnic Ternate people of Togolobe, Hiri island. The people of Ternate also have a rich oral tradition, which is still practised today. Ethnic Ternate people uphold these adat (customary) norms and values. The wealth of these traditions serves as evidence that Ternate is a region capable of conserving its ancestral culture as well as giving meaning to the norms and values there of. In order that the meaning of the Aruwahang ritual be fulfilled, it is considered important that it be performed with strong adherence to customary procedure. Ternate people do not consider the Aruwahang to be merely a ceremonial procession, but as an essential ritual after a person’s death. The followers of the Aruwahang believe in the value and meaning that this ritual gives to the people of Ternate. The place the ritual takes place, the attendees (gogoro), the offering of adat food (ngogu adat), and other aspects of the ritual, are all considered to have an important meaning with regards to the life of an ethnic Ternate person. Ngogu adat, usually called jaha se kukusan by the local people, is based upon symbols of life, death and faith in God. This study was conducted in Togolobe village, Hiri Island sub-district, North Maluku. Qualitative data were collected from observation, in-depth interviews, and other technical documentation provided by the study subjects. The study was conducted in four stages: study design, data collection, data analysis, and presentation of results. The data analysis was performed in three stages: data reduction, data display, and conclusion drawing and verification. Two principal conclusions were derived from our study. Firstly, the Aruwahang ritual is an attractive and unique ancestral inheritance that must be maintained by the ethnic Ternate people. Secondly, that Aruwahang is a religious death rite (dina) that is still faithfully practiced today. Kata kunci: Aruwahang ritual, ngogu adat, dina, symbolism 
“TOKUWELA” PERMAINAN RAKYAT PADA ORANG GALELA ISRAH SOLEMAN; ANDI SUMAR KARMAN; DEWI APRIANI ACO
ETNOHISTORI: Jurnal Ilmiah Kebudayaan dan Kesejarahan Vol 7, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/etnohistori.v7i1.4095

Abstract

Tokuwela merupakan satu permainan orang Galela yang biasanya dimainkan  dengan jumlah pemain yang banyak dari 20 sampai 40 0rang dan berpasang-pasangan antar laki-laki dan perempuan yang saling berpegangan tangan sehingga bisa menopang seorang anak dan berjalan diatasnya, permainan tokuwela adalah permainan  yang diwariskan secara turun temurun yang mengandung nilai-nilai peradaban. Tujuan dan manfaat penelitian ini adalah 1). Untuk mengetahui eksistensi seni tradisi permainanTokuwela pada orang Galela Desa Igobula, 2). Untuk menggambarkan faktor-faktor yang mempengaruhi keberadaan Tokuwela pada orang Galela di Desa Igobula Kecamatan Galela selatan. Sedangkan manfaat dari penelitian ini yaitu secara teoritis diharapkan dapat memberikan kontribusi pada pemikiran dalam dunia akademik dan menambah khazanah keilmuan kita di bidang karya tulis ilmiah dan dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara sehingga lebih menekankan kepada masyarakat Desa Igobula tentang pentingnya merawat tradisi Permainan Tokuwela. Berdasarkan hasil penelitian ini ditemukan bahwa tradisi Permainan Tokuwela yang ada pada orang Galela khususnya di desa Igobula mengandung  makna  tentang  semangat  kebersamaan,  persaudaraan, tanpa membeda-bedakan kelompok dan golongan dalam setiap kegiatan yang dilakukan pada orang Galela. Saat ini permainan Tokuwelasudah jarang di pertunjukan oleh masyarakat Galela lebih khususnya masyarakat Desa Igobula yang merupakan tempat asal lahirnya Permainan Tokuwela ini.Eksistensi Tokuwela saat ini pada orang Galela telah hilang mereka sudah tidak menampilkan lagi pada setiap acara-acara adat seperti pelantikan kepala Desa dan penyambutan tamu. Kedua faktor yang mempengaruhi kepunahan permainan tokuwela pada orang Galela adalah kurangnya respon masyarakat untuk melestarikan permainan ini khususnya generasi muda saat ini disebabkan karena pengaruh sosial budaya yang terjadi saat ini. Kata Kunci :Permainan, Tokuwela, Orang Galela