Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PARENTING DAN HAK ASASI ANAK PERSPEKTI F KYAI DI PONOROGO Maulidia, Rahmah
Kodifikasia Vol 5, No 1 (2011)
Publisher : Kodifikasia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gabriela Mistral, pendidik, diplomat dari Chile, penerima nobelsastra 1945, mengatakan bahwa “esok sudah terlambat, yangterpenting buat anak adalah hari ini. Hari ini tulang anak sedangdibentuk, darahnya sedang dibuat, dan perasaannya sedangdibangun.” Pernyataan ini membangunkan komitmen seluruhmanusia untuk peduli pada anak hari ini. Karena mereka adalahmakhluk rentan yang tidak punya kuasa untuk melawan hegemonimanusia dewasa.Indonesia juga telah meratifikasi Konvensi Hak Anak. Ada empatprinsip utama dalam Konvensi Hak Anak (KHA) tersebut: 1). Nondiskriminasi; 2). Prinsip yang terbaik bagi anak ; 3). Hak untukhidup dan berkembang, serta 4). Hak untuk ikut berpartisipasi. Yangdimaksud dengan prinsip non-diskriminasi artinya tidak membedakananak berdasarkan asal-usul, suku, agama, ras dan sosial ekonomi.Sedangkan yang dimaksud dengan prinsip kepentingan terbaik bagianak adalah bahwa dalam semua tindakan yang menyangkut anakyang dilakukan oleh pemerintah, masyarakat, badan legislatif, danbadan yudikatif, maka kepentingan yang terbaik bagi anak harusmenjadi pertimbangan utama.Penelitian ini menelaah parenting perspektif kyai, dengan tigapertanyaan inti yang diajukan yaitu; pertama, bagaimanapandangan para kyai tentang konsep parenting dan Hak AsasiAnak; Kedua, bagaimana dan sejauhmana peran kyai membangunkesadaran parenting, hak asasi dan perlindungan anak, ketiga,bagaimana pendapat mereka melihat fenomena sosial menyangkutpekerja anak (child labour), pekerja seks anak (prostituted children),perdagangan anak (child trafficking), perlakuan kekerasan (violation)dan penyiksaan (turtore) terhadap anak.Masing-masing kyai memiliki konsep yang khas tentang parenting dan HAM anak. Argumentasi yang dibangun dideduksi dari al-Qur’andan hadis. Dalil yang digunakan adalah surah al-Fatihah, QS at-Tahrim : 6, QS. Al-A’raf : 189, QS al-Baqarah : 233, dan hadishadispendidikan. Semua kyai memprihatinkan kasus kekerasanseksual dan pemukulan pada anak. Namun peran keterlibatan dansosialisasi yang dilakukan minimalis. Menurut mereka persoalanini dapat diselesaikan dengan membangun sikap orangtua yangberilmu (well-educated). Namun solusi yang ditawarkan ini belummenjadi aksi nyata dengan membentuk wadah sekolah parentingbagi orangtua atau sejenisnya.
Fiqh Parenting Dan HAk Asasi Anak Perspektif Kyai Di Ponorogo Maulidia, Rahmah
Kodifikasia Vol 5, No 1 (2011)
Publisher : IAIN PONOROGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.987 KB) | DOI: 10.21154/kodifikasia.v5i1.754

Abstract

Abstrak: Artikel  ini  akan  menelaah  parenting  perspektif  kyai,  dengan tiga pertanyaan inti yang diajukan, yaitu pertama, bagaimana pandangan para kyai tentang konsep parenting dan Hak Asasi Anak; Kedua, bagaimana  dan  sejauhmana  peran  kyai  membangun  kesadaran parenting,  hak  asasi  dan perlindungan  anak;  ketiga,  bagaimana pendapat mereka melihat fenomena sosial menyangkut pekerja anak (child labour), pekerja seks anak (prostituted children), perdagangan anak  (child  trafficking),  perlakuan  kekerasan  (violation)  dan penyiksaan  (turtore)  terhadap  anak.  Masing-masing  kyai  memiliki konsep  yang  khas  tentang  parenting  dan  HAM  anak. Argumentasi yang  dibangun  dideduksi  dari  al-Qur?an  dan  hadis.  Dalil  yang digunakan adalah surah al-Fatihah, QS al-Tahrim: 6, QS. al-A?raf: 189, QS: al-Baqarah: 233, dan hadis-hadis pendidikan.Semua kyai memprihatinkan  kasus  kekerasan  seksual  dan  pemukulan  pada anak.  Namun  peran  keterlibatan  dan  sosialisasi  yang  dilakukan masih  minim.  Menurut  mereka  persoalan  ini  dapat  diselesaikan dengan  membangun  sikap  orangtua  yang  berilmu  (well-educated). Namun solusi yang ditawarkan ini belum menjadi aksi nyata dengan membentuk wadah sekolah parenting bagi orangtua atau sejenisnya.
VISI ZAKAT PADA PEMENUHAN HAK PENDIDIKAN ANAK Maulidia, Rahmah
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam Vol 17 No 1 (2012): Pluralisme dan Multikulturalisme dalam Bingkai Masyarakat Madani
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini membahas optimalisasi visi dan peran zakat sebagai penggerak pembangunan bangsa. Serta agen perubahan di bidang sosial, ekonomi, pendidikan, terutama dalam pemenuhan hak atas pendidikan bagi anak-anak. Di tengah-tengah masalah yang dialami anak-anak di Indonesia, dalam bentuk kekerasan fisik dan psikologis, putus sekolah, dan pelacuran anak, upaya serius telah dilakukan lembaga zakat di negara dengan serangkaian program pendidikan seperti beasiswa dan pembentukan sebuah sekolah gratis bagi anak- anak miskin. Langkah-langkah konkret selaras dengan pemikiran Gabriela Mistral, pemenang Nobel dan diplomat pendidik dari Chili, yang mengatakan bahwa besok sudah terlambat, hal yang paling penting bagi anak-anak saat ini. Hari tulang anak terbentuk, darahnya sedang dibuat, dan perasaannya sedang dibangun). This article discusses the optimization of the vision and the role of zakat as a driving the development of the nation. As well as agents of change in the social, economic, educational, especially in the fulfillment of the right to education for children. In the midst of the problems that plagued children in Indonesia, in the form of physical and psychological violence, dropout, and child prostitution, serious attempts have been made by zakat institutions in the country with a series of education programs such as scholarships and the establishment of a free school for poor children. The concrete steps in tune with the thinking of Gabriela Mistral, Nobel laureate and diplomat educators from Chile, who said that tomorrow was too late, the most important thing for children is today. Today the child bone being formed, his blood is being made, and his feelings are being built.