Sri Mulyati
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The Concept of Miracle in the Qur'an Form Mohammed Arkoun's Point of View Sri Mulyati
Refleksi Vol 2, No 3 (2000): Refleksi
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6671.926 KB) | DOI: 10.15408/ref.v2i3.14343

Abstract

The concept of Qur'an as a miracle of Muhammad is an Islamic doctrine that has engaged Muslim thinkers for many generations, with the literature on the issue of i'jaz continuing to grow from the third/ninth century onward.
The Concept of Miracle in the Qur'an Form Mohammed Arkoun's Point of View Sri Mulyati
Refleksi: Jurnal Kajian Agama dan Filsafat Vol 2, No 3 (2000): Refleksi
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ref.v2i3.14343

Abstract

Artikel ini mengkaji konsep i’jaz al-Qur’an, atau mukjizat Al-Qur’an, yang telah menjadi topik diskusi di kalangan pemikir Muslim selama berabad-abad. Al-Qur’an menantang manusia dan jin untuk menghasilkan teks yang setara dengannya, tantangan yang belum pernah berhasil dijawab (QS. [17]: 88). Konsep ini dikenal sebagai tahaddi dan merupakan aspek utama dari keunikan serta ketidakmampuan untuk meniru Al-Qur’an. Berbagai ulama Muslim, seperti al-Nazzam, al-Jahiz, al-Rummani, hingga al-Zamakhshari, telah menyumbangkan teori-teori yang beragam mengenai i’jaz, termasuk teori Sarfa dan nazm. Dalam pandangan modern, Mustafa Sadiq al-Rafi’i dan Sayyid Qutb menekankan ketidakmampuan manusia untuk meniru Al-Qur’an, sementara Bint al-Shati melihat Al-Qur’an sebagai karya yang tidak bisa diklasifikasikan sebagai prosa atau puisi. Di era kontemporer, meskipun tafsir Al-Qur’an sebagian besar masih tradisional, pemikir seperti Fazlur Rahman dan Mohammed Arkoun terus berkontribusi pada diskusi mengenai i’jaz. Kesimpulannya, i’jaz tetap menjadi topik penting dalam kajian Al-Qur’an, yang mencakup aspek teologis, estetis, dan linguistik.