This Author published in this journals
All Journal Saraswati
Ragil Surya Mega
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

REPRESENTASI ANAK-ANAK DI DALAM PERANG Ragil Surya Mega
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Murni
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.702

Abstract

Situasi yang terjadi pada anak-anak di dalam perangĀ  menimbulkan empati yang mendalam, selain mengancam jiwa, perang berbahaya secara psikologis bagi anak-anak. 'Berhadapan terus menerus dengan bom, roket, senjata, dan darah bisa menjadi faktor utama trauma dan tekanan mental'.[1] keadaan yang jauh dari kata indah menimbulkan permasalahan tersendiri dalam pemilihan tematik untuk penciptaan karya seni lukis, namun menjadi menarik karena, 'Sesungguhnya tidak perlu diulang-ulang dan diributkan bahwa seni tidaklah harus selalu indah. Baik pandangan historis maupun secara sosiologis, ternyata bahwa hasil seni sering-sering merupakan yang tidak indah'.[2] Terlahirnya gagasan ini dalam sebagian karya terpicu dari kegiatan kehidupan sehari-hari. Diantaranya melihat anak-anak yang sedang bermain lompat tali, lalu menumbuhkan imajinasi seperti meminjam sosok anak bermain lompat tali diantara ranjau darat di daerah perang dalam bahasa visualnya. Dalam ide yang lainnya, melihat anak-anak yang sedang bermain bongkar pasang seperti action figure dan meminjam kerangka mainan itu sendiri digantikan dengan anak nyata sebagai pengganti action figure tersebut. Berkenaan dengan ini, sependapat dengan Marcia Muelder Eaton, yaitu 'kondisi keharusan (necessary condition) dan kondisi yang mencukupi (sufficient condition) untuk menunjukan bahwa sesuatu adalah objek, kegiatan, pengalaman, atau situasi estetis'.[3] Dengan demikian, mengasah kepekaan diri tidak menutup mata juga pada pengalaman empiris yang banyak dilihat pada pameran seni rupa di luar seni lukis. Mengangkat karya penciptaan yang bertemakan sosial khususnya anak-anak korban perang bukan suatu kebetulan, yang pada dasarnya adalah penafsiran, dimana tafsir merupakan 'persoalan yang menyangkut apa yang baik dan tak baik, yang adil dan tak adil, berguna dan tak berguna, juga persoalan otoritas dan kebebasan'.[4] Sejalan dengan hal ini, menciptakan sebuah karya dari fenomena lingkungan sekitar yang terjadi, khususnya pada anak-anak di dalam negara konflik perang sebagai sumber inspirasi. Dengan menemukan sudut pandang yang menarik dari sebuah polemik perang yang tak berkesudahan sebagai sebuah usaha interpretasi kegelisahan yang dirasakan pada diri sendiri selama menempuh studi seni lukis ini.