Kuskus merupakan hewan yang mempunyai status konservasi rentan (vulnerable) dan informasi ilmiahnya belum banyak diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil reproduksi jantan Phalanger orientalis dan Spilocuscus papuensis. Testis dan epididimis dikoleksi dan dilakukan pengukuran, kemudian dimaserasi pada bagian cauda epididimis. Pengamatan makroskopis meliputi pengukuran panjang, lebar, berat testis dan epididimis, sedangkan pengamatan mikroskopis meliputi pengukuran panjang kepala, lebar kepala, panjang ekor, panjang total, konsentrasi, dan abnormalitas spermatozoa. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa morfometri spermatozoa P. orientalis meliputi panjang kepala 3,37 ± 0,32 μm; lebar kepala 1,42 ± 0,20 μm; panjang ekor 56,37 ± 5,24 μm; dengan panjang total spermatozoa 59,75 ± 5,20 μm. Sementara itu, morfometri spermatozoa S. papuensis meliputi panjang kepala 3,92 ± 0,91 μm; lebar kepala 3,02 ± 0,65 μm; panjang ekor 54,37 ± 12,12 μm; dan panjang total spermatozoa 58,29 ± 12,14 μm. Tingkat konsentrasi spermatozoa S. papuensis mencapai 51 x 105/mL lebih tinggi jika dibandingkan dengan konsentrasi spermatozoa P. orientalis yang hanya 8,5 x 105/mL. Abnormalitas spermatozoa kedua sampel hampir sama, yaitu pada S. papuensis sebesar 35,82% dan pada S. papuensis 37,36%. Di samping itu, S. papuensis memiliki ukuran testis yang lebih besar jika dibandingkan dengan P. orientalis.Kata kunci: Kuskus, Phalanger orientalis, reproduksi, spermatozoa, Spilocuscus papuensis.