Ellies Sukmawati
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

FILOSOFI SISTEM KEKERABATAN MATRILINEAL SEBAGAI PERLINDUNGAN SOSIAL KELUARGA PADA MASYARAKAT MINANGKABAU Ellies Sukmawati
EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol 8, No 1 (2019): Empati Edisi Juni 2019
Publisher : Social Welfare Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/empati.v8i1.16403

Abstract

Abstract. Minangkabau is one of the tribes in Indonesia using matrilineal as a kinship system in which the formation of lineage is arranged according to the female line. The Minangkabau kinship system uses a “Gadang” house as its symbol. The inheritance inherited by the family in the form of a “Gadang” house and assets in agriculture and fisheries to be managed and utilized together by one family (a “paruik”). Every female lineage in the family has the right to live in a “Gadang” house and their children are raised on funding from inheritance. The shared responsibility (communal) in the Minangkabau matrilineal system is seen in the supervision model applied in it, where the task of supervising and educating children in the matrilineal family is the mother and her mother’s brothers (mamak), as well as adults others inside the “Gadang” house. This study combines social protection systems with the philosophy of the Minangkabau matrilineal kinship system which can play a role in protecting the community from social problems that can disrupt the stability of the welfare of a family. But over time this matrilineal system has faded, but the symbols of the system of Gadang house can still be seen in the Minangkabau community, including those who have migrated and settled outside West Sumatra.   Abstrak. Minangkabau merupakan salah satu suku di Indonesia mempergunakan matrilineal sebagai sistem kekerabatannya di mana pembentukan garis keturunan diatur menurut garis perempuan. Sistem kekerabatan Minangkabau mempergunakan rumah gadang sebagai simbolnya. Harta pusaka yang diwariskan oleh keluarga berupa rumah gadang dan aset di bidang pertanian maupun perikanan untuk dikelola dan dimanfaatkan secara bersama oleh satu keluarga (sabuah paruik). Setiap keturunan perempuan dalam keluarga berhak untuk menghuni rumah gadang dan anak-anak mereka dibesarkan dengan pembiayaan dari harta pusaka. Tanggung jawab bersama (communal) di dalam sistem matrilineal Minangkabau terlihat pada model pengawasan yang diterapkan di dalamnya, di mana yang bertugas mengawasi dan mendidik anak-anak dalam keluarga matrilineal adalah ibu dan saudara laki-laki ibunya (mamak), serta orang-orang dewasa lainnya di dalam rumah gadang. Penelitian ini menggabungkan sistem perlindungan sosial dengan filofosi sistem kekerabatan matrilineal Minangkabau yang dapat berperan untuk memproteksi masyarakat dari permasalahan sosial yang dapat mengganggu stabilitas kesejahteraan suatu keluarga. Namun seiring waktu sistem matrilineal ini telah semakin memudar, namun simbol-simbol sistem rumah gadang masih dapat terlihat pada masyarakat Minangkabau, termasuk dengan mereka yang telah merantau dan menetap di luar Sumatera Barat.  
EVALUASI PROGRAM PEKARANGAN PANGAN LESTARI (P2L) KELOMPOK WANITA TANI DI KOTA BOGOR Ellies Sukmawati; Siti Syamsiah
EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol 13, No 1 (2024): Empati Edisi Juni 2024
Publisher : Social Welfare Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/empati.v13i1.28391

Abstract

Abstract. P2L is a productive activity that empowers the community, especially housewives so that they are able to meet the availability of family food while supporting the household economy, but in its implementation, there are obstacles that prevent P2L from achieving its goals. The purpose of the study was to evaluate the performance of the P2L program based on aspects of inputs, outputs and outcomes in the Mekar Saluyu Farmer Women's Group (KWT) located in Bogor City. The evaluation of this P2L program uses a logic model with a quantitative approach and descriptive analysis of research data. The evaluation results stated that KWT Mekar Saluyu has implemented the P2L program well, this is indicated by an increase in knowledge, skills and attitudes of KWT members to optimize yard land management for P2L activities so that it has an impact on reducing spending on vegetables because it has been fulfilled from P2L results, but limited arable land area results in vegetable production capacity is not optimal.Keywords: P2L, KWT, evaluation of logic model. Abstrak. P2L merupakan kegiatan produktif yang memberdayakan masyarakat, khususnya ibu-ibu rumah tangga agar mereka mampu mencukupi ketersediaan pangan keluarga sekaligus menunjang ekonomi rumah tangga, namun dalam pelaksanaannya terdapat kendala yang menghambat P2L mencapai tujuannya. Tujuan penelitian adalah mengevaluasi kinerja program P2L berdasarkan aspek input, output dan outcome di Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekar Saluyu yang berada di Kota Bogor. Evaluasi program P2L ini menggunakan logic model dengan pendekatan kuantitatif dan analisis deskriptif terhadap data penelitian. Hasil evaluasi menyebutkan KWT Mekar Saluyu telah melaksanakan program P2L dengan baik, ditandai dengan peningkatan pengetahuan, keterampilan dan sikap anggota KWT mengoptimalkan pengelolaan lahan pekarangan untuk kegiatan P2L sehingga berdampak kepada berkurangnya pengeluaran belanja untuk sayuran karena telah terpenuhi dari hasil P2L, namun keterbatasan luas lahan garapan mengakibatkan kapasitas produksi sayuran belum optimal.  Kata Kunci: P2L, KWT, evaluasi logic model.