This Author published in this journals
All Journal Sari Pediatri
Lelani Reniarti
Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/RS Dr. Hasan Sadikin Bandung

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Kekerapan Transfusi Darah dengan Kejadian Kolelitiasis dan Biliary Sludge pada Pasien Talassemia Mayor Anak Dandy Utama Jaya; Lelani Reniarti; Alex Chairulfatah
Sari Pediatri Vol 12, No 4 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp12.4.2010.217-21

Abstract

Latar belakang. Kolelitiasis (batu kandung empedu) merupakan penyakit kandung empedu yang dapatterjadi pada talassemia. Biliary sludge (pelumpuran kandung empedu) merupakan keadaan yang dapatmenjadi kolelitiasis. Perubahan fungsi kandung empedu akibat penumpukan besi dan peningkatan kadarbilirubin serum akan mempermudah terjadinya kolelitiasis dan biliary sludge.Tujuan.Mengetahui hubungan kekerapan transfusi darah dengan kejadian kolelitiasis dan biliary sludgepada talassemia mayor anak.Metode. Penelitian menggunakan rancangan analitik cross-sectional. Subjek penelitian adalah pasienthalassemia mayor anak di Poliklinik Talassemia RS Hasan Sadikin Bandung berusia 5−14 tahun pada bulanJuni−Agustus 2010. Pada setiap subjek dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisis, pemeriksaan kadar feritindan bilirubin indirek serum serta pemeriksaan ultrasonografi hepatobilier. Analisis statistik menggunakanuji komparasi eksak Fisher, uji t tidak berpasangan dan uji Mann-Whitney.Hasil. Sejumlah 60 subjek memenuhi kriteria penelitian. Kadar rata-rata feritin serum dan bilirubin indirekserum pada subjek yang mengalami kolelitiasis dan biliary sludge dibandingkan dengan yang tidak mengalami,tidak ditemukan perbedaan yang bermakna secara uji statistik (5682 vs 5113,9; 1,19 vs 1,12; p>0,05). Didapatkan6/60 subjek yang mengalami kolelitiasis dan biliary sludge, yaitu 3/60 subjek mengalami kolelitiasis,2/60 subjek mengalami biliary sludge dan 1/60 subjek mengalami kolelitiasis dan biliary sludge Ditemukanperbedaan yang bermakna pada kejadian kolelitiasis dan biliary sludge antara pasien yang mendapat intervaltransfusi darah 􀁤3 minggu dibandingkan dengan >3 minggu (p<0,05).Kesimpulan. Terdapat hubungan kekerapan transfusi darah dengan kejadian kolelitiasis dan biliary sludgepadatalassemia mayor anak.
Hubungan Jumlah Limfosit Plasma Biru dengan Spektrum Klinis dan Perannya dalam Memprediksi Perubahan Spektrum Klinis Infeksi Dengue pada Anak Dewi Mulyani Irianti; Lelani Reniarti; Azhali MS
Sari Pediatri Vol 10, No 5 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.5.2009.325-30

Abstract

Latar belakang. Infeksi dengue mempunyai spektrum klinis yang luas. Limfosit plasma biru (LPB) sebagairespons imun selular yang khas pada infeksi dengue, berpotensi untuk digunakan sebagai prediktor perjalananklinis infeksi dengue.Tujuan. Untuk mengetahui hubungan jumlah LPB dengan perjalanan klinis infeksi dengue dan mengetahuiperan LPB dalam memprediksi perubahan klinis infeksi dengue pada anak.Metode. Dilakukan penelitian comparative longitudinal study di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RS dr. HasanSadikin Bandung pada September-November 2007. Pasien anak umur kurang dari 14 tahun yang memenuhikriteria klinis demam dengue (DD), demam berdarah dengue (DBD), dan sindrom syok dengue (SSD)menurut WHO (1997) disertai bukti infeksi dengue secara serologis dipilih secara konsekutif dan pemeriksaanLPB dilakukan pada saat kedatangan, dilanjutkan pada hari ke-5, ke-6, dan ke-7 sakit. Analisis statistikdilakukan dengan uji ANOVA, ratio correlation 􀁈 (eta), dan penghitungan odds ratio.Hasil. Didapatkan 66 anak dengan diagnosis awal 43 pasien DD, 2 DBD, dan 21 SSD. Selanjutnya 20pasien DD berubah menjadi DBD. Rata-rata jumlah LPB pasien DD, DBD, dan SSD berturut-turut adalah4,3; 9,1; dan 16,4; dengan perbedaan yang bermakna (p=0,000). Pasien yang mengalami perubahan tipeklinis memiliki jumlah LPB saat kedatangan lebih tinggi dari yang tidak mengalami perubahan, dengancut off point 􀁴6 LPB per 100 leukosit(p=0,000 dan OR=2,096).Kesimpulan. Terdapat hubungan antara jumlah LPB dan perjalanan klinis infeksi dengue, semakin beratkeadaan klinis semakin tinggi jumlah LPB. Jumlah LPB saat kedatangan pasien berobat dapat dijadikanprediktor perubahan klinis.