Ismiranti Andarini
Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret/RSUD Dr. Moewardi, Surakarta

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Hubungan Parameter Antropometri dengan Nilai Arus Puncak Ekspirasi pada Remaja di Surakarta David Anggara Putra; Harsono Salimo; Ismiranti Andarini
Sari Pediatri Vol 20, No 6 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.471 KB) | DOI: 10.14238/sp20.6.2019.349-53

Abstract

Latar belakang. Obesitas saat ini menjadi tantangan utama bagi tenaga kesehatan. Prevalensi anak dan remaja dengan obesitas semakin meningkat. Keadaan obesitas berpengaruh pada beberapa parameter fisiologi sistem pernapasan. Salah satu indikator penilaian status respirasi dengan menggunakan nilai arus puncak ekspirasi. Penelitian tentang obesitas dan sistem pernapasan pada anak masih kontroversial. Tujuan. Untuk mengetahui hubungan parameter antropometri dengan nilai arus puncak ekspirasi pada remaja.Metode. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan menggunakan studi potong lintang. Subjek penelitian merupakan siswa SMP usia 13 tahun sampai 18 tahun diambil mulai bulan September - Desember 2018. Pengambilan subyek penelitian dengan simple random sampling. Variabel bebas adalah antropometri meliputi berat badan, tinggi badan, indeks masa tubuh serta lingkar pinggang sedangkan variabel terikat adalah nilai arus puncak ekspirasi. Hasil. Subyek penelitian berjumlah 134 siswa dengan laki-laki 57 (42,5%) dan perempuan 77 (52,5%). Hasil analisis bivariat menunjukkan berat badan, tinggi badan, indeks masa tubuh dan lingkar pinggang berhubungan signifikan secara statistik dengan nilai p, yaitu 0,040; <0,001; <0,001; <0,001. Dari analisis multivariat diketahui berat badan, tinggi badan, umur, lingkar pinggang dan IMT secara bersama-sama berpengaruh dengan nilai arus puncak ekspirasi (r2=0,370; p<0,001)Kesimpulan. Semakin tinggi nilai antropometri (berat badan, indeks masa tubuh dan lingkar pinggang} mempunyai nilai arus puncak ekspirasi semakin rendah.
Analisis Deskriptif Temuan Klinis, Laboratorium, dan Radiologis Pasien Anak dalam Pemantauan Covid-19 di Rumah Sakit Dr. Moewardi Rizki Sulistyanto; Ismiranti Andarini Ismiranti Andarini; Annang Giri Moelyo Annang Giri Moelyo
Sari Pediatri Vol 24, No 5 (2023)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp24.5.2023.314-19

Abstract

Latar belakang. Indonesia melaporkan kasus konfirmasi Covid-19 pertama kali pada tanggal 2 Maret 2020, dan beberapa daerah telah dinyatakan telah terjadi transmisi lokal. Data mengenai gambaran penyakit Covid-19 pada anak sangat terbatas. Tujuan. Mengetahui gambaran klinis, laboratorium dan radiologis PDP (Pasien Dalam Pemantuan) anak di Rumah Sakit dr. Moewardi Surakarta.Metode. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik, dilakukan di Rumah Sakit dr. Moewardi Surakarta. Kriteria inklusi adalah pasien anak yang dirawat di ruang Isolasi Rumah Sakit dr. Moewardi Surakarta, antara bulan April-Oktober 2020.Kriteria eksklusi yaitu pasien meninggal dunia sebelum dilakukan swab tenggorokan. Hasil. Penelitian ini menggunakan data rekam medis, didapatkan 194 subyek penelitian, 36 pasien terkonfirmasi Covid-19. Usia rerata pasien terkonfirmasi covid adalah 4.61+5.93 tahun. Dari gejala klinis, temuan laboratorium, dan temuan radiologi tidak menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan (p>0,05). Pasien terkonfirmasi Covid-19 didapatkan faktor komorbid (p=0,001), diantaranya kardiovaskuler (6%) dan CNS (14%).Kesimpulan. Tidak ada gambaran khas pada pasien anak terkonfirmasi Covid-19.
Fulfilment minimum acceptable diet, exclusive breastfeeding, and infectious disease with stunting Putri, Rokhiyatul Maila; Sumardiyono, Sumardiyono; Andarini, Ismiranti
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 13 ISSUE 3, 2025
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2025.13(2).169-178

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Stunting adalah kondisi yang menyebabkan kegagalan pertumbuhan selama 1000 hari pertama kehidupan karena kekurangan nutrisi yang berlangsung lama. Kabupaten Brebes merupakan wilayah dengan angka stunting tertinggi di Jawa Tengah yaitu sebesar 29.1%. Stunting dipengaruhi langsung oleh status infeksi anak serta konsumsi zat gizi makro maupun mikro.Tujuan: Studi ini menyelidiki bagaimana Minimum Acceptable Diet (MAD), ASI eksklusif, dan penyakit infeksi berkorelasi dengan stunting pada anak-anak berusia 6 hingga 23 bulan di Kabupaten Brebes.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan data sekunder hasil dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022 dengan desain potong lintang (cross-sectional). Penelitian ini dilakukan pada kelompok anak berusia 6 hingga 23 bulan yang terdaftar di SSGI 2022 Kabupaten Brebes. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 189 anak yang didapatkan dari total sampling berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi. Data dianalisis secara univariat dengan tabel distribusi frekuensi, bivariat dengan uji Chi-Square, dan multivariat dengan uji regresi logistik biner. Hasil: Balita yang tidak mencapai MAD berisiko 1.30 kali mengalami stunting dan balita yang memiliki riwayat penyakit infeksi memiliki risiko 1.33 kali terkena stunting namun tidak signifikan secara statistik (p-value >0.05). Tidak signifikan variabel tersebut dapat disebabkan karena MAD yang dipengaruhi oleh beberpa faktor seperti pendidikan ibu dan ayah, kunjungan antenatal, dan tempat tinggal serta definisi penyakit infeksi yang terlalu luas. Hubungan yang tidak signifikan antara MAD dan stunting mungkin juga disebabkan oleh bias dalam pengukuran MAD, yang mengandalkan ingatan akan asupan makanan selama 24 jam terakhir. Sedangkan,balita tidak ASI eksklusif dapat meniurunkan risiko stunting 2.38 kali dan signifikan secara statistik (p-value 0.013). Kesimpulan: Tidak terdapat korelasi antara MAD dan penyakit infeksi dengan stunting namun terdapat korelasi yang signifikan antara ASI eksklusif terhadap stunting. KATA KUNCI: ASI eksklusif; minimum acceptable diet; penyakit infeksi; stunting  ABSTRACTBackground: Stunting is a condition resulting from long-term malnutrition, leading to growth failure within the first 1,000 days of life. Brebes Regency has the highest stunting rate in Central Java, at 29.1%. The child's level of infection and the amount of macro- and micronutrients they consume directly impact stunting. Objectives: This study aims to analyze the relationship between the Minimum Acceptable Diet (MAD), exclusive breastfeeding, and infectious diseases with stunting among children aged 6-23 months in Brebes Regency. Methods: This quantitative study utilized secondary data from the 2022 SSGI and employed a cross-sectional design. The study population consisted of children aged 6-23 months, as recorded in the 2022 Indonesian Nutritional Status Survey (SSGI) data for Brebes Regency. A total of 189 children were included in the study, selected through total sampling based on inclusion and exclusion criteria. Data were analyzed univariately with a frequency distribution table, bivariately with a Chi-Square test, and multivariately with a binary logistic regression test.Results: Toddlers who do not reach the MAD have a 1.30 times risk of experiencing stunting, and toddlers with a history of infectious diseases have a 1.33 times risk of stunting, but this is not statistically significant (p-value >0.05). This variable is insignificant because MAD is influenced by several factors, such as the mother's and father's education, antenatal visits, and place of residence, as well as a definition of infectious disease that is too broad. The insignificant relationship between MAD and stunting may also result from biases in measuring MAD, which rely on the recall of food intake over the past 24 hours. Meanwhile, toddlers who are not exclusively breastfed can increase the risk of stunting 2.38 times, and it is statistically significant (p-value 0.013). Conclusion: Stunting is not correlated with either MAD or infectious disease; however, it is significantly associated with exclusive breastfeeding.  KEYWORDS: exclusive breastfeeding; infectious diseases; minimum acceptable diet; stunting