This Author published in this journals
All Journal SOLUSI Tematik
Eddy Sutjipto
Universitas Semarang

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

KINERJA PASAR TRADISIONAL SEBELUM DAN SESUDAH ADANYA TOKO MODERN DENGAN PENDEKATAN BALANCED SCORECARD (STUDI KASUS DI KOTA SEMARANG) Retno Wijayanti; Eddy Sutjipto
Solusi Vol 8, No 3 (2009)
Publisher : Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/slsi.v8i3.1957

Abstract

Era pasar bebas yang terjadi saat ini membuat persaingan di dunia bisnis berkembang dengan pesat dalam persaingan yang ketat. Untuk itu dibutuhkan suatu organisasi bisnis yang tangguh dan kompetitif agar mampu bersaing dengan unggul. Tiap aspek yang dijalankan perlu pengukuran agar dapat ditentukan tingkat keberhasilannya. Setiap badan usaha diperlukan suatu pengukuran kinerja untuk mengetahui tingkat keberhasilannya. Robert S. Kaplan dan David P. Norton mengembangkan suatu alat analisa pengukuran kinerja perusahaan yang mencerminkan keseimbangan jangka pendek dan jangka panjang, yaitu pengukuran kinerja keuangan dan non keuangan. Alat analisa tersebut dinamakan Balanced Scorecard.Penelitian dengan menggunakan Balanced Scorecard ini dilakukan pada para Pedagang Tradisional di pasar Johar, pasar Peterongan, dan pasar Bulu. Jenis data yang digunakan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari penyebaran kuesioner dengan sampel 100 pelanggan dan 75 karyawan. Pengambilan sampel dengan menggunakan random acak. Sedangkan data sekunder diperoleh dari hasil wawancara berdasarkan catatan-catatan kecil dari tiap transaksi tiap harinya. Metode analisis data dengan menggunakan analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dengan menggunakan kuesioner dan analisa kuantitatif dengan menggunakan Balanced Scorecard yang mengukur kinerja perusahaan dengan menggunakan empat perspektifnya. Adapun keempat perspektif tersebut yaitu; (1) perspektif keuangan dengan ROI dan Operating Profit Margin, (2) perspektif pelanggan diukur dengan pangsa pasar, retensi pelanggan dan kepuasan pelanggan, (3) perspektif proses bisnis internal diukur dari tingkat bisnis internal dan pelayanan purna jual, (4) perspektif pembelajaran dan pertumbuhan dari kepuasan karyawan dan retensi karyawan.Hasil pengukuran kinerja Balanced Scorecard pada para pedagang tradisional di pasar Johar, pasar Peterongan dan pasar Bulu dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat variasi pencapaian untuk tiap perspektif. Untuk perspektif keuangan, menggunakan ROI dan OPM menunjukkan kinerja yang belum optimal. Perspektif pelanggan sebelum ada toko modem cukup optimal dalam mempertahankan pelanggannya. Tetapi sesudah ada toko modem mengalami penurunan karena banyak pelanggan yanglari ke toko modern. Sedangkan dari kepuasan pelanggan menunjukkan pelanggan cukup puas terhadap produk yang ditawarkan dan pelayanan jasa yang diberikan. Untuk perspektif proses bisnis internal memiliki kemampun untuk menghasilkan jasa atau pelayanan yang cukup berkualitas berkat adanya fasilitas, teknologi dan SOM yang baik. Perspektif pertumbuhan dan pembelajaran menunjukkan hasil yang cukup baik walaupun dengan tingkat retensi karyawan rendah.Kata kunci: Pasar Tradisionil, Toko Modem dan Balance Score Card
PENGARUH MODAL KERJA, MODAL TETAP, PENDAPATAN, LAMA USAHA DAN UMUR PENGUSAHA TERHADAP PENYERAPAN TENAGA KERJA (STUDI KASUS PADA LNDUSTRI TEMPE DI DESA KROBOKAN, KECAMATAN CANDISARI, KOTA SEMARANG) M. Saroji; Eddy Sutjipto
Solusi Vol 8, No 2 (2009)
Publisher : Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1219.548 KB) | DOI: 10.26623/slsi.v8i2.1942

Abstract

Sejak tidak berperannya Kopti dalam pengadaan kedelai yaitu mulai tahun 1998 karena adanya Undang Undang Antimonopoli, maka sektor usaha kecil tahu dan tempe mengalami kesulitan mendapatkan kedelai dan karena harga kedelai semakin meningkat terus. Hingga saat ini banyak pengusaha tahu menolak pesanan karena harganya dibawah harga pokok produksi dan mereka banyak yang bekerja dengan merugi serta ada kecenderungan penggunaan modal tetap tidak optimal. Walaupun demikian, hingga saat ini belum ada satupun pengusaha yang melakukan pengurangan tenaga kerja. Hal ini sangat menarik untuk dikaji agar dapat mengetahui secara persis akar permasalahan yang sebenarnya dan akibatnya,dengan penyerapan tenaga kerjaPenelitian ini mengambil obyek seluruh pengusaha tahu dan tempe di Desa Krobokan Kecamatan Candisari Semarang yang jumlahnya 36 pengusaha. Sedangkan pengumpulan datanya dengan melakukan wawancara ditempat usaha para responden dengan daftar pertanyaan yang telah disiapkan sebelumnya. Analisis data dengan menggunakan regresi berganda dengan variabel dipendennya tenaga kerja dan variabel independent terdiri dari modal kerja, modal tetap, pendapatan, lama usaha dan umur pengusaha.Berdasarkan uji t dengan tingkat signifikansi 5% diketahui bahwa modal kerja (p=031) berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja dan variabel modal tetap, pendapatan, lama usaha dan umur pengusaha tidak berpengaruh. Namun berdasarkan uji F menunjukan bahwa secara bersama-sama modal kerja,  modal tetap, pendapatan, lama usaha dan umur pengusaha berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja.Kata kunci : tenaga kerja, modal tetap, pendapatan, lama usaha, umur pengusaha.
APLIKASI SOFTWARE AKUNTANSI UNTUK MEMBANTU PEMBUATAN LAPORAN KEUANGAN PADA UMKM DI KELURAHAN KARANGAYU, KECAMATAN SEMARANG BARAT Eddy Sutjipto; Wawan Setiawan
TEMATIK Vol. 1 No. 2 (2021): Juli
Publisher : Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/tmt.v1i2.3515

Abstract

Perkembangan UMKM di Indonesia hingga akhir tahuan 2018 dapat dikatakan sangat pesat. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan jumlah tiap tahunnya, tapi mereka umumnya mengalami kesulitan untuk berkembang menjadi lebih besar. Dengan adanya pandemi Covid-19 justru UMKM menurut Organisasi kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi atau Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menyebutkan hampir separuh UMKM di Indonesia akan bangkrut pada Desember 2020. Oleh karena itu pemerintah berusaha memberi dukungan hibah modal kerja dan dibantu oleh beberapa Bank BUMN agar UMKM tetap dapat beropeasi. Kondisi yang demikian terpuruk sangat tepat jika UMKM segera membenahi pembukuannya. Hal ini disebabkan karena umumnya UMKM tidak mampu membuat laporan keuangan dan menjadi salah satu factor tidak dapat berkembang, sehingga akses dana dari perbankan dengan biaya yang relative lebih murah cukup sulit diperoleh. Kondisi ini dihadapi oleh UMKM Konveksi dan Sepatu yang hingga saat ini baru dapat membuat catatan seperti buku kas. Pencatatan penerimaan dan pengeluaran lebih familiar dilakukan dengan menggunakan Gadget, sehingga sulit untuk dibuat laporan keuangan yang berupa neraca dan laba rugi. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka target khusus dalam program Pengabdian kepada Masyarakat ini adalah pemilik usaha diharapkan mampu mengoperasikan software akuntansi SIAPIK dengan basis Gadget Android, sehingga membantu dalam pembuatan laporan keuangan bulanan dengan metode pelatihan dan pendampingan kepada kedua UMKM. Berdasarkan hasil kegiatan tersebut Tim pelaksana dapat membuat laporan keuangan yang berupa Neraca Awal per 29 Nopember 2020 dan selanjutnya data tersebut di input dalam program akuntansi SIAPIK. Disamping itu terdapat peningkatan pemahaman dan keterampilan membuat Laporan Keuangan secara benar yang sesuai dengan Standar Akuntansi Usaha Kecil dan Menengah (SAK-EMKM) yang telah di keluarkan pada 1 Januari 2018.