Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

SASTRA LISAN DAN PENDIDIKAN KARAKTER Muji Muji
FKIP e-PROCEEDING 2021: BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA DI ERA BERKELIMPAHAN
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Maraknya berita yang memberitakan seputar perilaku negatif anak bangsa bertindak tercela, seperti korupsi, tawuran, perselingkuhan, plagiarisme, berita hoax, konsumsi narkoba, fitnah, menyakiti, menodai, dan perusakan lingkungan, menjadi fokus masalah artikel ini. Perihal ini menjadi petanda formal bahwa karakter bangsa ini kacau, rusak, dan carut-marut tidak terarah pada idiola pribadi yang adi luhung. Mengapakah perilaku ini harus terjadi pada diri anak bangsa-bangsa Indonesia? Permasalahan ini mengingatkan kepada pendidikan nilai perlu dijadikan substansi utama dalam pembelajaran di lembaga sekolah. Karena, pendidikan nilai-nilai berkarakter di lingkungan keluarga dan masyarakat tidak mendapat perhatian. Sesungguhnya tiap masyarakat suku di Indonesia memiliki pendidikan karakter, misalnya suku Jawa tata nilai kehidupan Jawa yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Jawa di kenal tata laku, seperti toleransi, kasih sayang, gotong royong, andhap asor, kemanusiaan, nilai hormat, tahu berterima kasih, dan lainnya. Perihal ini menjadi menu utama dalam pendidikan karakter. Nilai-nilai ini digali dari substansi budaya Jawa, yang kemudian dijadikan norma, keyakinan, kebiasaan, konsepsi, dan simbolsimbolyang mengatur perilaku hidup yang ditularkan turun-temurun dari masa ke masa. Konteks karakter bangsa yang kacau, rusak, dan carut-marut, tidak terarahpada pribadi yang adi luhung menjadi kajian penelitian yang penting. Dengan menggunakan desain kualitatif, spesifikasi jenis penelitian fenomenologi,peneliti berusaha menguliti fenomena yang terjadi di masyarakat dewasa ini berdasar apa adanya. Data penelitian berupa segmen lirik lagu daerah-daerah Jawa, khususnya Jawa Timur, yang diindikasikan isinya erat kaitan dengan fenomena yang terjadi di masyarakat sekarang. Teknik pengumpulan data menggunakan dokumentasi, observasi, dan wawancara. Data dianalisis menggunakan teknik deskriptif evaluatif – argumentatif. Temuan penelitian perilaku budaya dan karakter kacau, rusak, dan carut-marut, tidak terarah pada pribadi yang adi luhung terjadi, karena dewasa ini anak bangsa tidak mengenalarti penting sejarah, pendidikan budaya dan karakter dinilai tidak penting, tergila-gila menilai kedahsyatan perubahan zaman (era globalisasi) dan mudah dan cepat meniru pendidikan budaya dan karakter yang dinilai modern. Saran pendidkaan budaya dan karakter pada sastra lisan, utamanya sastra lisan daerah, perlu diberdayakan dan dibermaknakan untuk pembaharuan kehidupan sosial dan perubahan budaya masyarakat menghadapi globalisasi. Kata Kunci: Kearifan Lokal, Lagu Daerah, Pendidikan, Budaya, Karakter
MODUS, MOTIF, TUJUAN, DAN FUNGSI UJARAN EKSPRESIF DALAM TEKS BERITA SIDANG KASUS PELANGGARAN PROTOKOL KESEHATAN COVID-19 Muji Muji
SEMIOTIKA: Jurnal Ilmu Sastra dan Linguistik Vol 22 No 2 (2021): Semiotika: Jurnal Ilmu Sastra dan Linguistik
Publisher : Diterbitkan oleh Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember bekerja sama dengan Himpunan Sarjana - Kesusastraan Indonesia (HISKI), Himpunan Pembina Bahasa Indonesia (HPBI) dan Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/semiotika.v22i2.24652

Abstract

Dishonorable expressive utterances within the news text of violating the COVID-19 health protocol are problematic because they harm other partners. This article points to talk about the mode, rationale, reason, and work of despicable expressive discourse within the setting of the COVID-19 health protocol. The research method is a qualitative research method, with a phenomenological type of research and data in expressive utterances that are indicated as despicable. Information was collected utilizing observation techniques, documentation studies, and focus group discussions (FGD). The data were analyzed using critical discourse analysis techniques adopted from Fairclough and Wadok. The comes about appeared that passed on the contemptible expressive mode of discourse by making fun of, contending, abhor discourse and inconsiderate discourse. The deliberate desire to win something drives the thought process for contemptible is considered all-powerful and has the back of other partners. The purpose of the expressive utterance of reproach is to kill the characters of other partners who are not in the same opinion and the utterance users use to achieve a specific power position.