Ardhie Raditya
Program Studi Sosiologi, Departemen Ilmu Sosial, FISH-Unesa

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENDIDIKAN KAUM TERTINGGAL DI SAMPANG Ardhie Raditya
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol 2, No 1 (2017): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1125.497 KB)

Abstract

Sebagaimana tercantum dalam Perpres nomor 131/2015, Sampang tergolong salah satu daerah tertinggal di Indonesia. Fenomena ketertinggalan yang sangat mencolok di Sampang adalah aspek pendidikannya. Dengan menggunakan metode fenomenologi, pendidikan kaum tertinggal di desa Blu'uran, lebih spesifiknya di SDN Blu'uran 2, maka fenomena ketertinggalan tersebut tampak dalam beberapa hal. Pertama, para siswa dan orang tuanya tidak memiliki cita-cita dan masa depan ideal. Tujuan mereka bersekolah nyaris tanpa pengharapan. Kedua, kesuksesan pendidikan bukan ditentukan oleh faktor kepintaran (pènter), melainkan keberuntungan (pojur). Ketiga, kondisi sosial geografis dan tekanan keagamaan yang kuat memaksa masyarakat sekitar tidak memiliki kebebasan menentukan masa depan pendidikannya.DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um021v2i12017p041
PENDIDIKAN KAUM TERTINGGAL DI SAMPANG Ardhie Raditya
JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis) Vol. 2 No. 1 (2017): JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis)
Publisher : Faculty of Social Science, Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um021v2i12017p41-49

Abstract

As stated in Perpres number 131/2015, Sampang is one of the least developed regions in Indonesia. This lag phenomenon is seen by the educational aspect. This phenomenon can be seen in SDN Bluuran 2 Sampang which appears in several ways: First, the students and their parents have no hope and ideal future. Their goals goes to school is without hope. Second, the success of education is not determined by factors cleverness, but luckiness. Third, the strong geographical and religious pressures force the surrounding communities to have no freedom to determine their educational future