The research aims to (1) identify the barriers of communication between the pair of Javanese culture with Papua, which is still in wedlock or from couples who have divorced, (2) analyzing conflict management strategies in interpersonal relationships Javanese couples with Papua in addressing existing conflicts. Research using interpretive approach to qualitative research methods. Data obtained by conducting in-depth interviews with 15 informants, which consists of 5 couples who still harmony in marriage and two pairs ex-husband and wife who have been divorced, and 1 widow of marriage Javanese settled Papua in Jayapura. Based on the results of the study indicate that many married couples of different ethnic Papuans with Java, which tends to want to show the characteristic of the culture of self respective dominant one another. One source of conflict is due to misscommunication between two parties resulting from differences in ethnicity and its difficult to adjust the condition. This study shows that openness of communication between couples who either can not necessarily reduce the intensity of the conflict escalation process in a marital relationship. Factors communication style in Javanese with Papua (controlling, aggressive, coercive, domination and racist) contribute to determining the appearance of conflict. The ultimate solution is that they form a bond strong commitment and understanding of the need for diversity. Penelitian bertujuan (1) mengidentifikasi rintangan komunikasi antar budaya pasangan etnis Jawa dengan Papua yang masih dalam ikatan perkawinan maupun dari pasangan yang telah bercerai, (2) menganalisa strategi manajemen konflik dalam hubungan interpersonal pasangan etnis Jawa dengan Papua dalam menyikapi konflik yang ada. Penelitian menggunakan pendekatan interpretatif dengan metode penelitian kualitatif. Data diperoleh dengan melakukan wawancara mendalam dengan 15 orang informan, yang terdiri dari 5 pasangan suami istri yang masih harmonis dalam ikatan perkawinan dan 2 pasangan mantan suami istri yang telah bercerai, serta 1 orang janda dari perkawinan etnis Jawa dengan Papua yang menetap di Kota Jayapura. Berdasarkan hasil penelitian mengindikasikan bahwa banyak pasangan suami istri berbeda etnis Papua dengan Jawa yang cenderung ingin menampilkan ciri khas budaya diri masing-masing secara dominan satu sama lain. Salah satu penyebab terjadinya konflik adalah karena adanya misscommunication diantara kedua belah pihak yang diakibatkan karena perbedaan etnis dan sulit nya menyesuaikan kondisi tersebut. Penelitian ini menunjukkan, keterbukaan komunikasi antar pasangan suami istri yang baik belum tentu bisa mengurangi intensitas konflik pada proses eskalasi hubungan dalam perkawinan. Faktor gaya komunikasi pada etnis Jawa dengan Papua (mengontrol, agresif, koersif, dominasi dan bersifat rasis) memberi kontribusi untuk menentukan munculnya konflik. Solusi utamanya adalah mereka membentuk ikatan komitmen yang kuat dan perlunya pemahaman akan adanya keberagaman.