Hafied Cangara
Dosen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Hasanuddin

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

TINGKAT PEMAHAMAN DAN SIKAP REMAJA TERHADAP PROGRAM PENDEWASAAN USIA PERKAWINAN MELALUI FILM ‘KEMBANG DESO’ DI SMA NEGERI 5 MAKASSAR DAN MAN 2 MODEL MAKASSAR Natalia Debora Sidabutar; Hafied Cangara; Muhammad Farid
KAREBA : Jurnal Ilmu Komunikasi Vol.6 No.2 Juli - Desember 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31947/kjik.v6i2.5336

Abstract

ABSTRAK Program Pembangunan selalu membutuhkan peran komunikasi sebagai proses penyampaian dan penerimaan pesan dalam rangka meningkatkan dan memanfaatkan pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat dalam mendorong agar secara sadar menerima program pengendalian kependudukan dan keluarga berencana. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman dan sikap remaja terhadap program Pendewasaan Usia Perkawinan melalui film ‘Kembang Deso’ dan melihat perbedaan pemahaman dan sikap remaja terhadap program Pendewasaan Usia Perkawinan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang berupa membandingkan dua objek penelitian yaitu siswa-siswi SMA Negeri 5 Makassar dengan siswa- siswi MAN 2 Model Makassar. Responden sebanyak 89 orang. Data dianalisis menggunakan model bivariat dengan uji T sampel independen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan pemahaman terhadap program Pendewasaan Usia Perkawinan antara siswa-siswa SMA Negeri 5 Makassar dan siswa-siswa MAN 2 Model Makassar. Akan tetapi, dari sikap mereka terhadap program Pendewasaan Usia Perkawinan menunjukkan ada perbedaan yakni siswa-siswi SMA Negeri 5 Makassar berada pada kriteria setuju sedangkan siswa-siswi MAN 2 Model Makassar berada pada posisi netral. Perbedaan ini dilatarbelakangi perbedaan karakteristik sekolah yakni SMA Negeri 5 Makassar mewakili sekolah umum yang memiliki siswa yang lebih variatif dari segi etnis dan agama, sedangkan siswa MAN 2 Model Makassar adalah lembaga pendidikan yang mewakili sekolah berbasis agama (pesantren). Kata