MUHAMAD ROFIQ
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Arab political reasoning: Muhammad Abid al-Jabiri’s contribution for understanding crisis of politics in the Arab world Muhamad Rofiq
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 7, No 1 (2017): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v7i1.55-76

Abstract

xt-stroke-width: 0px; " This paper deals with the thoughts of MuhammadAbid al-Jabiri (d. 2010), a prominent philosopher from Morocco, on the crisis of politics in the Arab world, by examining one of his great books entitled al-‘Aql al- Siyasi al-‘Arabi (Arab Political Reasoning). This book is the third work from the sequence Naqd al-‘Aql al-‘Arabi (Critique of Arab Reasoning). The Arab political reasoning here refers to a collection of motives (muhaddida t ) in politics and their theoretical and practical manifestations (tajalliyat ). This paper analyzes the sense of crisis that constitutes al-Jabiri’s thoughts on Arab political reasoning. This paper then describes the three theoretical frameworks he utilized, which were “aqidah (doctrine)”, “ghanimah (booty)” and “qabilah (tribe)”, and their application in the reading politics of the earliest period of Islamic history. Finally, this writing concludes with some points regarding al-Jabiri’s contribution to Islamic studies. 0px; " Tulisan ini mengkaji pemikiran-pemikiran Muhammad Abid al-Jabiri (w. 2010), seorang filosof terkemuka dari Maroko, mengenai krisis politik di dunia Arab, melalui pengkajian terhadap salah satu buku terkenalnya yang berjudulnya al-‘Aql al- Siyasi al-‘Arabi (Nalar Politik Arab). Buku ini adalah karya ketiga dari rangkaian proyek Naqd al-‘Aql al-‘Arabi (Kritik Nalar Arab). Nalar politik arab dalam karyanya ini terdiri dari sekumpulan motif-motif politik bangsa Arabdan manifestasi teoretis dan praktis dari motif tersebut. Tulisan ini selanjutnya menganalisis tiga latar belakang pemikiran yang membentuk ide-ide al-Jabiri mengenai nalar politik Arab. Tulisan ini kemudian menggambarkan tiga kerangka teori yang ia gunakan, yaitu akidah, harta rampasan perang, dan suku, serta aplikasi dari tiga teori tersebut pada pembacaan terhadap periode paling awal dari sejarah Islam. Terakhir, tulisan ini menyimpulkan sejumlah hal yang menjadi kontribusi al-Jabiri pada pemikiran keislaman.
DISKUSI MENGENAI ARGUMENTASI ULAMA PRA-MODERN DALAM MENOLAK HISAB Muhamad Rofiq Muzakkir
Al-Marshad: Jurnal Astronomi Islam dan Ilmu-Ilmu Berkaitan Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : University of Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.412 KB) | DOI: 10.30596/jam.v1i1.736

Abstract

Tulisan ini memaparkan tujuh argumen yang digunakan oleh sarjana-sarjana Islam pra-modern dalam menolak hisab.Tujuh argumen tersebut ditampilkan dari sumber-sumber primer (kutub at-turats) dari lintas mazhab. Masing-masing deskripsi argumen tersebut kemudian diikuti dengan diskusi kritis yang dikutip dari pemikiran ahli-ahli hukum Islam kontemporer.Kata Kunci: Hisab, Rukyat, Mazhab Fikih, Diskusi Kritis.
Memahami Hadis Misoginis Perspektif Maqasid Syari‘AH: Studi Hadis yang Menyamakan antara Keledai, Anjing dan Perempuan Muhamad Rofiq
ESENSIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 16 No. 1 (2015)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/esensia.v16i1.986

Abstract

This study aims at applying the concept of maqashid shariah to understand a problematic hadith narrated by Abû Dzâr al-Ghifari and Abû Hurairah. Such hadith has attracted serious attentions due to its narration which equated between a donkey, a dog and a woman among many Moslem scholars throughout the Islamic intellectual history. In the first part of the article, a critical review of interpretation method employed by previous ulamas, both from classical and modern period has been presented. From such an examination, it becomes clear that there is a gap which has not been adequately answered by the previous methods. Therefore, in this context, the maqashid is situated as the alternative method. Here the maqashi concept is projected as a ratio legis and parameter of the validity of ijtihad, following al-Syâtibi and Jasser Audah’s notion. Having employed maqashid to the hadith, this article concludes that the hadith contradicts one of al-kulliyah al-sittah (the six general principles of maqashid), which is hifzh al‘ird. As a consequence of this contradiction, the hadith is irrelevant as practice.[Tulisan ini bertujuan untuk menerapkan konsep Maqasid Syari’ah untuk memahami hadis problematis yang diriwayatkan oleh Abû Dzâr al-Ghifari dan Abû Hurairah. Hadis tersebut telah menarik perhatian serius banyak sarjana muslim sepanjang sejarah intelektual Islam karena memuat narasi yang menyamakan antara keledai, anjing dan perempuan. Pada bagian awal tulisan, terlebih dahulu disajikan ulasan kritis mengenai metode-metode interpretasi yang digunakan oleh ulama klasik dan modern. Dari pengujian terhadap metode-metode tersebut diketahui bahwa terdapat ruang kosong yang masih tersisa dan belum terjawab dengan baik. Oleh karena itu, maqashid dalam tulisan ini diletakkan sebagai metode alternatif di mana konsep maqashid diajukan sebagai kausa hukum dan parameter kebenaran sebuah ijtihad, mengikuti gagasan al-Syâtibi dan Jasser Audah. Tulisan ini menyimpulkan bahwa hadis yang didiskusikan berbenturan dengan salah satu dari enam tujuan pokok hukum Islam, yaitu hifzh al-‘ird. Sebagai implikasinya, hadis ini menjadi tidak dapat diamalkan.]