Ahmad Khotim
STAI At Tahdzib Rejoagung Ngoro Jombang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Bagian Waris Orang Hemaprodite Menurut Imam Abu Hanifah Dan Imam Ali As-Shobuni Ahmad Khotim; Mukhammad Hafidz Abizar
Jurnal Mahkamah : Kajian Ilmu Hukum Dan Hukum Islam Vol 4 No 1 (2019): Jurnal Mahkamah : Kajian Ilmu Hukum Dan Hukum Islam
Publisher : Institut Agama Islam Ma'arif NU (IAIMNU) Metro Lampung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25217/jm.v4i1.415

Abstract

Penelitian ini menggambarkan mengenai permasalahan pembagian waris bagi orang yang bekelamin ganda (khunta) berdasarkan pendapat Imam Ali As-Shobuni dan Imam Abu Hanifah, Salah satu daripermasalahan bagi orang yang bekelamin ganda (khuntsa) adalah dalam hal menentukan hak waris ataukewarisannya. Dalam al-Qur’an telah jelas dikemukakan secara detail mengenai hukum kewarisan untuk laki-laki dan perempuan. Tapi belum ditemukan dalam al-Qur’an mengenai hukum waris bagi orang yang bekelamin ganda (khunta) ini. Maka dalam penelitian ini akan dijelaskan bagaimana pendapat Imam Abu Hanifahdan Imam Ali As-Shobuni dalam menetapkan pembagian warisnya. Sifat penelitian adalah deskriptif dan jenis penelitian yang digunakanadalah normatif. Bahan hukum dan data diperoleh dari norma-norma hukum Islam tentang kewarisan dan khuntsa yang diperoleh dari nash al-Qur’an dan Hadits, serta pendapat para fuqaha’ dan para ahli yang diperoleh dari berbagai literatur tentang kewarisan.. Datadicari melalui studi kepustakaan (library research), sumber data primer dan sumber data sekunder. Hasil dari penelitian ini adalah, pada dasarnya dalam menentukan status hukum bagi bagi orang yang bekelamin ganda (khuntsa), dapat dilihat dari tanda-tanda kedewasaannya dan darimana ia mengeluarkan air kencing seperti yang disebutkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas.
Pendapat Syafi’iyah Dan Hanafiyah Tentang Wali Adhal Karena Calon Suami Berjarak Jauh Ditinjau Dari Maslahah Mursalah Ahmad Khotim
AT-Tahdzib: Jurnal Studi Islam dan Muamalah Vol 9 No 1 (2021): At-Tahdzib
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam At-Tahdzib Ngoro Jombang Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background. Marriage is a very strong contract (mitsaqan galidzan) between a man and a woman as a form of worship to Allah SWT to form a family that is sakinah mawadah wa rohmah. Marriage in the Indonesian legal system, especially for those who embrace Islam, requires a marriage guardian which is regulated in articles 19 to 23 of the Compilation of Islamic Law (KHI) and article 18 of the minister of religion regulation number 11 of 2007 concerning registration of marriages. Guardianship is an inseparable part of a marriage, because a guardian is a person who must be present when a marriage takes place. The involvement of a guardian in a marriage determines (valid or not) the marriage contract in the view of Islamic law.Aim. This research was written to answer the questions outlined in 2 (two) problem formulations, namely: (1) How to find out the opinion of Imam Shafi'i and Imam Hanafi regarding the law of guardianship because the reason is that the prospective husband is far away. (2) What is the legal adhalnya guardian because the prospective husband is far away in the view of Maslahah Mursalah.Methods. The library data needed in this study will be collected using collection techniques. in this qualitative research will use inductive analysis.Results. According to Syafi'iiyah the existence of a marriage guardian absolutely must exist in a marriage. Because marriage without a guardian's permission is invalid. Meanwhile, Hanafiyah's permission for a guardian is not a legal requirement for marriage, but only complements the marriage vows. Based on Maslahah Mursalah's analysis regarding the adhal of a guardian for the reason that the husband-to-be comes from a remote area, there is no argument from the Koran or hadith that prohibits it. There are also no prohibitions (obstacles) on marriage in the form of kinship relations, sexual relations, and sexual relations (rodlo') to be carried out by the bride and groom.