Muhammad War'i
Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Darussalimin NW Praya

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pengelolaan Kebinekaan Perspektif Islam (Analisis Normatif-Sosiologis Ayat dan Hadits tentang Keragaman) Muhammad War'i
Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol 3 No 1 (2018): Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya
Publisher : Institut Agama Islam Ma'arif NU (IAIMNU) Metro Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.591 KB) | DOI: 10.25217/jf.v3i1.254

Abstract

Tulisan ini akan membahas tentang pengelolaan kebinekaan perspektif Islam. Masalah yang melatari munculnya tulisan ini adalah masih seringnya ummat Islam terjebak dalam konflik kemanusiaan yang disebabkan oleh keragaman ras, identitas maupun agama khususnya di Indonesia. Dengan menggunakan metode riset kualitatif melalui pendekatan normatif-sosiologis terhadap ayat dan hadits, tulisan berkesimpulan bahwa pengelolaan keragaman perspektif Islam meliputi: saling menghargai dan berkomunikasi antar golongan, mengakomodasi keragaman keyakinan guna mewujudkan kedamaian, menyadari hakikat kemanusiaan untuk menumbuhkan sikap empati terhadap golongan lain. Selain kesadaran sosiologis tersebut, dibutuhkan kesadaran individu yaitu ketakwaan yang dimanifestasikan dengan sikap integritas diri untuk mengelola keragaman yang ada.
SOSIO-RELIGIUS PESANTREN: AKTUALISASI NILAI-NILAI AGAMA DALAM RUANG SOSIAL KEMASYARAKATAN DI LOMBOK TIMUR Muhammad War'i
Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol 4 No 1 (2019): Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya
Publisher : Institut Agama Islam Ma'arif NU (IAIMNU) Metro Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25217/jf.v4i1.470

Abstract

This paper discusses the socio-religious attitude of the pesantren which is manifested by the Islamic Boarding School Ma'had Darul Quran wal Hadith Al-Majidiyah As-Syafi'iyah Nahdlatul Wathan in a social context. Through the phenomenology approach, this research will elaborate on this. Islamic boarding schools are often represented by santri learning places with strict pesantren regulations. The santri stayed in certain locations (dormitories) with 24-hour caregiver supervision. This fact often leaves “empty spaces” in the form of "gaps" that occur between pesantren and society in general. Therefore a pesantren management model is needed which emphasizes the process of social interaction in its existence. The conclusion of this paper is the socio-religious attitude of the pesantren which is manifested in the form of intense social interaction between santri and society. This is because santri lodgings are scattered throughout the community houses in Pancor Village which is the location of the Islamic boarding schools. These socio-religious attitudes can be seen from the concern of santri to the community in helping people around to study the religious sciences and help them in matters of daily living. Abstrak Tulisan ini membicarakan sikap sosio-religius pesantren yang termanifestasikan dalam orientasi Pesantren Ma’had Darul Quran wal Hadits Al-Majidiyah As-Syafi’iyah Nahdlatul Wathan dalam konteks sosial kemasyarakatan. Melalui pendekatan fenomenologi, penelitian ini mengelaborasi hal tersebut. Pesantren sering kali direpresentasikan dengan tempat belajar santri yang cenderung ketat secara pemondokan. Diinapkan di lokasi tertentu (asrama) dengan pengawasan pengasuh selama 24 jam. Kenyataan tersebut sering kali meninggalkan ruang kosong berupa “gap” yang terjadi antara pesantren dan masyarakat secara umum. Oleh karena itu dibutuhkan model pengelolaan pesantren yang memuat bahkan menekankan proses interaksi sosial dalam eksistensinya. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah sikap sosio-religius pesantren yang termanifestasi dari bentuk interaksi sosial yang intens antara santri dan masyarakat. Hal ini disebabkan karena pemondokan santri disebar di seluruh rumah masyarakat di Kelurahan Pancor yang merupakan lokasi pondok pesantren. Sikap sosio-religius tersebut tampak dari kepedulian santri kepada masyarakat dalam membantu masyarakat sekitar mempelajari ilmu-ilmu agama serta membantu mereka dalam urusan hidup sehari-hari.
The Struggle of Fiqh Reasoning in the Implementation of MUI’s Fatwa on Worship during Pandemic in the Island of Lombok Muhammad War'i
Jurnal Dialog Vol 44 No 2 (2021): Dialog
Publisher : Sekretariat Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47655/dialog.v44i2.490

Abstract

This paper discusses the implementation of MUI’s fatwa on worship during Covid-19 pandemic. Social facts show that the implementation of the fatwa has given rise to various socio-religious conflicts in Lombok island. Through a qualitative approach, the paper concludes: First, the people of Lombok Muslim community disapprove the fatwa. Second, there is a conceptual difference between the government as the beholder of the MUI’s fatwa and the community's religious traditions that have been maintained for a long time. Third, the model of fiqh law reasoning used by the government in general is a textual (normative) model that is contrary to society's use of historical meaning. Therefore, a dialogical process is needed for a solution to social problems that occur as a result of the implementation of the ulama’s fatwa which is used as government policy so that it does not appear to be coercive by involving elements of ulama, goverment, and society. The dialog conectivity of these three elements in negotiating their understandings of fiqh to place the intent and purpose of a legal product (fatwa) will encourage the realization of inclusive fiqh reasoning. Keywords: fiqh reason, MUI’s fatwa, mosque closing Tulisan ini mengkaji secara fenomenologis implementasi fatwa MUI tentang ibadah di tengah pandemi wabah Covid-19. Fakta sosial menunjukkan bahwa implementasi fatwa tersebut telah melahirkan berbagai konflik sosial keagamaan di Pulau Lombok. Melalui pendekatan kualitatif tulisan berkesimpulan: Pertama, Respon masyarakat muslim Lombok sebagai demografi dengan banyaknya masjid adalah adanya ketidakmenerimaan baik secara psikologis, sosial, dan kultural. Kedua, Terjadi pertentangan konseptual antara pemerintah selaku pemegang fatwa MUI dengan konsep tradisi keagamaan masyarakat yang telah lama ada dan menjadi pedoman mereka. Ketiga, model penalaran hukum fikih yang digunakan pemerintah secara umum adalah model pemaknaan tekstual (normatif) bertentangan dengan masyarakat yang menggunakan pemaknaan historis. Oleh karena itu, dibutuhkan proses dialogis sebagai langkah solutif atas problem sosial yang terjadi akibat implementasi fatwa ulama yang dijadikan kebijakan pemerintah agar tidak terkesan memaksa dengan melibatkan unsur ulama, umara’, dan mujtama’. Konektivitas dialog tiga unsur ini dalam menegosiasikan pemahaman fikih mereka untuk mendudukkan maksud dan tujuan suatu produk hukum (fatwa) akan mendorong terwujudnya nalar fikih yang inklusif. Kata Kunci: nalar fikih, fatwa MUI, penutupan masjid