Habib Ismail
Institut Agama Islam Ma'arif NU (IAIM NU) Metro

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

AKULTURASI ISLAM DENGAN BUDAYA JAWA: STUDI FOLKLORIS TRADISI TELONAN DAN TINGKEBAN DI KEDIRI JAWA TIMUR Septiana Purwaningrum; Habib Ismail
Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol 4 No 1 (2019): Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya
Publisher : Institut Agama Islam Ma'arif NU (IAIMNU) Metro Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25217/jf.v4i1.476

Abstract

This article aims to describe the symbolic meaning of the acculturation Telonan and Tingkeban which is believed and preserved by the people of Kunti-Mranggen Village, Kediri, Indonesia. This study uses a type of qualitative research with a folklore approach. This research was conducted for one year using the method of collecting data through interviews, observation, and documentation. In addition to being a research instrument, researchers also participated in the telonan and tingkeban culture with the aim of finding the comprehensive meaning of the object under study. Data analysis in this study uses the deductive method with source triangulation as the checker of the data validity. The results of this study are: 1) Telonan is an activity of praying for pregnant women and their babies during the age of the womb-reaching 3 months into 4 months. While Tingkeban is carried out when the womb reaches 7 months. This activity is carried out with the aim that mothers and babies are always given safety and health by God, as well as fluency in the process of giving birth to the fetus later; 2) In carrying out the telonan and tingkeban several Javanese foods such as jenang abang, jenang putih, buceng ketan, keleman, cucumber, sego golong, sego semaron, sego rogoh, gedhang setangkep, dawet, and rujak are each of these ingredients has symbolic meaning; 3) The values ​​that emerge from the telonan and tingkeban traditions include the value of helping, harmony, friendship, hablumminallah and hablumminannas. Abstrak Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna simbolik dari akulturasi “Telonan dan Tingkeban” yang diyakini dan dilestarikan oleh masyarakat Dusun Kunti, Mranggen Kediri. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan folklor. Selain menjadi instrumen penelitian, peneliti juga berpartisipasi dalam budaya telonan dan tingkeban tersebut dengan tujuan menemukan makna yang komprehensif dari obyek yang diteliti. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode deduktif dengan triangulasi sumber sebagai pengecek keabsahan datanya. Hasil penelitian ini adalah: 1) Telonan adalah kegiatan mendoakan ibu yang sedang hamil beserta bayi yang dikandungnya saat usia kandungan mencapai 3 bulan memasuki 4 bulan. Sedangkan Tingkeban dilaksanakan pada saat usia kandungan mencapai 7 bulan. Kegiatan ini dilaksanakan dengan tujuan agar ibu dan bayi senantiasa diberi keselamatan dan kesehatan oleh Allah, serta kelancaran dalam proses melahirkan janinnya nanti; 2) Dalam pelaksanaan telonan & tingkeban ini dihidangkan beberapa jenis makanan khas Jawa seperti jenang merah, jenang putih, buceng ketan, keleman, timun, sego golong, sego semaron, sego rogoh, gedhang setangkep, dawet, dan rujak yang masing-masing bahan tersebut memiliki makna simbolik; 3) Nilai-nilai yang muncul dari tradisi telonan dan tingkeban di antaranya nilai tolong-menolong, kerukunan, silaturrahim, hablumminallah dan hablumminannas.