Mujahiduddin Mujahiduddin
State Islamic University Alauddin, Makassar, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HIZBUT TAHRIR INDONESIA AND ITS IMPLICATIONS ON SOCIAL RELIGIOUS REALM Mujahiduddin, Mujahiduddin
Al-Ulum Vol 11, No 1 (2011): Al-Ulum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.382 KB)

Abstract

Artikel ini menggambarkan HizbututTahrir sebagai sebuah gerakan sosial di era pasca-Soeharto dan pandangannya tentang pembentukan kembali kekhalifahan Islam. Dari perspektif gerakan sosial dapat dikatakan munculnya Hizbuu Tahrir Indonesia jelas-jelas merupakan respon terhadap berbagai mengalami kerusakan yang terjadi di Indonesia mulai dari kemiskinan, ketidakadilan, korupsi, dan demoralisasi. Bencana-bencana sosial yang disebabkan oleh implementasi pemerintah Indonesia sekuler atau kafir (orang kafir) sistem terpancar dari nilai-nilai Barat. Untuk melarikan diri dari masalah tersebut, HizbutTahrir dan HTI adalah untuk mendorong penerapan Syariah Islam sepenuhnya dari dengan restorasi kekhalifahan Islam di seluruh dunia. HTI menyadari sepenuhnya bahwa untuk mendirikan sebuah kekhalifahan Islam membutuhkan tindakan kolektif dan dukungan banyak orang.----------------------This article describes HizbututTahrir as a social movement in post-Suharto era, and his views on the re-establishment of the Islamic caliphate. In the perspective of the emergence of social movements can be said Hizbuu Tahrir Indonesia is clearly a response to a variety of damage that occurred in Indonesia ranging from poverty, injustice, corruption, and demoralization. Social disasters caused by the implementation of the Indonesian government or secular infidels (unbelievers) system emanating from Western values. To escape from such problems, HizbutTahrir and HTI is to encourage full implementation of Islamic Sharia from the restoration of the Islamic caliphate throughout the world. HTI is fully aware that to establish an Islamic caliphate requires collective action and support of many people.
RELIGIOUS FUNDAMENTALISM AND VIOLENCE: IS THERE ANY DIRECT CORRELATION BETWEEN FUNDAMENTALISM AND VIOLENCE? Mujahiduddin, Mujahiduddin
Jurnal Diskursus Islam Vol 1 No 1 (2013)
Publisher : Program Pascasarjana, UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v1i1.6589

Abstract

Tuilsan ini membahas tentang hubungan antara fundamentalisme agama dan kekerasan. Pertanyaan yang ingin diangkat ialah apakah ada hubungan langsung antara fundamentalisme agama dengan kekerasan?. Untuk menjawab pertanyaan ini, maka tulisan ini akan mengemukakan tiga aspek, yaitu, pertama; mendefinisikan istilah fundamentalism dan menjelaskan kerakteristiknya. Kedua, menjelaskan makna dan kategori kekerasan yang digunakan sebagai kerangka teoritis dalam menganalisa hubungan antara fundamentalisme agama dan kekerasan. Ketiga adalah menganalisa hubungan tersebut dan mencoba melihatnya dari perpektif gerakan radikal Islam. Tulisan ini mengasumsikan bahwa kehadiran gerakan fundamentalisme agama tidak selalu punya kaitan dengan kekerasan. Penggunaan kekerasan oleh gerakan fundamentalis sangat tergantung dengan fakto eksternal seperti respon Negara.ABSTRACTThis essay examines the correlation between religious fundamentalism and violent acts. The prominent question addressed in this paper is about is there any direct correlation between fundamentalism and violence?. To answer this inquiry, this writing is going to elaborate three points. First, it defines the term fundamentalism and describes its shared characteristic features. Secondly, it will describe the meaning and categories of violence used in analyzing correlation between religious fundamentalism movements and the utilization of violent actions such as bombing attacks, assassination, kidnapping etc. Thirdly, this article also tries to analyze the links between fundamentalism and violence and how these links are understood in the study of ‘fundamentalist Islam’ and ‘violent political Islam’. This essay argues that the presence of religious fundamentalism such as radical Islamic group does not always connote to violent.  Whether or not a religious fundamentalism group will be advocating violent means in its movement is more likely depending on some intermediary factors such as state’s response.