Ketersediaan agregat kasar berkualitas di wilayah Fakfak, Papua Barat, masih terbatas, sementara limbah serbuk kayu besi (Eusideroxylon zwageri) dari industri penggergajian setempat melimpah namun belum dimanfaatkan secara optimal. Kondisi ini melatarbelakangi dilakukannya program eksperimental untuk mengevaluasi potensi pemanfaatan limbah serbuk kayu besi sebagai substitusi parsial agregat kasar pada beton mutu K-175. Penelitian menggunakan dua variasi kadar substitusi, yaitu 5% dan 10% dari total berat agregat kasar. Sebelum perancangan campuran beton, dilakukan karakterisasi agregat lokal mengikuti prosedur SNI dan ASTM, sedangkan proporsi campuran dirancang berdasarkan ketentuan SK SNI T-15-1990-03. Sebanyak 24 spesimen silinder beton berukuran 15×30 cm dibuat dengan tiga replikasi untuk setiap kombinasi perlakuan, kemudian diuji kuat tekannya secara berkala pada umur 7, 14, 21, dan 28 hari untuk mengamati perkembangan kekuatan beton seiring waktu. Hasil pengujian pada umur 28 hari menunjukkan bahwa beton dengan substitusi 5% menghasilkan rerata kuat tekan sebesar 175,11 kg/cm², sedangkan substitusi 10% hanya mencapai 153,14 kg/cm². Dengan demikian, hanya variasi substitusi 5% yang mampu memenuhi target mutu K-175, sementara peningkatan kadar substitusi menjadi 10% justru menurunkan kinerja tekan beton. Temuan ini mengindikasikan adanya batas kadar substitusi yang dapat diterapkan tanpa mengorbankan kekuatan struktural beton. Secara praktis, hasil penelitian ini memberikan kontribusi bagi pemanfaatan limbah industri penggergajian kayu besi sebagai material alternatif dalam campuran beton struktural ringan, khususnya di wilayah seperti Fakfak yang menghadapi keterbatasan agregat konvensional namun memiliki potensi limbah kayu yang besar. Pemanfaatan limbah ini mendukung upaya pengelolaan limbah kayu secara berkelanjutan serta penyediaan material konstruksi alternatif yang lebih ramah lingkungan di wilayah tersebut.