Chairul Murod
Department of Architecture UNSRI Palembang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

EVALUASI CITRA KOTA PALEMBANG sebagai KOTA AIR TEMPO DOELOE dan MASA KINI Murod, Chairul; Hanum, Meivirina
Journal of Architecture and Wetland Environment Studies Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Journal of Architecture and Wetland Environment Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Dilihat dari perjalanan kesejarahan, kota Palembang terbagi dalam beberapa masa. Masa pertama adalah masa Kerajaan Sriwijaya, dimana Palembang diduga berat sebagai ibukota Kedatuan Sriwijaya. Ini ditunjukkan dari hasil penelitian arkeologi yang dilakukan oleh Team Penelitian Arkeologi Palembang dengan ditemukannya situs Bukit Siguntang – Karang Anyar yang diduga sebagai pusat Kedatuan Sriwijaya. Masa selanjutnya adalah masa kesultanan Palembang Darussalam, dimana Palembang sebagai ibukota Kesultanan Palembang Darussalam dengan pusat kesultanannya yang dikenal dengan Kuto Lama – Kuto Besak. Kemudian adalah masa kolonial Belanda, dimana kota Palembang dikembangkan oleh pemerintah kolonial Belanda dengan tetap mengambil Kuto Besak – Kuto Lama sebagai pusat kota terakhir adalah masa kemerdekaan hingga sekarang. Pada masa Kesultanan Palembang yang diteruskan masa kolonial Belanda, dan pada awal masa kemerdekaan kota Palembang dikenal dengan sebutan Venesia dari Timur, ini yang dinyatakan oleh P.J.M. Nas (1995) sebagai The Venice of East. Sebutan tersebut menyatakan bahwasannya kota Palembang mempunyai citra sebagai kota air seperti halnya kota Venesia di Erofa. Namun citra kota Palembang sebagai kota air tersebut mengalami pergeseran pada masa sekarang ini. Ini dinyatakan baik oleh sebagian masyarakat dan beberapa tokoh-tokoh masyarakat kota Palembang. Yang menjadi pertanyaan adalah : pertama, apakah benar telah terjadi pergeseran citra kota Palembang sebagai kota  air tempo dulu dan masa kini ; kedua, kalau memang terjadi pergeseran mengapa terjadi pergeseran tersebut. Selanjutnya dari pertanyaan kedua, akan turun pertanyaan, apakah pergeseran terjadi diakibatkan oleh perkembangan kota yang dapat merubah orientasi kota, atau apakah terjadi perubahan perilaku sosial-budaya masyarakat kota, dan atau keduanya saling mempengaruhi.. Kajian  ini, utamanya dalam kerangka pemahaman teori-teori urban psychology yang bertalian dengan urban desain, yang dapat mendukung pendekatan urban desain itu sendiri. Konteksnya dengan kota Palembang tujuannya adalah untuk melihat sejauh mana pengaruh aspek non fisik khususnya yang dapat mempengaruhi pergeseran citra dari suatu lingkungan-kota diamping asfek fifik kota tersebut.Dalam mengkaji image kota Palembang sebagai kota air akan dilihat dari teori Kevin Lynch (1960) tentang The Image of The City, dengan membandingkannya dengan gambaran akan kota Venesia. Sedangkan dalam mengkaji aspek-aspek yang mungkin mempengaruhi terjadinya pergeseran image kota air Kota Palembang Tempo Doeloe dan Masa Kini akan didekati dengan teori tentang pengaruh interaksi Perilaku Sosial dan Lingkungan Fisik, serta terbentuknya Urban Experience. Sebagaimana diuraikan diatas dari tulisan ini, menurut perjalanan kesejarahan, Kota Palembang mengalami beberapa masa, mulai dari masa Kedatuan Sriwijaya, masa Kesultanan Palembang, masa Kolonial Belanda dan masa Kemerdekaan – Masa Kini. Namun kajian dalam tulisan ini, terbatas melihatnya pertama dalam masa Kesultanan Palembang – Masa  Kolonial Belanda, dan kedua dalam Masa Kini – Masa Kemerdekaan hingga sekarang.
Tektonika-Eklektik Sebagai Kajian Tampilan Estetika Simbiosis pada Rumah Kapiten Di Tujuh Ulu Palembang Hanum, Meivirina; Murod, Chairul
Jurnal Permukiman Vol 11 No 1 (2016)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2016.11.57-58

Abstract

Rumah Kapitan tempat tinggal Kapten Cina, Kapiten Tjoa Ham Hin, merupakan perpaduan arsitektur kolonial, arsitektur tradisional Limas Palembang, dan Arsitektur Cina. Perpaduan tampilan arsitektur ini akan dibaca dengan teorinya Kisho Kurokawa ‘Aesthetic of Symbiosis’ yang merupakan filosofi cara baru dalam mengintrepretasikan kebudayaan masa kini—mengedepankan ide-ide yang dikembangkan dari filosofi dan kebudayaan tradisional Jepang dan berlanjut mempengaruhi dunia kontemporer dan multivalen. Metodologi Tektonika Eklektik dimaksudkan untuk menjaring perpaduan cara penyambungan dari dua bahan atau lebih yang menghasilkan ekspresi tampilan bentuk estetis simbiosis pada Rumah Kapitan, sebagaimana memahami kodrat dari bahan, maupun kreativitasnya juga keberaniannya untuk hasil berbeda, tetapi memiliki tujuan tampilan yang orisinil. Dan diharapkan dapat mempertajam ekspresi arsitektural yang dapat menampilkan prinsip Struktural-Teknikal, dan Struktural-Simbolis. Sementara Teori Aesthetic of Symbiosis, dapat diimplementasikan dalam eksplorasi tampilan arsitektur pada Rumah Kapitan yang merupakan perpaduan arsitektur timur dan barat. Hasil dari penelitian diharapkan dapat memberikan pengkayaan yang multivalen dalam proses berarsitektur di Indonesia; sementara Tektonika-Eklektik sebagai Kajian Tampilan Estetika Simbiosis diharapkan dapat memberikan keleluasaan arsitek muda ke depan dalam mengolah bentuk maupun ruang arsitektur Indonesia yang bersumber pada arsitektur tradisional dan arsitektur modern.