Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

ANALISIS KELAYAKAN INDUSTRI KELAPA TERPADU Tri Yuni Hendrawati; Syamsudin AB
Jurnal Teknologi Vol 8, No 2 (2016): Jurnal Teknologi
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/jurtek.8.2.61-70

Abstract

Tanaman Kelapa merupakan salah satu komoditas perkebunan yang telah lama dikenal dan sangat berperan bagi kehidupan masyarakat. Beroperasinya Industri kelapa terpadu ini akan membantu perputaran ekonomi daerah dan pada gilirannya pendapatan daerah dan masyarakat petani akan ikut terangkat. Tujuan dari penelitian ini untuk melakukan analisis kelayakan industri kelapa terpadu. Metodologi yang digunakan adalah pengumpulan data primer dan sekunder ke daerah penghasil kelapa. Analisis kelayakan meliputi aspek teknis teknologis, aspek kelayakan pasar dan pemasaran, aspek finansial dan aspek dampak sosial dan lingkungan. Salah satu alternatif untuk meningkatkan nilai tambah dan efisiensi usaha perkebunan kelapa rakyat adalah dengan mengembangkan usaha pengolahan kelapa terpadu yaitu pendirian pabrik kelapa terpadu kapasitas kecil. Industri kelapa terpadu kapasitas kecil berpotensi untuk dikembangkan di perkebunan kelapa  dengan kapsitas pengolahan 20.000 butir kelapa/hari. Berdasarkan perhitungan neraca massa pada proses produksi, maka setiap 20.000 butir kelapa/hari dapat menghasilkan dessicated coco 1.860 kg/hari, coco powder 1.172 kg/hari, minyak kelapa 632 kg/hari, coir fibre 11.250 kg/hari, briket arang 2.880 kg/hari, asap cair 2.880 liter/hari dan nata de coco 117.600 gelas/hari. Dari analisis secara teknis dapat disimpulkan bahwa pengembangan industri kelapa terpadu 20.000 butir kelapa/hari layak untuk direalisasikan. Pendirian industri kelapa terpadu kapasitas 20.000 butir/hari membutuhkan modal investasi sebesar Rp 13.435.000.000,- dengan modal kerja untuk selama 3 (tiga) bulan sebesar Rp   2.963.145.150 ,-. Hasil perhitungan NPV berdasarkan aliran kas bersih pada proyeksi arus kas industri kelapa terpadu  Rp 3.493.291.768 ,- pada discount factor (DF) 20% dan nilai IRR adalah 27.67%. Sedangkan masa pengembalian modal (PBP) tercapai selama periode 3,53 tahun  dengan nilai Net  B/C sebesar  1,26. Dari hasil Analisa sensitivitas yang dilakukan, dihasilkan bahwa dengan penurunan harga produk sebesar 5% dan kenaikan harga beli bahan baku 10% tetap layak. Mengingat dalam praktiknya bunga bank 17,5% dan perubahan harga beli bahan baku selalu berhubungan positif dengan harga jual produk, sehingga dengan hasil Analisa sensitivitas tersebut, diproyeksikan kegiatan usaha  ini layak diimplementasikan.
PENGARUH KONSENTRASI ASAM SULFAT PADA PROSES HIDROLISIS DEDAK PADI MENJADI GLUKOSA UNTUK PEMBUATAN PLASTIK BIODEGRADABEL Yustinah Yustinah; Ummul Habibah Hasyim; Syamsudin AB; Aliyah Aliyah
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dedak padi (rice bran) adalah hasil samping proses pengolahan gabah menjadi beras. Pada proses penggilingan gabah menjadi beras akan menghasilkan 10% dedak padi. Kandungan tertinggi dalam dedak padi adalah karbohidrat sebesar 53%. Karbohidrat dalam dedak padi dapat diubah menjadi glukosa dengan proses hidrolisis. Selanjutnya glukosa digunakan sebagai sumber karbon pada pembuatan plastik biodegradeabel jenis Polyhydroxybutyrate (PHB). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi katalis Asam Sulfat pada proses hidrolisis dedak padi menjadi glukosa. Konsentrasi Asam sulfat yang digunakan adalah 2, 4, 6, 8, 10%. Proses hidrolisis dilakukan dalam labu leher tiga pada suhu 90 oC selama 60 menit. Filtrat hasil proses hidrolisis dianalisa kadar glukosa. Hasil hidrolisis diperoleh kadar glukosa tertinggi sebesar 12,26 g/L pada konsentrasi asam sulfat 10%. Larutan hidrolisat dedak padi dengan kadar glukosa 8,73 g/L digunakan sebagai sumber karbon pada fermentasi pembuatan PHB menggunakan bakteri Bacillus cereus. Proses fermentasi menghasilkan berat sel kering 1,34 g/L dan produksi PHB 6,42% berat sel kering.
Pengaruh Penambahan Kitosan Dalam Pembuatan Plastik Biodegradabel dari Rumput Laut Gracilaria sp dengan Pemlastik Sorbitol Yustinah Yustinah; Sri Noviyanti; Ummul Habibah Hasyim; Syamsudin AB
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Plastik merupakan bahan yang selalu dibutuhkan manusia dalam kehidupan sehari-hari, terutama banyak digunakan sebagai kemasan. Saat ini sebagian besar plastik merupakan plastik yang bersifat tidak mudah terurai (nondegradable). Sehingga limbah plastik tersebut akan menumpuk dan mengakibatkan pencemaran pada lingkungan. Untuk mengurangi penumpukkan limbah plastik, dilakukan penelitian pembuatan plastik yang mudah terurai secara alami (plastic biodegradable). Rumput laut merupakan bahan yang dapat dimakan (edible) dapat diuraikan oleh mikroorganisme (biodegrable), dan dapat diperbaharui (renewable), sehingga dapat dikatakan lebih ramah lingkungan. Ekstrak rumput laut berjenis Gracilaria sp dapat dijadikan plastik biodegradabel. Penelitian ini bertujuan untuk membuat plastik biodegradabel dari rumput laut Glacilaria sp, dengan penambahan kitosan pada konsentrasi bervariasi 1 – 6 % (m/v). Prosedur penelitian dibagi menjadi dua tahap. Tahap pertama adalah mendapatkan ekstrak rumput laut dengan perbandingan rumput laut : aquadest adalah 1 gr : 50 ml. Tahap kedua adalah pembuatan plastik biodegradabel dari ekstrak rumput laut. Sebanyak 50 ml ekstrak rumput laut, pemlastik sorbitol 4 gr dan ditambahkan kitosan yang dilarutkan dalam 100 ml asam asetat 1%. Campuran dipanaskan 70 oC selama 15 menit. Kemudian larutan didinginkan, lalu dicetak, selanjutnya dikeringkan pada temperature 45 oC selama 18 jam. Setelah kering plastik biodegradabel dilepaskan dari cetakan dan dianalisa kuat tarik dan perpanjangan menggunakan alat Universal Testing Instrument (UTI). Hasil yang terbaik pada penambahan kitosann sejumlah 5% (m/v), plastik biodegradabel yang mempunyai sifat kuat tarik 15,26 kg/cm2, dan perpanjangan 5,13%.
PENGARUH WAKTU DAN SUHU PENGERINGAN AMPAS TAHU TERHADAP YIELD TEPUNG AMPAS TAHU Alvika Meta Sari; Syamsudin AB; Novia Okny Yulianti; Yosan Yoga Permana
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ampas tahu mempunyai potensi yang besar dan melimpah untuk dijadikan bahan pangan, salah satunya adalah tepung ampas tahu. Tepung ampas tahu dipilih karena lebih tahan lama dan lebih mudah penggunaannya sebagai bahan dasar makanan. Dalam penelitian ini tepung ampas tahu dibuat dari ampas tahu yang diambil dari limbah industri tahu di Cakung, Jakarta Timur. Tujuan dari penelitian ini adalah mencari pengaruh waktu dan suhu pengeringan ampas tahu terhadap yield dari tepung ampas tahu yang dihasilkan serta mendapatkan kondisi optimum. Ampas tahu yang diambil segera setelah proses pembuatan tahu lalu dikurangi airnya dengan pemerasan dan dilanjutkan dengan sterilisasi dengan metode pengukusan selama 30 menit. Setelah pengukusan kemudian dikeringkan di oven dengan variasi waktu pengeringan 90, 120 dan 150 menit serta suhu 80, 90, 100, 110, 120, 130, 140, 150, 160 dan 170 oC. Setelah kering, kemudian ampas tahu dihaluskan dan diayak pada 80 mesh. Tepung ampas tahu yang dihasilkan lalu dihitung yield dan dianalisa proksimatnya untuk hasil yang terbaik. Hasil yang didapatkan bahwa semakin tinggi suhu maka yield yang dihasilkan semakin kecil dengan persamaan y = 547,5x + 5705 dan semakin lama waktu pengeringan maka yield semakin besar dengan persamaan y = 0,0224x + 3,8787. Waktu yang optimum adalah 120 menit dengan yield 7,067% dan suhu optimum adalah 120 oC dengan yield 6,093 %.
SINTESIS SELULOSA ASETAT DARI PEMANFAATAN LIMBAH KULIT PISANG DIAPLIKASIKAN SEBAGAI MASKER ASAP ROKOK Gema Fitriyano; Syamsudin Abdullah
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Asap rokok merupakan bahan berbahaya bagi kesehatan manusia karena mengandung nikotin, tar, timbal, arsen, kadmium serta sejumlah kecil bahan berbahaya lainnya. Penggunaan masker dapat mengurangi bahaya tersebut, akan tetapi masker yang mampu menyaring asap rokok memiliki harga yang lebih mahal dibandingkan masker medis atau masker kesehatan. Tujuan dari penelitian ini adalah  sintesis selulosa asetat yang diaplikasikan sebagai masker yang mampu menyaring bahan berbahaya  dari   asap   rokok.   Dimana  selulosa  sebagai   bahan  bakunya  didapatkan  dari   pemanfaatan  limbah  kulit pisang,   alasannya   karena   kulit   pisang   memiliki   jumlah   akumulasi   limbah   yang   cukup   besar   setiap harinya dan belum termanfaatkan secara optimal. Selulosa yang didapatkan dari ekstraksi limbah kulit pisang selanjutnya dikonversi menjadi selulosa asetat melalui reaksi asetilasi menggunakan anhidrida                                                                 o  asetat dengan perbandingan massa 1 : 5 pada suhu 45 C dengan variasi waktu 4, 5, 6, 7 dan 8 jam. Hasil paling optimum dari sintesis selulosa asetat didapatkan pada waktu reaksi 6 jam dengan yield  sebesar  50%.  Selulosa  Asetat   yang telah  didapatkan,  selanjutnya  diaplikasikan  sebagai masker  asap rokok.   Masker     asap   rokok   dianalisa   menggunakan       SEM    (Scanning    Electron   Microscope)     untuk mengetahui struktur permukaan partikel, dan hasil analisa SEM didapatkan bahwa struktur permukaan partikel  masker   asap   rokok  lebih  renggang  dibandingkan   struktur   permukaan  partikel  filter  selulosa  asetat komersial. Kata Kunci: Selulosa Asetat, Reaksi Asetilasi, Kulit Pisang, Masker Asap Rokok
PENGARUH WAKTU REAKSI TERHADAP BILANGAN HIDROKSIL PADA PEMBENTUKAN POLYOL DARI EPOKSIDASI CPO DAN CURCAS OIL Syamsudin Abdullah
JURNAL KONVERSI Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/konversi.1.1.%p

Abstract

Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh waktu reaksi dalam pembuatan plasticizer dan bahan intermediet dalam industri plastikdari bahan minyak Jarak Pagar (Curcas Oil) dan minyak Kelapa Sawit (CPO).Penelitian dilakukan dengan mencampur 100 ml minyak jarak pagar dan 100 ml minyak kelapa sawit, kemudian memanaskannyabersama asam asetat 47 %, hidrogen peroksida 50 %, dan katalis asam sulfat 1% dari jumlah minyak total pada suhu 70°C. Perbandingan mol asam asetat : hidrogen peroksida adalah 0,3 : 1,7 dan waktu operasi divariasikan. Epoksihasil epoksidasi ini dipisahkan menggunakan larutan sodium bikarbonat jenuh dan sodium sulfat. Epoksi20 ml kemudian direaksikan dengan etilen glikol 30 ml ditambah katalis asam sulfat 1% dari jumlah pereaktan total pada suhu 120°C dan waktu operasi divariasikan,sehingga didapat senyawa poliol yang kemudian dipisahkan. Dari penelitian ini diketahui kondisi optimum epoksidasi dicapai pada waktu reaksi 2 jam dengan bilangan oksiran 3,5360 % serta densitas epoksi 0,945 g/ml. Pada produksi poliol didapat bilangan hidroksil 4,8588 % pada waktu reaksi optimum 1 jam dengan indeks bias poliol 1,4705.Dengan demikian didapat korelasi % Bilangan Oksiran terhadap waktu epoksidasi (jam) adalah: Y1 = -0,4777X2+ 1,9093X + 1,616. Sedangkan korelasi % Bilangan Hidroksil terhadap waktu produksi poliol (jam) yaitu:Y2 = -1,2922X2 + 3,332X + 2,6758. Kata kunci: bilangan hidroksil, bilangan oksiran, epoksidasi, CPO, curcas oil
PENGARUH VARIASI MASSA KARBON AKTIF DARI LIMBAH KULIT DURIAN (DURIO ZIBETHINUS) SEBAGAI ADSORBEN DALAM MENURUNKAN BILANGAN PEROKSIDA DAN BILANGAN ASAM PADA MINYAK GORENG BEKAS Alvika Meta Sari; Anresansia Winesha Pandit; Syamsudin Abdullah
JURNAL KONVERSI Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/konversi.10.1.7

Abstract

Proses pemurnian minyak goreng bekas dapat dilakukan melalui proses adsorpsi dengan karbon aktif. Penelitian ini menggunakan kulit durian sebagai karbon aktif dikarenakan kulit durian mengandung selulosa sekitar 50 – 60 %. Penelitian ini bertujuan untuk mencari pengaruh variasi massa karbon aktif dari kulit durian dan massa optimumnya terhadap warna, bau, penurunan bilangan asam, dan penurunan bilangan peroksida minyak goreng bekas. Karbon aktif dibuat dari kulit durian melalui proses karbonisasi pada suhu 600ºC selama 1 jam, kemudian diaktivasi dengan KOH 20%. Produk karbon aktif diaplikasikan sebagai adsorbent pada pemurnian minyak goreng bekas dengan variasi massa karbon aktif (2; 4; 6; 8; 10 gram) dalam 100 mL minyak goreng bekas. Pengujian kualitas minyak goreng bekas dilakukan dengan cara pengujian warna dan bau pada minyak goreng bekas, pengujian nilai bilangan asam dengan metode Alkali-Asidimetri, dan pengujian nilai bilangan peroksida menggunakan titrasi iodometri. Hasil analisa dibandingkan dengan SNI 3741:2013. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin banyak penambahan karbon aktif maka bilangan asam dan bilangan peroksida semakin turun. Hasil dimurnikan memenuhi persyaratan SNI 3741:2013 yaitu dengan persyaratan warna dan bau normal, nilai bilangan asam maksimal 0,6 mg/g KOH, dan nilai bilangan peroksida maksimal 10 mek O2/kg. Nilai penurunan bilangan asam dan bilangan peroksida paling optimum yaitu pada massa adsorben 10 gram dengan nilai bilangan asam sebesar 0,1407 mg KOH/g dan nilai efisiensi penurunan 87,65%, kemudian bilangan peroksida sebesar 6,4087 mek/kg O2 dengan nilai efisiensi penurunan sebesar 68,05%. Kata Kunci : Adsorpsi, Karbon Aktif, Karbonisasi, Kulit Durian, Minyak Goreng bekas. 
KESETIMBANGAN ADSORPSI LOGAM BERAT (Pb) DENGAN ADSORBEN TANAH DIATOMIT SECARA BATCH Yustinah Yustinah; Hudzaifah Hudzaifah; Maya Aprilia; Syamsudin Ab
JURNAL KONVERSI Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/konversi.9.1.12

Abstract

Efek negatif dari pertumbuhan industri adalah limbah industri yang menghasilkan kontaminasi terhadap lingkungan. Salah satu jenis limbah industri adalah logam timbal (Pb) dalam air limbah di atas batas konsentrasi. Tujuan dari penelitian adalah untuk mempelajari mekanisme adsorpsi logam timah dalam sistem batch, dengan tanah diatom sebagai adsorben menggunakan model kesetimbangan isoterm. Dalam percobaan ini tanah diatom dicampur dengan 250 ml larutan timbal. Variabel yang diamati dalam percobaan ini adalah konsentrasi timbal dan massa adsorben. Setelah kesetimbangan tercapai, konsentrasi timbal dianalisis menggunakan AAS (Atomic Absorption Spektrophotometry). Data hasil percobaan menunjukkan, massa adsorben yang lebih besar akan menyerap lebih banyak. Berdasarkan data percobaan dan model matematika, konstanta kesetimbangan dievaluasi menggunakan persamaan least square. Tiga model isoterm adsorpsi yaitu model isoterm Freundlich, model isoterm Langmuir dan model isoterm BET digunakan pada penelitian ini. Model kesetimbangan isoterm Freundlich lebih unggul, dengan nilai konstanta empiris : qf = 0,06 dan b = 1,95 pada massa absorben 3 gr. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adsorpsi fisik merupakan mekanisme adsorpsi. Kata kunci: adsorpsi, tanah diatom, logam timah
PEMANFAATAN TANIN EKSTRAK DAUN JAMBU BIJI TERHADAP LAJU KOROSI BESI DALAM LARUTAN NaCl 3% (w/v) Tian Wahyuni; Syamsudin Ab
JURNAL KONVERSI Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/konversi.3.1.%p

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh inhibitor yang berasal dari ekstrak tanin daun jambu biji terhadap laju korosi besi dalam media NaCl 3%(w/v) dan mendapatkan konsentrasi optimum melalui nilai efisisensi inhibisi. Ekstrak tanin diperoleh dari daun jambu biji dengan cara mengekstrak 20 gram daun jambu biji dalam 1000 mL air dengan waktu 20 menit, selanjutnya didinginkan dan disaring, serta dikeringkan pada suhu 105 ºCmenggunakan hot plate. Tanin ekstrak daun jambu biji yang terbentuk diidentifikasi dengan menambahkan larutan gelatin 10%, dan hasilnya terbentuk endapan berwarna putih yang berarti tanin positif. Larutan FeCl3 10% bertetes-tetes ditambahkan pada filtrat hasil ekstraksi, jika warna yang terbentuk adalah hitam kehijauan, berarti tanin positif. Metode permanganatometri digunakan untuk menentukan kadar tanin. Variasi penambahan ekstrak tanin daun jambu bijike dalam natrium klorida adalah dengan konsentrasi 0 ppm, 65 ppm, 130 ppm, 195 ppm, 260 ppm, dan 325 ppm. Laju korosi dihitung dariberkurangnyamassa besi/waktu atau metode gravimetri.Hasil penelitian menunjukkan bahwa inhibitor ekstrak daun jambu biji  mampumengurangi laju korosi besi dalam media NaCl 3%. Konsentrasi inhibitor optimal untuk mencegah korosi adalah 130 ppmdengan laju korosi 0.045 mg/cm2hari dengan efisiensi inhibisi sebesar 38,36%.  Kata kunci: daun jambu biji, Tanin, korosi besi, inhibitor
PEMANFAATAN ENCENG GONDOK SEBAGAI BIO-ADSORBEN PADA PEMURNIAN MINYAK GORENG BEKAS Syamsudin Abdullah; Yustinah Yustinah
JURNAL KONVERSI Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/konversi.9.2.8

Abstract

Penggunaan minyak goreng secara kontinyu dan berulang-ulang pada suhu tinggi (160-180 oC) akan mengakibatkan terjadinya reaksi degradasi dan menghasilkan barbagai senyawa hasil reaksi. Minyak goreng juga mengalami perubahan warna dari kuning menjadi warna gelap. Produk reaksi degradasi akan menurunkan kualitas bahan pangan yang digoreng dan menimbulkan pengaruh buruk bagi kesehatan. Penelitian ini mempelajari kemampuan enceng gondok sebagai bio-adsorben untuk menurunkan kadar asam lemak bebas (FFA), bilangan peroksida (PV) dan warna gelap minyak goreng bekas (jelantah). Pengolahan dengan bio-adsorben diharapkan dapat meningkatkan kualitas minyak goreng bekas, sehingga umur pemakaian minyak goreng dapat diperpanjang. Enceng gondok diambil batangnya dan dikeringkan, selanjutnya digiling dijadikan serbuk. kemudiandilakukan proses delignifikasi  menggunakan NaOH dan dinetralkan dengan HCl. Campuran disaring diambil padatannya dan dicuci dengan aquades, selanjutnya padatan dikeringkan sehingga diperoleh bio-adsorben. Proses adsorbsi minyak goreng bekas  dilakukan dengan variabel massa bio-adsorben 2 sampai 10 gram. Minyak goreng bekas dan bio-adsorben dicampur dan diaduk pada temperatur konstan 110oC selama satu jam. Setelah itu minyak goreng disaring dengan vakum, dan minyak goreng yang sudah bersih dianalisa kadar FFA, bilangan peroksida, dan warnanya.Hasil analisis hasil berupa  kadar asam lemak bebas didapat kandungan FFA terendah terjadi pada massa 4 gram sebesar 0.64 %, bilangan peroksida terendah terjadi pada massa 6 gram sebesar 5 miligrek/milligram, nilai adsorbansi terendah terjadi pada massa 4 gram sebesar  0.5569 adsorbansi dan  bilangan penyabunan didapat kandungan NaOH terendah terjadi pada massa 4 - 10 gram sebesar 0.798Kata Kunci : minyak goreng bekas, enceng gondok, bio-adsorben, pemurnian