Sarwono Hardjomuljadi
Teknik Sipil Universitas Mercu Buana

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

ANALISIS PERBANDINGAN MODEL KONTRAK APBN DAN APBD TERHADAP MODEL KONTRAK FIDIC Ediyanto Arief; Sarwono Hardjomuljadi
Konstruksia Vol 11, No 2 (2020): Jurnal Konstruksia Vol 11 No. 2 Tahun 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (584.358 KB) | DOI: 10.24853/jk.11.2.8-101

Abstract

Pemerintah Indonesia menginvestasikan ratusan triliun rupiah setiap tahun dalam membangun infrastruktur. Kontrak konstruksi adalah salah satu jaminan untuk memastikan keberhasilan proyek, oleh karena itu klausula-klausulanya harus efisien, adil dan berimbang. Makalah ini terdiri dari perbandingan Syarat-Syarat Umum Kontrak (SSUK) APBN dan APBD terhadap model kontrak FIDIC General Conditions of Contract (GCC) 1999. Selain itu bertujuan untuk menganalisis sepuluh penyebab utama klaim yang sering terjadi pada proyek konstruksi di Provinsi Banten. Kemudian mencocokkan penyebab klaim pada SSUK APBN dan APBD, yang kemudian dibandingkan dengan FIDIC GCC. Metodologi yang digunakan untuk menentukan penyebab klaim tertinggi adalah Relative Important Index (RII). Analisis perbandingan menggunakan Metodologi Multistep. Berdasarkan hasil analisis faktor, ditemukan sepuluh faktor dominan yang menyebabkan klaim di Provinsi Banten, dengan tiga tertinggi : 1) ketersediaan dan kepemilikan lahan kerja, 2) ambigu dalam memaknai klausula kontrak, 3) perubahan desain. Hasil analisis menunjukkan bahwa FIDIC GCC adalah kontrak yang paling efisien, adil, dan seimbang terhadap manajemen klaim. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan untuk mengadopsi model kontrak FIDIC karena memiliki keuntungan pada sebagian besar aspek sebagai model kontrak konstruksi Indonesia.
ANALISIS PEMILIHAN MODEL KONTRAK KONSTRUKSI PEKERJAAN PEMBANGUNAN PEMBANGKIT LISTRIK (FIDIC RAINBOW CONTRACT 2017) Sevren Buana Putra; Sarwono Hardjomuljadi
Konstruksia Vol 11, No 2 (2020): Jurnal Konstruksia Vol 11 No. 2 Tahun 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.903 KB) | DOI: 10.24853/jk.11.2.33-45

Abstract

Dalam melaksanakan pekerjaan pembangkit diharuskan ada suatu kontrak konstruksi yang dapat menghargai semangat keadilan atau keseimbangan antara hak dan kewajiban serta mudah diinterpretasikan oleh para pihak. Makalah ini terdiri dari perbandingan In-House Form of General Conditions of Contract in Indonesia terhadap Model Kontrak FIDIC conditions of contract for EPC/Turnkey. Selain itu bertujuan untuk menganalisis penyebab utama klaim yang sering terjadi pada proyek konstruksi pembangkit listrik di Indonesia. Kemudian mencocokkan penyebab klaim pada In-House Form of General Conditions of Contract, yang kemudian dibandingkan dengan FIDIC conditions of contract for EPC/Turnkey. Metodologi yang digunakan untuk menentukan penyebab klaim tertinggi adalah Relative Important Index (RII), kemudian untuk analisis perbandingannya digunakan Metodologi Comparative. Berdasarkan hasil analisis faktor, ditemukan sepuluh faktor dominan yang menyebabkan klaim di pekerjaan pembangkit, dengan tiga tertinggi : 1) Variation Order, 2) Defective Works, 3) Changes in Scope of Work. Hasil analisis menunjukkan bahwa FIDIC conditions of contract for EPC/Turnkey adalah kontrak yang paling efisien, adil, dan seimbang terhadap manajemen klaim. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan untuk mengadopsi model kontrak FIDIC karena memiliki keuntungan pada sebagian besar aspek sebagai model kontrak konstruksi Indonesia.
ANALISIS RED CLAUSE KONTRAK KONSTRUKSI APBD DENGAN FIDIC RED BOOK 1999 Randy Angga Erland Kesek; Sarwono Hardjomuljadi
Konstruksia Vol 11, No 2 (2020): Jurnal Konstruksia Vol 11 No. 2 Tahun 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (437.726 KB) | DOI: 10.24853/jk.11.2.103-126

Abstract

Industri konstruksi saat ini telah menjadi sangat kompleks dan berisiko tinggi, sehingga diperlukan ikatan kerja yang baik dan berdasar hukum. Di Indonesia sendiri terjadi banyak kasus klaim dan sengketa konstruksi. Hal ini diakibatkan karena adanya perbedaan presepektif mengenai pasal-pasal dalam kontrak konstruksi dan kurangnya pemahaman tentang kontrak konstruksi tersebut. Setiap proyek konstruksi di daerah menggunakan dana APBD dimana setiap daerah membuat kontrak konstruksi sendiri sesuai dengan kebutuhan proyek konstruksi di daerah tersebut, sehingga setiap kontrak konstruksi yang dibuat berbeda-beda sehingga dapat berpotensi terjadinya klaim dan sengketa. Manfaat dari penelitian diharapkan dapat memberikan informasi untuk pengembangan kontrak konstruksi di kabupaten Halmahera Utara. Penelitian ini adalah penelitian mixed method, diawali dengan literature review. Uji pakar dilakukan dengan menggunakan Teknik Delphi. Kuisioner disusun berdasarkan studi literatur terhadap jurnal, buku dan penelitian terdahulu. Kuesioner menggunakan skala Likert berskala 6. Analisis faktor dilakukan dengan menggunakan SPSS 23.0 untuk menemukan faktor dominan yang berkaitan dengan pasal pada kontrak konstruksi APBD. Analisis kualitatif dilakukan dengan display data dan triangulasi data untuk membandingkan temuan dengan FIDIC Red Book tahun 1999. Berdasarkan hasil analisis kuantitatif ditemukan bahwa faktor paling dominan adalah ketersediaan tenaga kerja. Diatur pada pada kontrak konstruksi APBD di pasal 64. Personil dan/atau peralatan penyedia. Berdasarkan hasil analisis kualitatif dapat disimpulkan bahwa pada FIDIC Red Book 1999, pasal-pasal tersebut diatur lebih rinci dan lebih jelas mengenai hak dan kewajiban serta tanggung jawab setiap pihak sehingga dapat meminimalisir terjadinya misinterpretasi terhadap pasal-pasal tersebut.