Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Konsep Wasiat Wajibah dalam Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 180 Muhammad Muhajir
YUDISIA : Jurnal Pemikiran Hukum dan Hukum Islam Vol 12, No 1 (2021): YUDISIA: Jurnal Pemikiran Hukum dan Hukum Islam
Publisher : Program Studi Hukum Keluarga Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/yudisia.v12i1.9043

Abstract

This article aims to explain the basic concept of obligatory based on the letter al-Baqarah verse 180. This study uses a statutory approach, a comparative law approach and a conceptual approach. The results of this study indicate that the basic concept of determining the mandatory will is actually of benefit or goodness with istiḥsān rules that allow the transfer of the law of kulli (general) to juz'i (particular). The assumption of good (istiḥsān) is essentially goodness which is supported by the textual norms of the verses of the Qur'an. Thus, giving a mandatory will to the granddaughters as happened in the Middle East is very maslaḥat (good), because they do not get an inheritance share. Likewise, giving mandatory wills to adopted children and non-Muslim heirs is considered good and the fulfillment of a sense of justice in their lives. This provision becomes a lex specialist to make a will during his life with a certain level.Tulisan artikel ini bertujuan untuk menjelaskan mengenai konsep dasar wajibah berdasarkan surat al-Baqarah ayat 180. Penelitian   ini menggunakan pendekatan perundang-undangan, pendekatan perbandingan hukum dan pendekatan konseptual. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsep dasar penentuan wasiat wajibah sesungguhnya bernilai kemaslahatan atau kebaikan dengan kaidah istiḥsān yang memungkinkan pemindahan hukum kulli (umum) kepada juz’i (partikular). Anggapan baik (istiḥsān) hakikatnya ialah kebaikan yang ditunjang oleh norma-norma tekstual ayat al-Qur’an. Dengan  demikian memberikan wasiat wajibah kepada para cucu pancar perempuan seperti yang terjadi di Timur Tengah sangatlah maslaḥat (baik), sebab mereka tidak memperoleh bagian waris. Demikian pula memberikan wasiat wajibah terhadap anak angkat dan ahli waris non muslim dipandang baik dan terpenuhinya rasa keadilan terhadap kehidupan mereka. Ketentuan tersebut menjadi lex spesialis untuk berwasiat semasa hidupnya dengan kadar tertentu.
The Closure of Isbat For Polygamous Marriage on Legal Purpose Perspective Nihrul Bahi Alhaidar; Muhammad Muhajir; Syamsud Dhuha
AL-HUKAMA: The Indonesian Journal of Islamic Family Law Vol. 13 No. 1 (2023): June
Publisher : State Islamic University (UIN) of Sunan Ampel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/alhukama.2023.13.1.1-26

Abstract

After attendance, the enactment of the Supreme Court Circular (SEMA) Number 3 of 2018 answers the legal vacuum over isbat for Polygamous marriage. But in practice, the SEMA confuses its implementation. This study aims to analyze the application of polygamous marriage law in SEMA number 3 of 2018 and the juridical implications for justice, expediency, and legal certainty. This research includes normative legal research with statutory and conceptual approaches. Gustav Radbruch's theory of legal purpose is used as his analysis knife. The study concluded that closing the door of Isbat for Polygamous marriage is not the right solution because marriage isbat is one way to obtain legal guarantees in the eyes of the state. The aggrieved subject of the SEMA was a polygamous wife who could not take legal action in seeking justice. Judging from Gustav Radbruch's theory, SEMA number 3 of 2018 has not met the elements of legal objectives. The provisions in SEMA number 3 of 2018 only accommodate the interests of children. The rights of polygamous wives should be prioritized because the benefits received are more significant than tightly closing the door of isbat for Polygamous marriage. It is necessary to review SEMA number 3 of 2018 to contain concrete values of justice, expediency and legal certainty for children and wives.
Kontekstualisasi Hadis Pernikahan Dini Di Era Kontemporer Muhammad Muhajir
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Raushan Fikr Vol 10 No 1 (2021): Jurnal Ilmiah Mahasiswa Raushan Fikr
Publisher : Lembaga Kajian dan Pemberdayaan Mahasiswa UIN Prof. KH. Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (440.328 KB) | DOI: 10.24090/jimrf.v10i1.4664

Abstract

Pernikahan dini masih menjadi fenomena yang sering dilakukan oleh masyarakat, terutama di perdesaan atau masyarakat tradisional. Banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut. Salah satunya doktrin agama yang disalah pahami. Salah satu legitimasi adanya pernikahan dini adalah hadis dari ‘Aisyah RA., yang menyatakan bahwa Nabi menikahinya pada usia enam tahun dan menggaulinya pada usia sembilan tahun. Penelitian yang digunakan dalam penyusunan artikel ini adalah penelitian pustaka (library research). Metode yang penulis gunakan adalah metode deskriptif-kualitatif dalam menjelaskan hadis pernikahan dini Aisyah dengan teori kritik sanad dan matan hadis. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa yang menjadi patokan atau tujuan utama hadis tersebut bukanlah usia, melainkan kematangan lahir atau kesiapan fisik. Batas minimal usia hanyalah bersifat temporal yang dapat berubah mengikuti kondisi zaman, tempat dan adat istiadat.