Latar Belakang: Proses penuaan secara alamiah akan menimbulkan masalah fisik, mental, sosial, ekonomi dan psikologis. Gangguan psikososial yang dialami lanjut usia seperti ketergantungan pada orang lain, mengisolasi diri atau menarik diri dari kegiatan kemasyarakatan. Klien cenderung tidak mau berkomunikasi verbal dan akan berdampak pada emosi dan perasaannya. Pemberian terapi aktivitas kelompok stimulasi sensoris adalah agar klien mampu mengekpresikan perasaannya. Jadi, dengan mengekspresikan perasaan melalui terapi aktivitas kelompok stimulasi sensoris dapat mengurangi gangguan psikososial lanjut usia. Tujuan: mengetahui pengaruh terapi aktivitas kelompok stimulasi sensoris terhadap gangguan psikososial lanjut usia. Metode: quasi eksperimental design, non equivalent control group design dengan teknik pengambilan sampel yaitu purposive sampling terhadap 40 responden yang dibagi dalam 20 lansia untuk kelompok eksperimen dan 20 lansia untuk kelompok kontrol. Teknik pengumpulan data melalui observasi dan wawancara. Hasil: terdapat perbedaan nilai p dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, dimana pada kelompok eksperimen nilai p = 0,000 lebih kecil dari 0,05 dan pada kelompok kontrol p = 0,317. hal ini menunjukkan bahwa ada pengaruh terapi aktivitas kelompok stimulasi sensoris terhadap gangguan pikososial pada kelompok intervensi. Sedangkan pada kelompok kontrol yang tidak diberikan terapi aktivitas kelompok stimulasi sensoris tidak berpeluang mengalami penurunan gangguan psikologis. Kesimpulan: ada pengaruh yang bermakna terhadap gangguan psikososial lansia maka panti werda seyogyanya menyusun kegiatan tentang terapi aktivitas kelompok dilaksanakan secara berkesinambungan. Pendidikan keperawatan perlu membangun kerjasama dengan layanan pelayanan keperawatan dalam mengembangkan praktek keperawatan berbasis terapi komplementer terapi aktifitas kelompok.