Y. S. Ondho
Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro, Semarang

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Profil Leukosit Rusa Timor (Cervus timorensis) Betina pada Tiap Fase Berahi yang Disuplementasi Magnesium (Mg), Zinc (Zn), dan Selenium (Se) R. Indriastuti; D. Samsudewa; Y. S. Ondho
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 14, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.14.1.91-100

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suplementasi Magnesium (Mg), Zinc (Zn), dan Selenium (Se) terhadap total leukosit dan diferensial leukosit (persentase neutrofil, eosinofil, basofil, monosit, dan limfosit) Rusa Timor pada tiap fase berahi. Materi yang digunakan adalah 10 ekor Rusa Timor betina dan darah dari masing-masing rusa tersebut. Rusa diadaptasikan dan sebanyak 5 ekor diberi perlakuan suplementasi Mg, Zn, dan Se (T1) dan kontrol (T0) selama 8 minggu. Rusa disinkronisasi berahinya menggunakan implan Medroxy Progesteron Acetat (MPA) selama 16 hari. Sampel darah diambil pada tiap fase berahi untuk dianalisis kandungan mineral darah serta dihitung total leukosit dan diferensial leukositnya. Analisis data menggunaakan metode Ttest dan Mann Whitney U-test. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa total leukosit dan diferensial leukosit Rusa Timor tidak berbeda nyata (p>0.05) pada kedua kelompok. simpulan yang diperoleh adalah hampir semua parammeter menunjukkan nilai tertinggi pada fase estrus, kecuali eosinofil dan monosit yang tinggi pada fase diestrus dan metestrus. Mg, Zn, dan Se tidak berpengaruh nyata dalam merubah jumlah leukosit dan diferensial leukosit Rusa Timor. Kata kunci: Rusa Timor, leukosit, estrus, suplementasi mineral.
Pengaruh Body Condition Score (BCS) Berbeda terhadap Intensitas Birahi Sapi Induk Simmental Peranakan Ongole (SIMPO) E. Anisa; Y. S. Ondho; D. Samsudewa
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 12, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.12.2.133-141

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Body Condition Score (BCS) berbeda terhadap intensitas birahi pada sapi Simmental Peranakan Ongole. Sapi SimPO yang digunakan berjumlah 20 ekor. Parameter yang diamati adalah tingkah laku birahi, perubahan warna vulva, suhu vulva dan kebengkakan vulva. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkah laku birahi dengan intensitas tinggi yang paling sering muncul ditunjukkan oleh BCS 4 dan yang paling sering muncul ditunjukkan oleh BCS 3, warna vulva dengan intensitas merah tua yang paling sering muncul ditunjukan oleh BCS 5 dan intensitas merah pucat yang paling sering muncul ditunjukkan oleh BCS 3, suhu vulva dengan rata-rata paling tinggi (38,37OC) ditunjukkan oleh BCS 6 dan rata-rata suhu yang paling rendah (38,12OC) ditunjukan oleh BCS 4, rata-rata kebengkakan vulva dengan ukuran yang paling besar (5,31 cm) ditunjukan oleh BCS 6 dan ukuran yang paling kecil (4,38 cm) ditunjukan oleh BCS 5. Berdasarkan analisis statistik dapat disimpulkan bahwa sapi SimPO dengan BCS berbeda tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap tingkah laku birahi, perubahan warna vulva, suhu vulva dan kebengkakan vulva. Kata kunci : Intensitas birahi, body condition score dan sapi SimPO
Tingkah Laku Reproduksi Merak Hijau (Pavo Muticus) pada Umur yang Berbeda di UD. Tawang Arum Kecamatan Gemarang, Kabupaten Madiun N. D. Nareswari; D. Samsudewa; Y. S. Ondho
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 12, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.12.1.94-101

Abstract

Penelitian bertujuan untuk untuk mengetahui kebutuhan dasar merak hijau melalui tingkah laku reproduksinya dengan umur yang berbeda. Penelitian ini dilaksanakan pada Oktober  – Desember 2015 di UD. Tawang Arum, Desa Tawangrejo, Kecamatan Gemarang, Kabupaten Madiun. Parameter yang diamati adalah durasi, frekuensi dan pola tingkah laku reproduksi merak hijau. Penelitian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa merak hijau jantan berumur 10 tahun lebih banyak menampakkan tingkah laku reproduksi dibandingkan yang lain, begitupun pada merak hijau betina pada umur 10 tahun lebih banyak melakukan tingkah laku reproduksi berupa merespon merak hijau jantan dibandingkan lainnya. Aktivitas merak hijau lebih banyak digunakan untuk bertengger dan berjalan dibandingkan dengan tingkah laku reproduksinya.  Simpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan antara umur dengan tingkah laku reproduksi merak hijau.  Merak hijau jantan (umur 10 tahun) lebih banyak melakukan tingkah laku reproduksi jika dibandingkan dengan merak hijau jantan lainnya yang memiliki umur lebih muda(4 dan 5 tahun), yaitu melakukan  display sebanyak 2,5 kali dibandingkan merak hijau umur 4 tahun yang hanya 2 kali. Kata kunci : Tingkah Laku Reproduksi, Merak Hijau, Umur