Iskandar Iskandar
School of Electrical Engineering and Informatics Bandung Institute of Technology

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Variable step closed-loop power control with space diversity for low elevation angle High Altitude Platforms communication channel [Langkah variabel kontrol daya tertutup dengan keragaman ruang untuk sudut elevasi rendah pada kanal komunikasi HAPs] Iskandar Iskandar; Adit Kurniawan; Mohamad Erick Ernawan
Buletin Pos dan Telekomunikasi Vol. 14 No. 1 (2016): June 2016
Publisher : Centre for Research and Development on Resources, Equipment, and Operations of Posts and I

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17933/bpostel.2016.140101

Abstract

This paper proposes variable step closed loop power control algorithm combined with space diversity to improve the performance of High Altitude Platforms (HAPs) communication at low elevation angle using Code Division Multiple Access (CDMA). In this contribution, we first develop HAPs channel model which is derived from experimental measurement. From our experiment, we found HAPs channel characteristic can be modeled as a Ricean distribution because the presence of line of sight path. Different elevation angle resulting different K factor value.  This value is then used in Signal to Interference Ratio (SIR) based closed loop power control evaluation. The variable step algorithm is simulated under various elevation angles with different speed of mobile user. The performance is presented in terms of user elevation angle, user speed, step size and space diversity order. We found that the performance of variable step closed-loop power control less effective at low elevation angle. However our simulation shows that space diversity is able to improve the performance of closed loop power control for HAPs channel at low elevation angle.*****Kajian ini mengusulkan suatu algoritma kontrol daya langkah variabel loop tertutup dikombinasikan dengan keragaman ruang untuk meningkatkan kinerja komunikasi High Altitude Platforms(HAPs) pada sudut elevasi rendah menggunakan Code Division Multiple Access (CDMA). Kami berkontribusi untuk mengembangkan model kanal HAPs yang berasal dari pengukuran eksperimental sebelumnya. Dari percobaan tersebut, kami menemukan karakteristik kanal HAPs yang dapat dimodelkan sebagai distribusi Ricean karena kehadiran jalur tanpa penghalang. Eksperimen menunjukkan bahwa perbedaan sudut elevasi menghasilkan perbedaan nilai factor K. Nilai ini kemudian digunakan dalam Signal to Interference Ratio (SIR) berbasiskan evaluasi kontrol daya loop tertutup. Algoritma langkah variabel disimulasikan dibawah sudut elevasi yang berbeda dengan kecepatan yang berbeda dari pengguna vobile. Kinerja tersebut disajikan dalam hal sudut elevasi pengguna, kecepatan pengguna, ukuran langkah dan ketertiban ruang keanekaragaman. Kami menemukan bahwa kinerja langkah variabel kontrol daya loop tertutup kurang efektif pada sudut elevasi rendah. Namun simulasi kami menunjukkan bahwa ruang keragaman mampu meningkatkan kinerja kontrol daya loop tertutup untuk kanal HAPs di sudut elevasi rendah.  
Demand Forecast of 700 MHz Frequency Spectrum for LTE Mobile Broadband Services [Prakiraan Kebutuhan Spektrum di Frekuensi 700 MHz untuk Layanan Broadband Mobile LTE] Priambada Aryaguna; Iskandar Iskandar
Buletin Pos dan Telekomunikasi Vol. 15 No. 2 (2017): December 2017
Publisher : Centre for Research and Development on Resources, Equipment, and Operations of Posts and I

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17933/bpostel.2017.150202

Abstract

Spektrum frekuensi 700 MHz merupakan salah satu kandidat spektrum untuk layanan LTE di Indonesia. Pada awalnya spektrum ini digunakan untuk siaran televisi analog. Setelah periode peralihan digital, ada potensi 108 MHz bandwith yang dapat digunakan akibat transformasi penyiaran ke TV digital dan kemudian disebut digital dividen. Pada penelitian ini, sebuah model pertumbuhan digunakan untuk memperkirakan kebutuhan spektrum frekuensi untuk LTE. Makalah ini membahas perhitungan kebutuhan spektrum untuk frekuensi untuk layanan LTE dalam parameter seperti kepadatan penduduk, jenis area dimana LTE digunakan, dan penetrasi pelanggan. Kami menggunakan model difusi Bass untuk menghitung kebutuhan spektrum di jaringan LTE. Dalam penelitian ini ada dua kandidat spektrum frekuensi yang dapat digunakan, namun dengan karakteristik dan permasalahannya sendiri. Untuk spektrum di bawah 1 GHz, ada bandwith 25 MHz di kisaran spektrum frekuensi 800 MHz yang masih digunakan untuk layanan CDMA sampai saat ini. Spektrum 900 MHz juga memiliki bandwith 25 MHz, namun tetap digunakan untuk layanan GSM. Spektrum frekuensi lainnya, 1900 MHz dan 2100 MHz masing-masing lebar 26 dan 60 MHz, masih digunakan untuk teknologi WCDMA dan penggunaannya masih sangat tinggi  *****Frequency spectrum of 700 MHz is one of many candidates for LTE service establishment in Indonesia. At first, this spectrum is used for analog TV broadcasting. After the digital switchover period, there is 108 MHz bandwidth left because of the digital broadcasting transformation which called by digital dividend. A certain growth model is used to demand forecast the frequency spectrum needed for this digital dividend LTE. This paper aims to calculate the spectrum needs for the LTE services within a certain parameter, such as population density, type of area in which LTE is deployed, and subscriber penetration. We used Bass diffusion model to calculate the spectrum needs in LTE network. There are two frequency spectrum candidates which can be used with its own characteristics and problems. For spectrums below 1 GHz, there is a bandwidth of 25 MHz in the range 800 MHz frequency spectrum that is still used for CDMA services. The 900 MHz spectrum also has a bandwidth of 25 MHz and still used for GSM service. Another spectrum i.e. 1900 MHz and 2100 MHz, each of that have the width of 26 and 60 MHz, and still used for WCDMA technology with high utilization
5G Capacity Design Based on User Demand in Single High Altitude Platform Network Iskandar Iskandar
Buletin Pos dan Telekomunikasi Vol. 16 No. 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Centre for Research and Development on Resources, Equipment, and Operations of Posts and I

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17933/bpostel.2018.160205

Abstract

HAPS (High Altitude Platform Station) is an alternative technology of communication system that utilizes terrestrial and satellite systems. HAPS technology is in stratosphere layer with a height of 17-22 km above the earth's surface. HAPS has some advantages, which are wide range area, communication ability on line of sight (LOS), dan low propagation delay. One of the applications that can be employed in HAPS system is cellular with 5G technology. Cellular system is used in wireless communication since it has big capacity. This study analyzes the capacity of 5G cellular in single HAPS system in which the bandwidths used are 0.1 GHz and 1 GHz. Simulation result shows that outage probability using 0.1 GHz bandwidth resulting the capacity in single HAPS system, which is maksimum 550 users in reference cell can achive 10-15 and it also happen when using 1 GHz with maksimum 5500 users in reference cell*****HAPS (High Altitude Platform Station) adalah alternatif teknologi telekomunikasi sebagai pelengkap sistem eksisiting yaitu terestrial dan satelit. Salah satu aplikasi yang dapat digunakan dalam sistem HAPS adalah teknologi seluler 5G. Namun, interferensi merupakan salah satu masalah dalam mencapai kapasitas maksimum. Teknik multispot beam dan power control keduanya digunakan untuk mengatasi masalah tersebut. Teknik multispot beam ini berfungsi seperti pada sistem antena BTS terestrial. Akan tetapi antena multispot beam pada sistem HAPS ditempatkan berdekatan pada satu wahana atau platform HAPS. Oleh karena itu sinyal interferensi dari tiap pengguna akan menempuh jarak lintasan yang hampir sama dengan sinyal yang diinginkan. Berbeda dengan sistem BTS terestrial di mana setiap pengguna mendapat kontrol daya dari BTS yang berada di setiap sel. Panjang lintasan yang diambil oleh setiap sinyal pengguna berbeda sehingga nilai shadowing juga berbeda. Paper ini bertujuan untuk mengevaluasi kapasitas 5G seluler dalam sistem HAPS tunggal di mana bandwidth yang digunakan adalah 0,1 GHz dan 1 GHz. Hasil simulasi menunjukkan bahwa probabilitas outage menggunakan bandwidth 0,1 GHz menghasilkan kapasitas dalam sistem HAPS tunggal, maksimum 550 pengguna dan jika menggunakan 1 GHz maka maksimum jumlah pengguna adalah 5500 pengguna dalam referensi sel