Abstrak Pernikahan Semarga yang terjadi dalam kalangan masyarakat Tionghoa di Bandung pada awal abad ke 20 telah mengundang konflik budaya dan sekaligus membuka paradigma baru berupa kebebasan individu dalam memilih pasangannya tanpa batasan nama marga. Polarisasi pandangan dan tindakan terjadi dalam kedua keluarga bermarga Tan yang mencerminkan situasi masyarakat Bandung saat itu. Hal ini dibukukan dalam novel „Rasia Bandoeng“ yang diterbitkan 1918. Novel ini merupakan cerita nyata keluarga Tan Sim Tjong yang antara lain membahas konflik yang terjadi akibat pelanggaran adat pernikahan Tionghoa saat itu. Masyarakat Bandung mengenal Tan Sim Tjong sebagai nama Gang Simtjong dikawasan Citepus Bandung. Melalui pendekatan historis deskriptif, sosok dan jejak Tan Sim Tjong serta dukungannya dalam konteks pernikahan semarga dibahas secara terperinci dalam tulisan ini, dengan harapan karya ini bisa menggambarkan kearifan lokal dan mengisi perkembangan sejarah kota Bandung. Kata kunci: Tan Sim Tjong, Pernikahan Semarga, Hermine, Tionghoa Peranakan, Rasia Bandoeng Abstract Marriage within a clan took place in Chinese society in Bandung during the early 20th Century. It caused culture conflict, but at the same time created a new paradigm for individual freedom when people choice theirs partner without consideration to the family name. The polarity of ideas and their translation into action was typified by the intermarriage between two Tan families. The story of this was published in 1918 in a novel entitled “Rasia Bandoeng” (“The Secret of Bandoeng”). This novel tells the real story of Tan Sim Tjong’s family and deals with the conflicts arising from marrying within the same surname group, which was forbidden in the Chinese culture of that period. The people in Bandung know Tan Sim Tjong as Simtjong Alley in the Citepus district of Bandung. The paper takes a historical approach and gives detailed information about Tan Sim Tjong, his heritage and his support for the relationships and marriage within a clan, in order to maintain the local wisdom and the historical development in Bandung. Keywords: Tan Sim Tjong, Marriage within a Clan, Hermine, Chinese “Peranakan”, Rasia Bandoeng