Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

MEDIA SOSIAL WADAH FIKMIN: SEBUAH GENRE BARU SASTRA SUNDA Yeni Mulyani Supriatin
Jurnal Sosioteknologi Vol. 16 No. 2 (2017)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2017.16.2.5

Abstract

Penelitian ini mendeskripsikan beberapa lingkungan pendukung fikmin bahasa Sunda sebuah genre baru dalam sastra Sunda. Pembahasan lebih diarahkan pada masalah apa dan bagaimana fikmin bahasa Sunda dipandang dari lingkungan pendukungnya, seperti pengarang,  media sosial, dan karya-karya fikmin. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah mengungkapkan lingkungan pendukung fikmin( media sosial, pengarang, dan karya-karya fikmin). Penelitian ini menggunakan teori sosiologi sastra dan metode penelitiannya adalah deskriptif dengan teknik pencarian data ke lapangan dan wawancara dengan pegiat fikmin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fikmin bahasa Sunda dipandang sebagai genre baru dalam sastra Sunda, dari sisi pengarang tercatat meningkat drastis, dari sisi medsos menunjukkan bahwa fikmin hidupnya bergantung pada medsos dalam hal ini   facebook,  dan dari karya menggambarkan bahwa fikmin memiliki ciri karakteristik tertentu. 
SINTREN DARI SUDUT PANDANG SECONDARY ORALITY yeni mulyani supriatin
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 8, No 2 (2019): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v8i2.1330

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengungkapkan sintren, sebuah tradisi lisan sebagai primary orality yang bertransformasi dalam bentuk secondary orality. Masalah yang dibahas adalah bagaimana sintren dalam bentuk secondary orality? Apakah benar-benar berubah atau ke luar dari bentuk asalnya? Teori yang digunakan dalam penganalisisan data adalah pendekatan modern dan sudut pandang secondary orality. Metode yang digunakan adalah metode modern dengan teknik perbandingan dan penyimakan. Hasil penelitian menggambarkan bahwa sintren dalam bentuk secondary orality lebih variatif, fungsional, dan lebih menarik, baik dari aspek bentuk maupun tampilannya. Simpulan penelitian ini adalah bahwa secondary orality merupakan satu bentuk penerobosan baru agar sintren sebagai tradisi lisan lebih bertahan, lebih diketahui generasi masa kini, dan lebih bisa menembus zamannya
PERANG BUBAT, REPRESENTASI SEJARAH ABAD 14 DAN RESEPSI SASTRANYA yeni mulyani supriatin
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 10, No 1 (2018): PATANJALA VOL. 10 NO. 1, MARCH 2018
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (607.564 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v10i1.335

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengungkap peristiwa Perang Bubat yang terjadi pada abad ke-14 atau tahun 1357 M dan resepsi sastranya. Masalah yang dibahas adalah bagaimana latar belakang terjadinya Perang Bubat, reaksi, dan tanggapannya. Teori yang digunakan adalah resepsi sastra. Metode untuk pengumpulan data adalah kualitatif dengan menerapkan prinsip resepsi sastra. Hasil penelitian menggambarkan bahwa terjadinya Perang Bubat adalah Raja Sunda tidak tunduk pada kehendak Gajah Mada dan Gajah Mada ingin menyatukan Nusantara. Resepsi sastra terhadap Perang Bubat dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu resepsi dari aspek kesejarahannya, resepsi pengaruhnya terhadap penciptaan karya baru, dan resepsi terhadap struktur sastra.  Simpulan penelitian ini adalah peristiwa Bubat diresepsi setelah dua abad berlalu, yaitu pada abad ke-16  dan peristiwa tersebut diresepsi ulang pada abad ke-20-an. Hasil resepsi sastra  dari abad ke-18 sampai dengan abad ke-20 cukup beragam. Keberagaman resepsi itu menunjukkan bahwa terdapat perbedaan horizon harapan pembaca.  This study aims to reveal the events of the Bubat War that occurred in the 14th century or the year 1357 AD and literary receptions that emerged after the incident occurred. The issue discussed is how the background of the Bubat War and the reactions and responses to the event through literary receptions. The theory used in analyzing data is literary receptions. The method used for data collection is qualitative by applying the principle of literary receptions. The results of this study illustrate that the background of the Bubat War have two versions and both controversial, the first version because the King of Sunda entourage do not obey to the will of Gajah Mada, on the other hand, the second version is that Gajah Mada tactics in unifying the archipelago while the Kingdom of Sunda is a state that has not been submitted. Literary receptions to the War of Bubat can be grouped into three, they are the reception of its historical aspect, the reception of its influence on the creation of new works, and the reception of the literary structure. The conclusion of this research is  Bubat event was perceived after two centuries passed, in the 16th century and the event was redrawn in the 20th century. Results of literary receptions in the 18th century until the 20th century quite diverse. The diversity of the receptions shows the difference in the horizon of readers' expectations.