Juni Arifin Hidayat
MI Ma’arif Klangon Kalibawang Kulon Progo

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Peran Guru Dalam Menanggulangi Perilaku Bullying Pada Siswa Madrasah Ibtidaiyah Ma'arif Klangon Kalibawang Kulon Progo Yogyakarta Tahun Pelajaran 2018/2019 Juni Arifin Hidayat
At-Tajdid: Jurnal Ilmu Tarbiyah Vol 8 No 2 (2019): At-Tajdid
Publisher : Institut Studi Islam Muhammadiyah (ISIMU) Pacitan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (986.081 KB)

Abstract

Salah satu cara guru dalam menanggulangi perilaku bullying siswa MI Ma’arif Klangon Kalibawang Kulon Progo. Dimana pada tulisan ini dipaparrakan tentang jenis –jenis bullying yang sudah terjadi pada Madrasah. Dengan diuraikan beberapa jenis bullying dapat ditemukan upaya guru dalam mengatasinya secara sistematis dan periodik. Perilaku bullying di Madrasah memang sudah sering dilakukan oleh beberapa siswa, namun peran guru dalam mengatasinya masih kurang maksimal, sehingga perilaku tersebut masih belum bisa hilang dari tradisi dan perilaku siswa di Madarsah. Maka penanggulangan terhadap perilaku bullying oleh para guru merupakan suatu keniscayaan yang harus di lakukan secara intensif dan konsekwen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis –jenis bullying yang telah terjadi di MI Ma’arif Klangon Kalibawang Kulon Progo tahun 2018, bagaimana peran guru dalam menanggulanginya. Penelitian ini menggunakan pendekatan field research yang bersifat deskriptif kualitatif, jenis metode lapangan yang menguraikan hasil dari data lapangan yang dilakukan secara langsung. Adapun pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Kemudian data tersebut diinterpretasikan dan dianalisis. Hasil penelitian ini menunjukkan. Pertama, jenis jenis bullying yang telah terjadi di MI Ma’arif Klangon Kalibawang Kulon Progo terdiri dari dua bentuk, yaitu pertama bentuk bullying fisik yang meliputi : menindih, pukul –pukulan, bermain hantu-hantuan, menyipratkan air, dorong-dorongan disaat salat. Sedangakan yang kedua adalah bentuk bullying non fisik berupa kata-kata verbal dan non verbal, seperti perkataan jelek yang disampaikan kepada temannya, dan juga perilaku yang membahayakan teman lainya. . Kedua Peran guru dalam menanggulangi perilaku bullying di MI Ma’arif Klangon Kalibawang Kulon Progo terbagi dalam tiga tahapan. Pertama terhadap perilaku bullying yang bersifat fisik, para guru langsung memanggilnya dan memberikan hukuman langsung sesuai dengan tingkat perilaku bullying yang dilakukan dengan pantauan secara intensif. Kedua terhadap perilku bullying yang bersifat non fisik para guru langsung memberikan teguran dan nasehat yang benar agar tidak melakukan perbuatan bullying karena perbuatan tersebut membahayakan baik bagi dirinya, sekolah maupun orang tuanya dan masyarakat luas. Sedangkan tahapan yang ketiga adalah merupakan bullying dilakukan secata rutin dan terus menerus dengan memanggil orang tuanya dan bersamanya memberikan terapi, perhatian dan tuntunan yang sangat intensif, sistematis dan kebersamaan sampai siswa tersebut berhenti untuk melakukan perikalu bullying. Hal ini sesuai dengan peran guru sebagai mediator dan fasilitator, dan juga sebagai penasehat.
UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA DAN MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK DENGAN STRATEGI SOSIODRAMA PADA MUATAN BAHASA INDONESIA KELAS VI MI MA’ARIF KLANGON TAHUN PELAJARAN 2021/2022 Juni Arifin Hidayat
PEDIR: Journal of Elementary Education Vol 2 No 1 (2022): PEDIR: Journal of Elementary Education
Publisher : Pedir Research Institut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1085.185 KB)

Abstract

Abstract:. This study aims to determine the speaking skills and learning motivation of students by applying sociodrama strategies. The research was carried out in class VI of MI Ma'arif Klangon, Salam District, Magelang Regency, Central Java Province, with details of the research subjects of 8 students of class VI MI Ma'arif Klangon. Consisting of 2 male students and 6 female students this was carried out in 3 cycles, where each cycle was carried out 1 time for 1 week. Researchers used the methods of observation, interviews, documentation, and questionnaires in collecting data. The instruments used were observation sheets, student questionnaires, and interview instruments. The results showed that through the implementation of sociodrama strategies in Indonesian language lessons, students' speaking skills improved. The percentage of students' speaking skills increased both in cycle I to cycle II and cycle II to cycle III. The speaking skill of students before the implementation of the cycle action is still very low. After taking action in the first cycle, the percentage of students' speaking skills was 38.32% with sufficient criteria. The second cycle experienced an increase in speaking skills, namely to 55.83% with sufficient criteria. Meanwhile, in the third cycle there was an increase compared to the first and second cycles to 74.16% with good criteria. Through the application of sociodrama strategies in Indonesian language lessons, students' learning motivation has increased. The success of students' learning motivation has increased by reaching a percentage of 90.20% with good criteria. That means that the application of sociodrama strategies in Indonesian language lessons can increase students' learning motivation by 6.87%. The percentage in the first cycle was 77.70%, in the second cycle it reached 83.33%, while in the third cycle it reached 90.20% with good criteria.