Damayanti Damayanti
Faculty of Medicine, Airlangga University Surabaya

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Penuaan Kulit: Patofisiologi dan Manifestasi Klinis Ahmad Zahruddin; Damayanti Damayanti
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 30 No. 3 (2018): DESEMBER
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (553.722 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V30.3.2018.208-215

Abstract

Latar belakang: Proses penuaan kulit merupakan proses fisiologis yang tidak dapat dihindari. Kulit merupakan bagian tubuh yang paling sering terpapar oleh faktor-faktor luar terutama radiasi sinar ultraviolet, dan karena terlihat oleh orang lain sehingga akan memengaruhi kehidupan sosial individu. Tujuan: Mengetahui patofisiologi dan manifestasi klinis penuaan kulit. Telaah Kepustakaan: Penuaan kulit yang terjadi pada seorang individu merupakan gabungan dari penuaan kulit intrinsik dan penuaan kulit ekstrinsik. Penuaan kulit intrinsik merupakan proses alami yang terjadi seiring bertambahnya usia, dipengaruhi oleh ras, jenis kelamin, gen, hormon, dan sebagainya, sedangkan penuaan kulit ekstrinsik dipengaruhi oleh berbagai faktor dari lingkungan, seperti gaya hidup, polusi, serta terutama paparan sinar ultraviolet (photoaging). Kedua proses penuaan tersebut akan menyebabkan peningkatan produksi radikal bebas, kerusakan sel, penurunan sintesis matriks ekstraseluler, serta peningkatan aktivitas enzim yang mendegradasi kolagen. Simpulan: Dasar patofisiologi penuaan kulit terutama disebabkan oleh peningkatan radikal bebas, akibat pertambahan usia maupun paparan sinar ultraviolet, sehingga menyebabkan kerusakan sel dan jaringan pada lapisan-lapisan dan adneksa kulit yang akan tampak sebagai manifestasi klinis penuaan kulit.
Konsep Patomekanisme Erupsi Obat Terkini Damayanti Damayanti
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 31 No. 3 (2019): DESEMBER
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (59.79 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V31.3.2019.136-141

Abstract

Latar Belakang: Erupsi obat terjadi sekitar 30-45% dari adverse drug reaction (ADR) dengan peningkatan angka kejadian di negara berkembang sebesar 2-5 %. Erupsi obat dapat menimbulkan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi sehingga diperlukan pemahaman mengenai patomekanisme erupsi obat, yang akan bermanfaat pada pencegahan dan penatalaksanaannya. Tujuan: Memahami perkembangan terkini konsep patomekanisme erupsi obat. Telaah Kepustakaan: Erupsi obat merupakan respons yang tidak diinginkan terhadap pemberian obat dengan dosis normal pada manusia. Angka kejadian ADR di rumah sakit adalah 6,5% denganĀ  bentuk terbanyak berupa erupsi obat dengan lesi pada kulit. Konsep patomekanisme pada erupsi obat terus berkembang. Obat dapat menstimulasi sistem imun dengan membentuk hapten-carrier complex, yaitu pada konsep hapten-prohapten. Obat juga dapat menstimulasi sistem imun melalui sifat farmakologisnya, melalui ikatan nonkovalen dengan reseptor imun, yaitu T cell receptor (TCR) atau human leukocyte antigen (HLA), yang terdapat pada p-i concept (pharmacologic interaction). Ikatan obat pada molekul HLA dapat mempunyai 2 akibat. Bila obat dapat memodifikasi molekul HLA, akan terbentuk peptida yang berbeda (altered peptide model). Walaupun demikian, perubahan peptida tidak diperlukan untuk membuat peptide-HLA complex bersifat imunogenik; bila obat berikatan dengan HLA, maka gabungan dari alteredĀ  HLA dan peptida normal dapat bersifat imunogenik dan menstimulasi sel T (altered pHLA model). Selain itu, konsep patomekanisme erupsi obat berdasarkan dasar genetik (keterkaitan dengan HLA) dapat bermanfaat pada pembuatan data dasar genetika. Simpulan: Perkembangan konsep patomekanisme erupsi obat dapat menjadi dasar pada perkembangan pencegahan serta penatalaksanaannya.