Kadek Saputra
Universitas Udayana

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The Differences of Inpatients’ Satisfaction Level based on Socio-Demographic Characteristics Ni Komang Ayu Adnya Dewi; Ni Putu Emy Darma Yanti; Kadek Saputra
Jurnal Ners Vol. 15 No. 2 (2020): OCTOBER 2020
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jn.v15i2.20610

Abstract

Introduction: Assessing the quality of nursing care has become a global health issue. especially for caregivers and recipients of care in the inpatient department. Patient satisfaction is one of the  indicators to measure quality of nursing care. This study aimed to identify the differences of patient satisfaction level in inpatient ward based on socio-demographic characteristics at Siloam Hospitals Bali.Methods: This study was cross-sectional design with descriptive comparative and correlation methods. Patient satisfaction data were collected using the Patient Satisfaction with Nursing Care Quality Questionnaire (PSNCQQ) that was provided after the patient was discharged. Purposive sampling technique was used to determine 107 samples. The analytical tests used in this study were the Spearman correlation test, Mann-Whitney test and Kruskal-Wallis test.Results: The results of this study showed that there was a significant weak and negative correlation between the level of satisfaction and age of the patient (p = 0.017; r = -0.231; α <0.05). There were significant differences of patient satisfaction based on marital status (p = 0.036; α <0.05) and nationality status (p = 0.001; α <0.05), but there were no differences in patient satisfaction based on sex (p = 0.276; α <0.05) and education level (p = 0.434; α <0.05).Conclusion: This study concluded that social demographic characteristics of patients can influence the satisfaction, but only on age, marital and nationality status. This showed that inpatients provide good satisfaction evaluations of nursing care. The optimal nursing care needs to be maintained and improved, either routine evaluation or sustainable program development.
HUBUNGAN KEBIASAAN POSISI DUDUK DENGAN GANGGUAN MUSKULOSKELETAL PADA PENABUH DI BANJAR KEBALIAN DESA SUKAWATI I Wayan Gede Arya Jayadiatmika; Oka Ari; Made Suindrayasa; Kadek Saputra
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 2 (2025): April 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i02.p08

Abstract

Penabuh gamelan di Bali umumnya memainkan alat musik dalam posisi duduk bersila dalam waktu lama yang berpotensi menimbulkan gangguan muskuloskeletal. Gangguan muskuloskeletal menjadi salah satu keluhan umum yang dapat menurunkan kenyamanan, produktivitas, dan kualitas hidup para penabuh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kebiasaan posisi duduk dengan keluhan muskuloskeletal pada penabuh di Banjar Kebalian, Desa Sukawati. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif korelatif dan teknik total sampling yang melibatkan seluruh penabuh aktif yang tergabung dalam Sekaa Gong Banjar Kebalian dan Sanggar Tabuh Prakempha. Pengumpulan data dilakukan secara langsung (door to door) melalui instrumen kuesioner posisi duduk dan Nordic Body Map (NBM) untuk mengidentifikasi tingkat risiko keluhan muskuloskeletal. Data dianalisis menggunakan uji chi-square untuk mengetahui hubungan antara variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 42,3% penabuh menggunakan posisi duduk bersila saat menabuh dan mengeluhkan nyeri pada punggung bawah, bahu, lengan, serta tungkai. Sebagian besar responden berada dalam kategori risiko rendah (75%). Hasil uji statistik menunjukkan nilai signifikansi sebesar p = 0,794 (p > 0,05), yang mengindikasikan tidak terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara posisi duduk dengan keluhan muskuloskeletal pada penabuh. Namun demikian, aktivitas menabuh yang bersifat repetitif, dilakukan dalam posisi duduk statis, serta melibatkan gerakan berulang secara intensif, dapat menjadi faktor pemicu munculnya keluhan muskuloskeletal, terutama pada area tangan, leher, punggung, dan pergelangan tangan bagian tubuh yang paling rentan terhadap gangguan akibat postur yang tidak ergonomis dan beban kerja yang berlebihan.