Susilo Wisnugroho
Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

DESAIN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA UNTUK STASIUN RADAR PANTAI DI BUKIT TINDOI, KABUPATEN WAKATOBI Susilo Wisnugroho; Salasi Wasis Widyanto; Ma’muri Ma’muri; Muhammad Agus
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) adalah salah satu potensi pembangkit energi baru dan terbarukan dan ramah lingkungan. Indonesia yang berada di daerah khatulistiwa, keseluruhan wilayahnya dilalui matahari setiap tahunya. Kabupaten Wakatobi yang secra geografis terletak pada 05015’00”-06010’00” LS dan 123015’00”-124045’00” BT, keseluruhan wilayahnya merupakan Taman Nasional. Taman Nasional Wakatobi mempunyai luas wilayah perairan laut ±18.377,31 km2. Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan (LPTK) yang berada di Wakatobi memiliki fasilitas monitoring untuk pengawasan berupa instalasi radar pantai terintegrasi dengan Automatic Identification System (AIS). Kendala dalam operasional radar pantai ini adalah supply listrik dari PLN yang belum mencapai stasiun radar pantai di bukit Tindoi. Solusi yang dapat dipakai sebagai sumber energi adalah dengan PLTS dan genset. Makalah ini membahas tentang perancangan secara teknis PLTS sistem off grid untuk stasiun radar pantai LPTK. Hasil pengujian menunjukkan kebutuhan energi untuk stasiun radar pantai ini sebesar 45550 Wh. Komponen PLTS yang dibutuhkan untuk memenuhi energi tersebut terdiri atas 60 photovoltaic dengan kapasitas setiap panel 260 Wp, dipasang dengan sudut kemiringan 150 menghadap utara. Kapasitas charge controller sebesar 60A, 150 V sebanyak 5 unit. Kapasitas baterai sebesar 2400Ah, 48 volt. Kapasitas inverter dengan sistem tegangan input 48 VDC, dan output daya kontinyu 3500VA, 220 VAC, 50Hz.
PEMANFAATAN TENAGA ANGIN SEBAGAI PELAPIS ENERGI SURYA PADA PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA HIBRID DI PULAU WANGI-WANGI Salasi Wasis Widyanto; Susilo Wisnugroho; Muhammad Agus
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Energi angin sebagai salah satu energi yang terbarukan memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai energi alternatif bagi energi dari bahan bakar fosil. Potensi energi alternatif terbarukan lainnya yang juga diklaim memiliki kans besar terutama di daerah pesisir dan pulau-pulau kecil adalah tenaga surya. Keduanya disebut Pembangkit Listrik Tenaga Hibrid (PLTH) jika diintegrasikan kinerjanya. Masalah klasik dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) adalah tidak kontinyunya intensitas radiasi matahari yang bisa dimanfaatkan, terutama saat mendung, hujan, dan malam hari. Pelapis energi yang dimungkinkan bisa menutupi kelemahan ini adalah Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB), namun energi ini juga memiliki masalah dari sisi distribusi kecepatannya yang relatif rendah dan besar kecepatannya fluktuatif. Tujuan dilakukannya penelitian ini difokuskan untuk mengetahui kecepatan angin di Pulau Wangi-wangi, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, khususnya saat intensitas radiasi matahari menurun, sehingga bisa diketahui apakah pemanfaatan tenaga angin sebagai pelapis energi surya merupakan langkah yang efektif atau tidak. Metode utama yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik non statistik menggunakan grafik. Hasil pengolahan data mengungkap bahwa rata-rata kecepatan angin maksimal sebesar 2,847 m/s, sehingga potensi daya listrik maksimal sebesar 37,160 Watt. Rata-rata kecepatan angin tertinggi saat malam hari sebesar 2,877 m/s dan kecepatan angin ratarata setahun saat hujan sebesar 2,405 m/s. Kesimpulannya adalah rata-rata kecepatan angin sepanjang hari pada tahun 2017 di kawasan ini tidak bisa mencapai standar minimal kecepatan angin yang dapat membangkitkan listrik (minimal 3,3 m/s), sehingga pemanfaatan energi angin sebagai pelapis energi surya pada PLTH kurang efektif, kecuali jika digunakan turbin angin yang bisa bekerja dengan kecepatan angin rendah.