Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

STATUS DAN IDENTITAS SOSIAL SAUDAGAR BATIK LAWEYAN DALAM INTERIOR DALEM INDIS DI AWAL ABAD KE-20 Dhian Lestari Hastuti
Dewa Ruci: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 7, No 1 (2011)
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (954.644 KB) | DOI: 10.33153/dewaruci.v7i1.983

Abstract

The article is the research result dealing with the bearing process and interior visual structure of internal house (dalem) in the house of the Laweyan Batik merchant in Surakarta-Central Java at the early of 20th century. In this time, the interior of internal house (dalem) for Laweyan society is a status symbol and social identity because they are part of the marginal society in social life. The success in managing the business of printing batik does not move up their social class from lowerclass to upper class (priyayi). Their profession as seller places them in lower-class (kawula). The internal house (dalem) context as part of heritage building in order to get social status and identity is toughened by historical and cultural approaches. Those approaches able to explain how the cultural system forms a social system, then, it actualizes in the form of culture: artefact of internal house (dalem) in the house of batik’s merchant. The conclusion of the research is the Laweyan Batik merchants have experienced metamorphosis from the lawe market society into an exclusive Batik Village. The sharing system of social class which has done by Dutch government, empire, or urban development based on the ethnicity has a role in parallelizing the Laweyan Batik merchant with priyayi belonging to upper class. The merchants place the internal house (dalem) as sacred area as the form of their fighting in creating the self identity. The transformation is influenced by a blueprint measurement which refers to loji building design. The sacredness of the area is kept even though it is without mancapat pattern. The function displacement happens because of need adjustment of places of the merchants. The interior design of internal house (dalem) supported by symbolism in Javanese culture and modern Europe style, Art Nouveau, and Art Deco is as the form of acculturation of visual design giving solution in shaping the social identity of the merchants. Keywords: Internal house, marginal, identity, merchants of batik Laweyan-Surakarta
STRUKTUR DAN FUNGSI DESAIN INTERIOR RUMAH PERANAKAN TIONGHOA DI SURAKARTA PADA AWAL ABAD KE-20 Dhian Lestari Hastuti
Pendhapa Vol 3, No 2 (2012)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (705.997 KB) | DOI: 10.33153/pendhapa.v3i2.1201

Abstract

Peranakan Tionghoa-Indonesia adalah hasil dari kontak dua budaya antara Tionghoadan Nusantara yang berlangsung ratusan tahun dan mengakibatkan asimilasi darikedua budaya. Rumah adalah wujud asimilasi dari kontak dua budaya tersebut. Fokusdari penelitian ini adalah desain interior rumah peranakan Tionghoa-Indonesia sebagaihasil dari asimilasi kedua budaya di Pecinan Surakarta. Rumah dianggap sebagai“way of life” bagi mereka sebagai bentuk mempertahankan hidup untuk mencapaikeseimbangan hidup. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan strategipenelitian studi kasus tiga rumah rumah di area Pecinan Pasar Gedhe, kelurahanKepatihan Wetan. Pendekatan historis dan budaya digunakan untuk memperkuatkonteks dari obyek rumah yang menjadi studi kasus. Landasan teori yang digunakanuntuk membantu analisis adalah kebudayaan, filsafat Cina, Feng-Shui, polapemukiman dan ilmu desain interior secara formal. Hasil dari penelitian adalah untukmenjaga keseimbangan dalam rumahnya masyarakat peranakan Tionghoa tetapmempertimbangkan Feng-Shui dalam menjawab kebutuhan energi baik agar bisahadir di dalam rumah. Budaya yang mempengaruhi desain interior rumah peranakanTionghoa adalah budaya Jawa dalam bentuk program ruang yang telah diadaptasidengan budaya Cina dan budaya Eropa dalam program ruang dan visual desaininterior. Kebutuhan untuk bertahan hidup dan menjawab perkembangan zaman,lebih mereka utamakan dalam bentuk visual desain interior dengan pertimbangansisi fungsional.Kata kunci: Peranakan Tionghoa, desain interior rumah, Feng Shui