Diah Apriani Atika Sari
Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA BANARAN KECAMATAN GALUR KABUPATEN KULON PROGO MELALUI PENDEKATAN PARIWISATA BERBASIS LINGKUNGAN (ECOTOURISM) Anti Mayastuti; Diah Apriani Atika Sari; Okid Parama Astirin
Journal of Law, Society, and Islamic Civilization Vol 5, No 2: Oktober 2017
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jolsic.v5i2.50567

Abstract

The geographic, demographic, social and economic conditions of the Banaran people living in the coastal areas of Kulon Progo Regency are potential areas that can be developed to improve the welfare of local communities. The coastal area of Banaran village is a potential area for the development of regional tourism. The potential of coastal tourism that can be developed include Trisik Beach. However, the potential of this tourism has not been managed optimally and the availability of adequate facilities and infrastructure. Trisik Beach is also a place for green turtles (chelonian mydas) to spawn. The green turtle (chelonian mydas) is a species that lives in the sea and is currently facing a threat of extinction in the wild in the future. The threat of extinction of green turtles (chelonian mydas) due to human actions, among others, caused by: excessive coastal development, catching turtles to take eggs, meat or shells. This situation is exacerbated by the lack of knowledge and awareness of the Banaran Village community to participate in conserving the turtle habitat.Keywords: community empowerment, eco-tourism, nature sanctuary villageKondisi geografis, demografis, sosial dan ekonomi masyarakat Banaran yang bertempat tinggal di wilayah pesisir Kabupaten Kulon Progo merupakan potensi daerah yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan kesejateraan masyarakat lokal. Kawasan pesisir Desa Banaran merupakan area yang cukup potensial untuk pengembangan pariwisata daerah. Potensi pariwisata pantai yang dapat dikembangkan antara lain Pantai Trisik. Namun demikian potensi pariwisata ini belum dikelola secara optimal serta belum tersedianya sarana dan prasarana yang memadai. Pantai Trisik juga merupakan tempat bagi penyu hijau (chelonian mydas) untuk bertelur. Penyu hijau (chelonian mydas) merupakan spesies yang hidup di laut dan saat ini menghadapi ancaman kepunahan di alam liar yang tinggi pada waktu yang akan datang. Ancaman punahnya penyu hijau (chelonian mydas) akibat perbuatan manusia antara lain disebabkan oleh: pembangunan daerah pesisir yang berlebihan, penangkapan penyu untuk diambil telur, daging atau cangkangnya. Situasi ini diperburuk dengan minimnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat Desa Banaran untuk ikut melestarikan habitat penyu.Kata kunci : pemberdayaan masyarakat, eco-tourism, desa wisata suaka alam
MEMBANGUN KETAHANAN MASYARAKAT BERBASIS GENDER MELALUI ADAPTASI PERUBAHAN IKLIM Anti Mayastuti; Diah Apriani Atika Sari
Journal of Law, Society, and Islamic Civilization Vol 4, No 2: Oktober 2016
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jolsic.v4i2.50494

Abstract

Climate change caused by global warming bring harmful effects to people's lives the world. In this case the women most vulnerable to climate change impacts. In addition to the disasters caused, as well as environmental degradation worsen the quality of their lives. In the social and cultural construction, women are responsible for fulfilling and managing the domestic needs of the household. The role of women is vital in life spearhead in building community resilience to adapt in the face of climate change. It takes skill to adapt and proficiency in making the right decision in the face of climate change impacts.Keyword: woman. adaptation, climate changePerubahan iklim yang terjadi akibat pemanasan global membawa dampak membahayakan bagi kehidupan masyarakat dunia. Dalam hal ini perempuan paling rentan terkena dampak perubahan iklim. Selain pada bencana yang ditimbulkan, juga penurunan mutu lingkungan yang memperburuk kualitas hidup mereka. Dalam konstruksi sosial dan budaya, perempuan dianggap bertanggung jawab memenuhi dan mengelola kebutuhan domestik rumah tangga. Peran perempuan yang sangat vital dalam kehidupan menjadi ujung tombak dalam membangun ketahanan masyarakat agar dapat beradaptasi dalam menghadapi perubahan iklim. Dibutuhkan keterampilan untuk beradaptasi dan kecakapan dalam pengambilan keputusan yang benar dalam menghadapi dampak perubahan iklim.Keyword : perempuan. adaptasi, perubahan iklim