Suharji Suharji
ISI Surakarta

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

WIRENG KALANA TOPENG DI ISTANA MANGKUNEGARAN SURAKARTA Suharji Suharji
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 10, No 1 (2012)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1376.615 KB) | DOI: 10.33153/glr.v10i1.1381

Abstract

Kalana Topeng at Mangkunegaran Palace called as wireng based on its heroism traits. Wireng Topeng Kalana included in heroic dance that represent personality of character who falling in love. Wireng Kalana Mangkunegaran is affected by its leadership spirit with glorious, authority, assertive, and energetic traits. Wireng Kalana Mangkunegaran has heroism traits. As one of single dances, it often accompanied with Javanese gamelan music sound Laras Pelog Patet 6, gendhing Pathetan, Ada-ada Greget Saut Sampak, Liwung, Ladrang Pucung Rubuh, Lancaran Bendrong, Ladrang Eling-eling Wantah and Sampak. There is topeng (mask) for make up. The wardrobe especially for head cover uses tekes malang, sumping, shoulder brace, bracelet, and ring. It also uses necklace in kace motive with pendok on back, complete clothes with red cinde pants, fabrics in rapekan, timing epek, boro samir and sampur model. There is binggel for ankle. Kalana character has rugged and awkward traits. The dance is begun with maju beksan, main beksan, and mundur beksan. Key words :  wireng, topeng, kalana, Mangkunegaran
TARI WAROK SURO INDENG SEBAGAI EKSPRESI SENI DAN UPACARA RITUAL MASYARAKAT JRAKAH KECAMATAN SELA KABUPATEN BOYOLALI Suharji Suharji
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 7, No 1 (2009)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5886.581 KB) | DOI: 10.33153/glr.v7i1.1269

Abstract

Abstrak Pertunjukan Tari Warok Suro Indeng pada awal debutnya sebagai sebuah ekspresi seni kelompok masyarakat, kemudian berkembang dilingkungan masyarakat Desa Jrakah sebagai bagian dari upacara adat tradisi saparan yang laksanakan bertepatan dengan bersih dusun. Upacara ritual dianggap sebagai keharusan untuk memperoleh ketenangan batin, berkaitan erat dengan kondisi sosial budaya pendukungnya. Kehadiran Tari Warok Suro Indeng sebagai ekspresi masyarakat Desa Jrakah merupakan bentuk sinkretis. Melalui sesaji disertai pertunjukan Tari Warok Suro Indeng penuh dengan tindakan simbolis. Masyarakat berusaha mengadakan komunikasi dengan kekuatan adi kodrati sehingga dalam kegiatan upacara terjadi hubungan dua arah yaitu secara vertikal dan horisontal. Secara vertikal masyarakat Jrakah berusaha mengadakan komunikasi dengan Tuhan dan leluhurnya serta arwah yang anggap suci untuk mendapatkan keselamatan, berkahnya demi kelangsungan hidupnya, secara horisontal menumbuhkan rasa kebersamaan, kesetia kawanan yang didasari rasa saling membantu, menghormati sehingga tercapai kegoyong-royongan hidup bersama. Dengan dilandasi kepercayaan terhadap kekuatan adikodrati, upacara adat tradisi saparan yang laksanakan bertepatan dengan bersih dusun yang dilengkapi pertunjukan Tari Warokan Suro Indeng, memiliki penuh makna menyangkut norma serta tindakan sosial, untuk menjaga kelangsungan hidup masyarakat Desa Jrakah sebagai penyangganya.  Keyword : Suro Indeng, sinkretisme, tari rakyat.
GATHUTKACA GANDRUNG: SEBUAH STUDI TENTANG PSIKOLOGI KARAKTER TOKOH DAN BENTUK DALAM TARI GAYA SURAKARTA Suharji Suharji
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 9, No 1 (2011)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1687.291 KB) | DOI: 10.33153/glr.v9i1.1357

Abstract

Gathutkaca Gandrung dance is a single dance that symbolizes character of Gathutkaca who falling in love. Gathutkaca has a jolt caused inner conflict. His behavior presented in this dance full of inner conflict for loved his cousin or took his beloved woman whom have gotten marriage proposal submitted by other. Finally, Gathutkaca understood that he could overcome this  conflict through a assertiveness. The gesture when Gathutkaca Gandrung (falling in love) categorized into three parts: 1) maju beksan; 2) beksan; dan 3) mundur beksan. Gathutkaca Gandrung dance began with music of ada-ada greget, and then Gending Sampak with kendhang opening. The next was suwuk and followed by sendhon tlutur jugag. Beksan categorized into four parts. Parts I began with opening of  Ketawang Kinanthi Pawukir, followed by  ada-ada greget saut wantah. Parts II was musical instrument of Gending Lancaran Bendrong especially ompak. Parts III was Gending Ladrang Pucung Rubuh in rime of dados for merong and ngelik. Parts IV was kiprahan Gending Lancaran Bendrong and then suwuk. Mundur beksan was the last performance which Gending Sampak Laras Slendro pathet Manyura presented be its ending. Keywords :  Gandrung, beksan of dance, Gathutkaca.Â