This Author published in this journals
All Journal Greget
Sutarno Haryono
Program Studi Seni Tari Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

JARANAN POGOGAN TEGUH RAHAYU DESA SUGIHWARAS, PRAMBON, KABUPATEN NGANJUK (KAJIAN HOLISTIK) Marinda Lisa Anggraini; Sutarno Haryono
Greget Vol 17, No 2 (2018)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.433 KB) | DOI: 10.33153/grt.v17i2.2304

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan dan mengkaji secara anilitis tentang Jaranan Pogogan Teguh Rahayu. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan kritik seni holistik. Tahap penelitian yang digunakan adalah pengumpulan data dengan melakukan observasi, wawancara, dan studi pustaka. Seluruh data yang didapat kemudian di analisis dengan menggunakan pendekatan kritik holistik yang mencakup faktor genetik, faktor objektif serta faktor afektif. Hasil temuan bahwa Kesenian Jaranan Pogogan Teguh Rahayu merupakan kesenian yang diciptakan selain sebagai sarana hiburan juga sebagai sarana edukasi. Terdapat pesan-pesan moral dibalik setiap penyajiannya seperti semangat juang, kerja keras dan perintah-perintah untuk melakukan kebaikan.Kata kunci: Jaranan Pogogan Teguh Rahayu, Kritik Seni Holistik.AbstractThe goal of this research is to describe and carry out an analytical study of Jaranan Pogogan Teguh Rahayu. A qualitative research method is used with a holistic art criticism approach. The stages of the research include data collection through observation, interviews, and a library study. All the data obtained is then analyzed using a holistic art criticism approach which includes the genetic factors, objective factors, and affective factors. The research results show that the art of Jaranan Pogogan Teguh Rahayu was created as a form of entertainment and also as a medium for education. Every performance contains moral messages, such as the need for a fighting spirit, the importance of hard work, and instructions to perform good deeds.Keywords: Jaranan Pogogan Teguh Rahayu, Holistic Art Criticism.
IMPLIKATUR DAN DAYA PRAGMATIK DALAM SENI PERTUNJUKAN Sutarno Haryono
Greget Vol 16, No 2 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (916.643 KB) | DOI: 10.33153/grt.v16i2.2361

Abstract

Abstrak Pertuturan antara manusia yang satu dengan yang lain, memerlukan daya pragmatik atau paling tidak kekuatan dialog yang sama memiliki budaya yang sama. Pemahaman implikatur akan lebih mudah jika penutur dan mitra tutur telah berbagi pengalaman. Pengalaman dan pengetahuan tentang konteks tuturan yang melingkupi ujaran atau kalimat- kalimat yang disampaikan oleh penutur. Mitra tutur sulit untuk memahami dan menangkap maksud penutur yang terimplikasikan atau tersirat dari tuturan penutur, jika tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman tentang dunia di sekitarnya. Interpretasi dalam memahami kalimat ataupembicaraanharus memiliki kesamaan makna, apa yang dibicarakan diperlukan latar belakang budaya yang tidak berbeda. Dengan demikian akan terjadi komunikasi implikatur yang sama dan tidak akan terjadi interpretasi yang berbeda serta pembicaraan akan terjalin dengan baik.Kata kunci: Pertuturan, Implikatur, Daya Pragmatik, dan Budaya. Abstract The speech that takes place between people requires pragmatic force, or at least an equal dialogic force and a similar culture. The understanding of implicature becomes easier if the speaker and interlocutor have a shared experience –experienceand knowledge about the context which surrounds the speech or sentences uttered by the speaker. The interlocutor will have difficulty understanding or grasping the implicit meaning contained in the speaker’s utterance if he does not have a similar knowledge or experience of the world around him. In order to interpret or understand a sentence or utterance, the interlocutor must have a similar understanding of what is being said as well as a similar cultural background. In this way, the communication will have the same implicature and there will be no difference in interpretation, thus ensuring a conversa- tion with a good interaction.Keywords: Speech, Implicature, Pragmatic Force, and Culture.