Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

THE MEANING OF CARING FOR PAPUA IN THE PERSPECTIVE OF THE 2ND PRECEPT OF PANCASILA IN DRIYARKARA’S VIEW Marianus Ivo Meidinata; Hendrik Ryan Puan Renna
JURNAL SETIA PANCASILA Vol 2 No 2 (2022): Jurnal Setia Pancasila, Februari 2022
Publisher : PRODI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN STKIP PGRI SUMENEP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36379/jsp.v2i2.203

Abstract

ABSTRACT In this study, the author focuses on the meaning of caring for the people and the land of Papua. This research takes a phenomenological philosophical method with a qualitative approach; and a literature study as a data collection method. The meaning of this concern is seen from the perspective of the second principle of Pancasila according to Driyarkara. The author tries to see the reality of the government's concern for Papua to overcome the humanitarian crisis that exists there. This study finally concluded that order, peace, good material conditions, general welfare and other things that the state organizes for the Papuan people are aimed at humanity – for human development and perfection. This concern for Papua implies that Papuans are also humanitarian activists even though they have suffered injuries. This government's concern is a sign of the country's progress with the creation of Pancasila people who uphold humanity. Several motives encourage this attitude renewal, including love and compassion by viewing Papua as a family. In this case, the conscience of the Indonesian people has returned, especially to the sensitivity of humanity. ABSTRAK Pada studi ini, penulis mengambil fokus pada makna kepedulian kepada masyarakat dan tanah Papua. Penelitian ini mengambil metode filosofis fenomenologis dengan pendekatan kualitatif; dan studi kepustakaan sebagai metode pengumpulan data. Makna kepedulian ini dilihat berdasarkan perspektif Pancasila sila kedua menurut Driyarkara. Penulis mencoba melihat realitas kepedulian pemerintah kepada Papua untuk mengatasi krisis kemanusiaan yang ada di sana. Studi ini akhirnya sampai pada suatu kesimpulan bahwa ketertiban, kedamaian, keadaan material yang baik, kesejahteraan umum dan hal lain yang diselenggarakan negara untuk masyarakat Papua ditujukan untuk perikemanusiaan – untuk perkembangan dan penyempurnaan manusia. Kepedulian kepada Papua ini mengandung makna bahwa Papua juga merupakan penggiat kemanusiaan meskipun mereka telah mengalami luka. Kepedulian pemerintah ini menjadi tanda kemajuan negara dengan terciptanya manusia-manusia Pancasila yang menjunjung kemanusiaan. Ada beberapa motif yang mendorong pembaruan sikap ini antara lain cinta dan belas kasih dengan memandang Papua sebagai keluarga. Dalam hal ini, hati nurani bangsa Indonesia telah kembali khususnya akan kepekaan kemanusiaan.
Konsep Pendidikan Menurut John Locke dan Relevansinya bagi Pendidikan Sekolah Dasar di Wilayah Pedalaman Papua Hendrik Ryan Puan Renna
Jurnal Papeda: Jurnal Publikasi Pendidikan Dasar Vol. 4 No. 1 (2022): Jurnal Papeda: Jurnal Publikasi Pendidikan Dasar
Publisher : Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keterbelakangan perkembangan pendidikan di wilayah pedalaman Papua masih menjadi catatan penting bagi para pemerintah dalam mewujudkan sila kelima yang berkaitan dengan penerapan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia menjadi sebuah tolok ukur yang harus ditanamkan, secara khusus berkaitan dengan pendidikan. Wilayah pedalaman Papua masih mengalami kekurangan dalam hal pelestarian pendidikan, keadilan dan pemerataan dalam proses pendidikan setidaknya menjadi solusi bagi perkembangan dunia pendidikan di wilayah pedalaman Papua itu sendiri. tulisan ini penulis akan membahas hakikat dari pendidikan itu sendiri yang hendak diperoleh setiap individu karena pada dasarnya memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang efektif. Konsep pendidikan menurut John Locke menjadi sebuah acuan dalam mengembangkan sumber daya manusia di wilayah Papua. Metode yang digunakan dalam meneliti objek kajian ini adalah dengan menggunakan metode kualitatif yang dianalisis secar deskriptif. Dari hasil kajian ini peneliti menemukan keterkaitan erat dengan konsep pendidikan menurut John Locke yang disandingkan dengan relevansi dari keadaan pendidikan di pedalaman Papua masa kini. Abstrak Keterbelakangan perkembangan pendidikan di wilayah pedalaman Papua masih menjadi catatan penting bagi para pemerintah dalam mewujudkan sila kelima yang berkaitan dengan penerapan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia menjadi sebuah tolok ukur yang harus ditanamkan, secara khusus berkaitan dengan pendidikan. Wilayah pedalaman Papua masih mengalami kekurangan dalam hal pelestarian pendidikan, keadilan dan pemerataan dalam proses pendidikan setidaknya menjadi solusi bagi perkembangan dunia pendidikan di wilayah pedalaman Papua itu sendiri. tulisan ini penulis akan membahas hakikat dari pendidikan itu sendiri yang hendak diperoleh setiap individu karena pada dasarnya memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang efektif. Konsep pendidikan menurut John Locke menjadi sebuah acuan dalam mengembangkan sumber daya manusia di wilayah Papua. Metode yang digunakan dalam meneliti objek kajian ini adalah dengan menggunakan metode kualitatif yang dianalisis secar deskriptif. Dari hasil kajian ini peneliti menemukan keterkaitan erat dengan konsep pendidikan menurut John Locke yang disandingkan dengan relevansi dari keadaan pendidikan di pedalaman Papua masa kini.