Alfons Renaldo Tampenawas
Sekolah Tinggi Teologi Yerusalem Baru, Manado, Sulawesi Utara

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Pandangan Eklesiologi Calvin mengenai Politik Praktis dalam Pelayanan Gereja Alfons Renaldo Tampenawas
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 1, No 2 (2020): Juni 2020
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (392.098 KB) | DOI: 10.55884/thron.v1i2.7

Abstract

This article discusses the inclusion of Calvin’s exclusion of politics in practical church service of the Calvin Chruch and state (politicos) as two things that the Lord allows for attending to life in the world, but both church and state (politics) both have different duties and responsibilities while also helping one another. There’s basically no supremarcy between the two. But what matters is when politics blends with service in the church, in another sense the church becomes the vehicle for politics. This is what they call a practical political activity. Where both personal and political interests have made the church a tool for sustaining support. This is made the church lose its identity as salt and the light of the world.AbstrakArtikel ini membahas mengenai pandangan Eklesiologi Calvin Mengenai Politik Praktis dalam pelayanan Gereja. Dalam Eklesiologi Calvin gereja maupun negara (politik) merupakan dua hal yang diijinkan Tuhan untuk hadir dalam kehidupan di dunia, akan tetapi baik gereja maupun negara (politik) keduanya memiliki tugas dan tanggung jawab yang berbeda walaupun juga saling menolong satu dengan yang lain. Pada dasarnya tidak ada supremasi antara keduanya. Namun yang menjadi persoalan ketika politik bercampur aduk dengan pelayanan di dalam gereja, dalam arti yang lain gereja menjadi kendaraan bagi politik. Inilah yang dinamakan dengan kegiatan politik praktis, dimana kepentingan pribadi maupun kelompok partai politik menjadikan gereja sebagai alat untuk mencari dukungan. Hal ini membuat gereja kehilangan jati diri/identitas sebagai garam dan terang dunia.