Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

FASHION SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI NON VERBAL DALAM MENUNJUKKAN IDENTITAS DIRI Happy Prasetyawati; Yesica Verawaty Sitinjak
Widya Komunika Vol 12 No 1 (2022): JURNAL KOMUNIKASI DAN PENDIDIKAN WIDYA KOMUNIKA
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.wk.2022.12.1.5572

Abstract

Abstrak. Fashion merupakan suatu hal yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari manusia, seperti halnya pakaian, aksesoris, sepatu, tas, hingga gaya rambut. Setiap orang memiliki sesuatu dalam dirinya yang ingin ditunjukkan melalui fashion yang digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana seseorang menggunakan fashion (mulai dari pakaian, sepatu, aksesoris, gaya rambut, dan tas) sebagai media komunikasi non verbal untuk menunjukkan identitas dirinya kepada orang lain, serta hambatan yang ditemui ketika mengenakan fashion sesuai dirinya. Metodelogi penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data penelitian dikumpulkan dengan melakukan wawancara kepada informan mahasiswa Universitas Bina Nusantara, mahasiswi Universitas Indonesia, yang terkenal sebagai universitas dengan mahasiswa fashionable, seorang influencer di media sosial, dan seorang fashion desainer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa memang benar seseorang menggunakan fashion untuk berkomunikasi secara non verbal mengenai identitas dirinya. Setiap orang berusaha menampilkan sisi terbaiknya dan sisi unik dirinya melalui fashion yang dikenakan dari kepala hingga kaki. Dengan memiliki selera fashion sendiri, orang lebih mudah dikenali dengan ciri khasnya menggunakan fashion. Meski demikian, dalam penggunaan fashion terdapat juga hambatan yang dirasakan. Hambatan ini membuat sulit untuk mengeksplor dengan lebih jenis fashion yang diinginkan dan sesuai diri masing-masing. Adapun hambatannya yang dirasakan mulai dari dari rasa percaya diri, hingga perkataan orang di sekitarnya.
FASHION SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI NON VERBAL DALAM MENUNJUKKAN IDENTITAS DIRI Happy Prasetyawati; Yesica Verawaty Sitinjak
Widya Komunika Vol 12 No 1 (2022): JURNAL KOMUNIKASI DAN PENDIDIKAN WIDYA KOMUNIKA
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.wk.2022.12.1.5572

Abstract

Abstrak. Fashion merupakan suatu hal yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari manusia, seperti halnya pakaian, aksesoris, sepatu, tas, hingga gaya rambut. Setiap orang memiliki sesuatu dalam dirinya yang ingin ditunjukkan melalui fashion yang digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana seseorang menggunakan fashion (mulai dari pakaian, sepatu, aksesoris, gaya rambut, dan tas) sebagai media komunikasi non verbal untuk menunjukkan identitas dirinya kepada orang lain, serta hambatan yang ditemui ketika mengenakan fashion sesuai dirinya. Metodelogi penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data penelitian dikumpulkan dengan melakukan wawancara kepada informan mahasiswa Universitas Bina Nusantara, mahasiswi Universitas Indonesia, yang terkenal sebagai universitas dengan mahasiswa fashionable, seorang influencer di media sosial, dan seorang fashion desainer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa memang benar seseorang menggunakan fashion untuk berkomunikasi secara non verbal mengenai identitas dirinya. Setiap orang berusaha menampilkan sisi terbaiknya dan sisi unik dirinya melalui fashion yang dikenakan dari kepala hingga kaki. Dengan memiliki selera fashion sendiri, orang lebih mudah dikenali dengan ciri khasnya menggunakan fashion. Meski demikian, dalam penggunaan fashion terdapat juga hambatan yang dirasakan. Hambatan ini membuat sulit untuk mengeksplor dengan lebih jenis fashion yang diinginkan dan sesuai diri masing-masing. Adapun hambatannya yang dirasakan mulai dari dari rasa percaya diri, hingga perkataan orang di sekitarnya.
Strategi Tim Kreatif dalam Memproduksi Konten YouTube Froyonion “Tapi Boleh Dicoba” Akhmad Nurfaizi; Happy Prasetyawati
Bandung Conference Series: Journalism Vol. 3 No. 3 (2023): Bandung Conference Series: Journalism
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsj.v3i3.9629

Abstract

Abstract. Froyonion’s Youtube channel is “Content But You Can Try”. This content is about an experiment in which Froyonion invites men and women from different work backgrounds to try things for the first time. Creative team strategy in producing. This research uses an approach known as a qualitative approach. Creswell defines present qualitative research as words capable of describing complexity and examining the words in it, providing detailed views of respondents, and conducting surveys with the situation as it is. Strategy is the initial stage for an organization or agency in which there are various steps or stages that are useful for achieving the goals that have been set. Froyonion's video content is produced by a creative team of six people. Next, the creative strategy used by the Froyonion creative team in producing the episode "But You Can Try" includes: Generating ideas, Researching Facts, Making concepts, and When producing content "But You Can Try," there are four stages carried out by the Froyonion creative team, including: 1. Generating Ideas: There are two steps in finding creative ideas, namely: growing because of a comfortable environment and place, 2. Researching facts and data: Froyonion will conduct an in-depth study, 3. Create Concepts: The Froyonion team will produce content according to what is previously planned, 4. Accompanying Production Implementation: Done by ripening. Abstrak. Channel Youtube Froyonion yaitu “Konten Tapi Boleh Dicoba”. Konten ini mengangkat tentang experiment yang dimana Froyonion mengajak pria dan wanita dari berbagai latar pekerjaan yang berbeda – beda untuk mencoba hal untuk pertama kalinya. Bagaimana Strategi tim kreatif dalam memproduksi konten youtube Froyonion “Tapi Boleh Dicoba.” Tujuan Penelitian, adapun tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui Strategi tim kreatif dalam memproduksi. Penelitian ini menggunakan pendekatan yang dikenal dengan pendekatan kualitatif. Creswell mendefinisikan penelitian kualitatif hadir sebagai kata-kata yang mampu menggambarkan kompleksitas dan meneliti kata-kata di dalamnya, memberikan pandangan rinci dari responden, serta melakukan survei dengan situasi yang apa adanya. Strategi merupakan tahapan awal bagi suatu organisasi maupun instansi yang di dalamnya memiliki berbagai langkah atau tahapan yang berguna untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Konten video Froyonion diproduksi oleh tim kreatif sebanyak enam orang . Berikutnya, strategi kreatif yang digunakan tim kreatif Froyonion dalam memproduksi episode “Tapi Boleh Dicoba” meliputi: Membuat ide, Meriset Fakta, Membuat konsep, dan Saat memproduksi konten “Tapi Boleh Dicoba,” terdapat empat tahap yang dilakukan tim kreatif Froyonion, antara lain: 1. Membuat Ide: Terdapat dua langkah dalam mencari ide kreatif, yaitu: tumbuh karena lingkungan dan tempat yang nyaman, 2.Meriset fakta dan data: Froyonion akan melakukan kajian mendalam, 3.Membuat Konsep: Tim Froyonion akan memproduksi konten sesuai dengan apa yang direncanakan sebelumnya, 4.Mendampingi Pelaksanaan Produksi: Dilakukan dengan cara mematangkan.