This Author published in this journals
All Journal Pendhapa
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PERANCANGAN INTERIOR BRIDAL BOUTIQUE DI BALI Intan Sinta Lestari; Ahmad Fajar Ariyanto
Pendhapa Vol 10, No 2 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4280.104 KB) | DOI: 10.33153/pendhapa.v10i2.2945

Abstract

Pernikahan merupakan suatu momen berharga bagi setiap orang, yang diharapkan sekali seumur hidup. Dalam pelaksanaan pernikahan, mempelai mengharapkan kesempurnaan dalam momen berharga mereka, tempat penyelenggaraan menjadi hal yang sangat diperhatikan. Bali menjadi salah satu tujuan untuk menyelenggarakan pernikahan, karena Bali adalah tujuan wisata nomor satu di Indonesia dan menawarkan keindahan alam yang membuat pelancong tertarik untuk berlibur dan mengabadikan momen berharga mereka. Sehingga perlu adanya sebuah bridal boutique yang secara fungsi menyediakan kebutuhan pernikahan dengan pelayanan dan produk berkualitas yang cukup lengkap seperti national wedding gown, international wedding gown, party gown, tuxedo, kid’s gown and tuxedo, accessories, invitation card, souvenirs, photo studio, fitting room, make up, and consultation. Bridal Boutique di Bali mengusung tema “La Femme Balinaise est Manifique” dengan gaya kontemporer, dengan tujuan menghadirkan budaya Bali yang dikemas dalam nuansa modern, dan diharapkan pengguna akan merasa nyaman, hangat,  prestigious, sacred, fancy, and fun ketika menghabiskan waktu di bridal boutique. Kata kunci: bridal, boutique, shop, retail, bali.
RE-DESAIN INTERIOR “HOTEL LAMPION” DI SURAKARTA Khoyrunnissa Khoyrunnissa; Ahmad Fajar Ariyanto
Pendhapa Vol 10, No 1 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5665.411 KB) | DOI: 10.33153/pendhapa.v10i1.2936

Abstract

Surakarta merupakan kota budaya dan pariwisata sehingga banyak wisatawan berdatangan oleh karena itu diperlukan adanya sarana penunjang khususnya hotel. Hotel yang berada di Surakarta salah satunya yaitu Hotel Lampion yang merupakan hotel berbintang 2. Hotel Lampion di Surakarta berupaya untuk meningkatkan standard dari bintang 2 menjadi bintang 3 untuk menunjang kebutuhan para pengunjungnya. Hotel Lampion  di Surakarta memerlukan redesain interior dengan cara menambah beberapa fasilitas dan mengubah interior hotel menjadi lebih bercitra lokal.    Hotel Lampion di Surakarta sebagai upaya meningkatkan hotel yang berbintang 2 menjadi berbintang 3   dengan penambahan fasilitas pada: Bar, suite room, drug store, souvenir shop dan sarana olahraga.       Hotel Lampion selain penambahan beberapa fasilitas perlu adanya juga perubahan interior agar bercitra lokal. Perubahan interior Hotel Lampion di Surakarta menggunakan pendekatan tema Grebeg Sudiro yang merupakan event nasional yang berasal dari kota Surakarta.Kata Kunci : Redesain, Hotel Lampion, Grebeg Sudiro
Interior Design of Omah Blues in Surakarta Raden Gasta Mulyandra Jayaatmaja; Ahmad Fajar Ariyanto
Pendhapa Vol 13, No 1 (2022)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/pendhapa.v13i1.2947

Abstract

Surakarta is the heart of Javanese culture; hence the people of Surakarta are closely connected to artistic activities. There are various types of arts, one of which is performing arts. The many performances held in Surakarta are one of the city government's efforts to meet the needs of its people. One of the many performances is the Solo Blues Festival, which started in 2013, and every year the enthusiasm for the Solo Blues Festival increases. The event's success was also due to the role of the blues community in Surakarta. They are involved in the Solo Blues Festival and have a fixed agenda to perform and introduce blues music to the public. However, in Surakarta, there is not yet a specific place regarding blues music to serve as a place for activists and fans of blues music to get to know blues music more deeply. Community members are still constrained to introduce blues music to the public if they only rely on the concerts they organize. Based on the problems that occur, one solution to overcome them is to design a place specifically for blues music, namely Omah Blues. The interior design of Omah Blues in Surakarta will function as a place for blues music to continue to exist and develop in Surakarta. It is hoped that Omah Blues can also represent how blues music exists and develops in society, especially among the people of Surakarta City. The interior design of Omah Blues in Surakarta will apply an art deco style combined with the kawung batik motif as a design idea. The choice of art deco was due to the rapid development of blues music in harmony with the development of the art deco style. The choice of the kawung motif as the design idea is because the kawung motif is geometric, which is in line with art deco characteristics, as well as to bring out Javanese cultural identity.Kata Kunci : Interior, Blues, Art Deco, Kawung.