Muhammad Nurcholis
Fakultas Syari'ah, Institut Agama Islam Darussalam (IAID) Ciamis Jawa Barat

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

STATUS ANAK AKIBAT PEMBATALAN NIKAH MENURUT KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA DAN UNDANG-UNDANG NO. 1 TAHUN 1974 Muhammad Nurcholis; Iswatun Hasanah
Istinbath | Jurnal Penelitian Hukum Islam Vol 13 No 1 (2018): Istinbath, Mei 2018
Publisher : Fakultas Syari'ah | Institut Agama Islam Darussalam | IAID | Ciamis, Jawa Barat, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Marriage in Islam is highly recommended to avoid immoral acts, but in the way that marriage can sometimes end up in the middle of the road because of the dispute or the court may decide that the marriage should end. The court can decide the marriage on grounds of annulment of marriage or divorce, due to the cancellation of marriage was considered a previous marriage never happens but when the wedding was canceled already have offspring status of children born of the marriage will be questioned, whether the child was a child legitimate or illegitimate children, concerning the status of the child as a result of an annulment in the Civil Code and law No. 1 In 1974 there was little difference, with their differences, the writers were interested to find out where the differences lie.
KONSEP KEADILAN DALAM HUKUM WARIS MENURUT HAZAIRIN Muhammad Nurcholis; Pepe Iswanto
Istinbath | Jurnal Penelitian Hukum Islam Vol 12 No 1 (2017): Istinbath, Mei 2017
Publisher : Fakultas Syari'ah | Institut Agama Islam Darussalam | IAID | Ciamis, Jawa Barat, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu konsep penyelarasan Hukum Islam yang terjadi dalam masyarakat Islam Indonesia adalah mengenai hukum kewarisan. Dalam hukum kewarisan ini, muncul suatu konsep hukum baru yaitu mengenai ahli waris pengganti yang merupakan hasil ijtihad Hazairin. Dalam pemikiran Hazairin, memasukan ahli waris pengganti dalam system kewarisan ini bertujuan untuk mencari rasa keadilan bagi keluarga ahli waris (cucu) yang tertutup hak kewarisannya atau tidak mendapatkan waris karena ahli waris meninggal terlebih dahulu daripada pewaris. Konsep ahli waris pengganti ini muncul karena Hazairin merasakan adanya ketidak adilan dalam pembagian warisan yang ada selama ini, yakni bahwa cucu perempuan yang ayahnya meninggal terlebih dahulu tidak mendapat harta warisan dari harta warisan yang ditinggalkan kakeknya. Dalam masalah ini ulama ahlusunah dan juga Syiah sepakat bahwa anak laki-laki menutup (hijab) cucu laki-laki dan cucu perempuan. Melalui metode penelitian deskriptif, penelitian ini berusaha memaparkan pemikiran Hazairin tentang Ahli waris pengganti, hak ahli waris pengganti dan dasar-dasar hukum dalam konsep ahli waris pengganti.