Latar belakang masalah dalam penelitian ini adalah mengungkap sejauh mana proses menjadi Indonesia telah terjadi di SD Maâhad Islam Semarang dalam kurun waktu 1958-2005 serta apa saja dampak yang ditimbulkan. Penelitian ini mengkaji tentang proses akulturasi budaya masyarakat Koja Semarang tahun 1958-2005 melalui dunia pendidikan dan mengungkap sejauhmana proses menjadi Indonesia telah terjadi di SD Maâhad Islam Semarang dalam kurun waktu 1958-2005 serta apa saja dampak yang ditimbulkan. Penelitian ini juga mengkaji yang terkait dengan kebijakan pemerintah pada masa itu antara lain sistem pendidikan, kurikulum yang digunakan, jumlah guru, jumlah murid, kondisi fisik dan lain-lain. Penelitian ini mengggunakan beberapa konsep dari ilmu pendidikan dan sosiologi. Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan bantuan pengetahuan konsep-konsep dan teori-teori ilmu sosial, yaitu ilmu sosiologi dan pendidikan. Pendekatan pendidikan terkait dengan pendekatan penelitian sosial (social studies approach). Model pendekatan studi sosial ini sangat tepat untuk mengetahui proses berlangsungnya suatu usaha pendidikan agama atau sisi operasional suatu usaha pendidikan, karena memungkinkan orang untuk melihat dan memperlakukan fakta-fakta sebagaimana adanya. Metodologi sejarah yang di gunakan meliputi heuristic, kritik sumber, analisa dan sintesa. Hasil Penelitian menyimpulkan bahwa pada awalnya SD Ma`had Islam merupakan lembaga pendidikan Islam yang didirikan oleh sekelompok masyarakat Koja yang berada di Semarang, Lembaga poendidikan yang cenderung ekslusif ini perlahan-perlahan berubah menjadi inklusif seiring dengan perubahannya untuk menjadi indonesia. Telah terjadi perubahan orientasi etnis menuju pada orientasi nasional yang mempunyai tujuan untuk mendidik dan membimbing anak-anak dari kelompok tersebut. Pelaksanaan pendidikan di SD Maâhad Islam telah berkembang sedemikian rupa sehingga dari tahun ke tahun telah menunjukkan hasil yang signifikan dan cukup pesat. Hal ini juga diikuti dengan perkembangan pengadaan sarana dan prasarana pendukung pembelajaran. Selain itu juga karena adanya kesinambungan antara aktivitas proses pembelajaran, baik jumlah siswa, jumlah tenaga pendidik, dan juga pergantian Kepala Sekolah maupun pengurus Yayasan Maâhad Islam, sekolah ini sering mendapatkan prestasi akademik baik di tingkat rayon, maupun tingkat kota sehingga diperhitungkan oleh sekolah lain yang setingkat. Itu semua diperoleh berkat kegigihan para pendidik, keseriusan siswa dan dukungan dari orang tua murid.Kata Kunci : Perkembangan, Proses, Pendidikan, Indonesia