Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

WAYANG KULIT SEBUAH TEATER BONEKA BALI I Made Sudana
Paraguna Vol 5, No 2 (2018): ENTITAS WAYANG DAN GAMELAN
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11574.537 KB) | DOI: 10.26742/jp.v5i2.1901

Abstract

Wayang kulit  Bali  are  one  of the  Balinese puppet art forms  that  still survive  today. This  art has  undergone innovation  according to the  times.  Among the  striking forms of innovation  in the field  of music accompaniment,  which originally used  4 pieces of gender wayang or gamelan bebatelan,   but  now accompanied  by gamelan  semar pagulingan or gamelan  balaganjur  which is  a  middle class  bali  music ensemble. Besides that,  presenting  vocal  is  the  dalang,   but  now it  has   been added  to  the accompaniment  of gerongan,   namely  the  choir  of a  group  of female  singers  and wra suara.
Melacak Perkembangan Wayang Kulit Bali Sebagai Pakeliran Inovatif I Made Sudana
Paraguna Vol 7, No 1 (2020): DINAMIKA KHAZANAH KARAWITAN
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.73 KB) | DOI: 10.26742/jp.v7i1.1850

Abstract

ABSTRAKTulisan ini bermaksud untuk melacak perkembangan Wayang Kulit Bali dewasa ini. Melalui kreativitas seninya, para seniman muda Bali telah melakukaan inovasi-inovasi, terutama dalam hal teknik garap sebagai sebuah proses kreatif akibat dari penemuan baru di bidang teknologi. Penelitian yang brsifat kualitatif ini, menggunakan pendekatan multi disipin, yakni pendekan sejarah, fungsi, dan kreativitas. Wayang Kulit Bali, diperkirakan sudah ada sejak abad ke-IX. Jenisnya ada ada dua, yaitu Wayang Lemah dan Wayang Peteng. Pada dasarnya Wayang Peteng masih bisa diklasifikasikan lagi, atas lakon/cerita yang dipergunakan, bentuk wayangnya, dan gamelan pengiringnya. Fungsi Wayang Kulit Bali dapat dibedakan menjadi tiga yaitu: sebagai seni Wali, Bebali, dan Balih-balihan. Munculnya Wayang Kulit Bali dalam Pakeliran Inovatif merupakan perkembangan eksperimen yang paling mutakhir dalam Pewayangan Bali.                                                                                                                 ABSTRACTThis paper intends to trace the development of Balinese Wayang Kulit today. Through their artistic creativity, young Balinese artists have made innovations, especially in terms of working techniques as a creative process due to discoveries of technology. This qualitative research uses a multi-disciplinary approach, namely the approach of history, function, and creativity. Balinese Wayang Kulit is estimated to have existed since the IX century. There are two types, namely the Weak Puppet and the Peteng Puppet. Wayang Peteng can still be classified again, based on the play/story used, the form of the puppet, and the accompanying gamelan. The function of Balinese Wayang Kulit can be divided into three, namely: as Wali, Bebali, and Balih-balihan art. The emergence of Balinese Wayang Kulit in Innovative Pakeliran is the most recent experimental development in Balinese Puppetry.