Pertumbuhan payudara pada remaja putri saat ini sering dianggap lebih cepat dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Fenomena ini dikenal sebagai pubertas lebih awal (early puberty). Hal tersebut berdampak dengan banyaknya kasus pembengkakan pada payudara seperti fibroadenoma (FAM) dan kanker payudara. Menurut WHO pada tahun 2022, secara global kanker payudara pada wanita berada di peringkat ke dua terbanyak dengan kasus mencapai 2,3 juta atau 11,6%, sedangakan Indonesia berada di peringkat 8 dengan kasus 66,271 orang atau 41,8%. Maka dari itu salah satu cara untuk mendeteksi FAM dan kanker payudara sejak dini adalah dengan melalukan SADARI. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian informasi tentang pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) melalui media video terhadap pengetahuan remaja putri di SMA PGRI 4 Padang. Jenis penelitian ini adalah Quasy Eksperiment dengan pendekatan one group pretest-posttest. Sampel pada penelitian ini berjumlah 17 remaja putri dengan teknik pengambilan sampel Purposive Sampling. Analisa data dilakukan dengan uji statistik univariat dan bivariat dengan menggunakan wilcoxon dengan kepercayaan 95% α = 0,05. Hasil penelitian di dapatkan bahwa bahwa sebagian besar (53%) memiliki pengetahuan yang cukup sebelum diberikan informasi SADARI dan setelah diberikan informasi SADARI melalui media video hampir seluruh (88%) pengetahuan baik. Dari hasil uji statistik didapatkan ada pengaruh pemberian informasi tentang pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) melalui media video terhadap pengetahuan remaja putri di SMA PGRI 4 Padang, dengan p-value = 0,000 (p-value0,05). Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian informasi SADARI melalui media video efektif untuk meningkatkan pengetahuan seseorang. Diharapkan media video dapat digunakan untuk penyampaian informasi atau edukasi kesehatan lainnyaKata Kunci : SADARI, Media Video, Pengetahuan, Remaja Putri