Beta Firmansyah
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Mantik (Logika) : Model Deradikalisasi Ala Pesantren Beta Firmansyah
Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 3 No. 2 December 2017
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.568 KB) | DOI: 10.15408/ushuluna.v3i2.15196

Abstract

Artikel ini menjelaskan tentang mantik sebagai model deradikalisasi di Pesantren. Fakta menunjukan Pesantren seolah menjadi sarang dari pelaku-pelaku radikal dan teroris. Upaya banyak dilakukan baik oleh pemerintah maupun oleh pihak pesantren, mulai dari membenahi sistem pembelajaran, membuat standarisasi bahan ajar di pesantren dan lain sebagainya. Akan tetapi menurut penulis, upaya itu hanya di aspek ekternal diri santri, padahal yang sangat berpengaruh adalah aspek inheren dalam diri santri yaitu ideologi yang lahir dari cara berpikir. Tesis peneliti radikalisme lahir dari cara berpikir yang salah. Maka dari itu, peneliti mengajukan mantik/logika sebagai model deradikalisasi di Pesantren. Akan tetapi, mantik tidak diterima oleh semua pihak, dalam artikel ini penulispun menjawab terkait hal tersebut. Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah deskriptif-analitik. Hasil yang diperoleh adalah (1) logika diafirmasi oleh Alquran dan (2) dengan cara berpikir logis-kritis santi tidak gampang menyesatkan, mengkafirkan sampai tingkat terorisme, akan tetapi dengan logika akan meluluskan alumni pesantren yang moderat dan toleran.
Aplikasi Teori Double Movement Fazlu Rahman terhadap Kasus Poligami Beta Firmansyah
Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 1 No. 2 December 2015
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.988 KB) | DOI: 10.15408/ushuluna.v1i2.15157

Abstract

Permasalahan poligami menjadi perbincangan yang hangat dikalangan para ulama. Para ulama klasik cenderung membolehkan praktik poligami, sedangkan ulama kontemporer melarang praktik perpoligamian. Maka dari itu tulisan ini mencoba meninjau kembali hukum poligami dengan menggunakan teori double movement Fazlu Rahman. Dalam tulisan ini terlihat bahwa kebolehan poligami dikarenakan kondisi sosial ketika islam belum datang, dan penulis mendapatkan nilai moral yang dikandung dalam hukum ini adalah ingin mengangkat harkat martabat kaum perempuan. Maka dari itu, penulis berkesimpulan bahwa pembatasan menjadi empat orang adalah hal yang mengisyaratkan bahwa perpoligamian itu dilarang dalam islam.