Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

TATANIAGA SAPI MADURA DI PASAR HEWAN PAKONG KECAMATAN PAKONG KABUPATEN PAMEKASAN Akhmad Yudi Heryadi
MADURANCH: Jurnal Ilmu Peternakan Vol 9, No 1 (2012): HAYATI
Publisher : MADURANCH: Jurnal Ilmu Peternakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1071.202 KB)

Abstract

Pasar hewan Pakong merupakan pasar yang dikelola oleh Pemerintah Kabupaten mempunyai letak yang stategis, yaitu berada di jalur lintas kecamatan yang menghubungkan Kecamatan Pakong, Waru, Batu Bintang, Palengaan dan Galis (Keppo) yang merupakan sentra pasar hewan yang ada di Kabupaten Pamekasan. Pelaksanaan pasar sapi Pakong pada hari minggu pukul 08.00 sampai dengan 15.00 WIB. Proses pemasaran mencakup petani/peternak (produsen), tukang tonton/tegguk (bahasa daerah : buruh pembawa sapi), makelar (blantik), pedagang kecil/besar dan jagal. Rata-rata ternak yang dipasarkan sekitar 150-200 ekor ternak. Sebelah utaraarea penjualan sapi pedet (pembibitan), yaitu di bawah 1,5 tahun untuk memenuhi konsumen peternak, sebelah timur sapi yang mempunyai rata-rata 300 kg (umur > 2,5 tahun), untuk konsumen jagal luar Pulau Madura, sebelah barat sapi dara, induk (betina) dan jantan untuk memenuhi konsumen jagal lokal dan peternak dan sebelah selatansapi sapi yang sudah terjual yang ditambatkan oleh pedagang. Besarnya retribusi pasar per ekor sapi sebesar Rp 5.000. Blantik yang berusaha dalam bidang jasa pemasaran dibantu oleh tukang teguk dan tukang pecut saat menjual sapi, besarnya tarif per ekor antara Rp. 10.000-15.000. Biaya tataniaga ternak per ekor mencapai Rp. 55.000 yang ditanggung langsung oleh peternak. 
PROFITABILITAS USAHA ITIK PEDAGING DI DESA JULUK KECAMATAN SARONGGI KABUPATEN SUMENEP Akhmad Yudi Heryadi
MADURANCH: Jurnal Ilmu Peternakan Vol 10, No 10 (2013): HAYATI
Publisher : MADURANCH: Jurnal Ilmu Peternakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.298 KB)

Abstract

Usaha peternakan itik semakin diminati sebagai alternatif sumber pendapatan bagi masyarakat di pedesaan maupun di sekitar perkotaan. Hal ini disebabkan oleh kondisi lingkungan strategis yang lebih memihak pada usaha peternakan itik, antara lain adalah semakin terpuruknya usaha peternakan ayam ras skala kecil dan munculnya wabah penyakit flu burung yang sangat merugikan peternakan ayam ras maupun ayam kampung. Di samping itu, semakin terbukanya pasar produk itik ikut mendorong berkembangnya peternakan itik di Indonesia. Ternak itik mempunyai beberapa keunggulan, itik memiliki sifat lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan karena tidak terpengaruh iklim, lebih mudah dalam perawatan karena tidak rentan terhadap penyakit, pemeliharaannya lebih organik, tidak memerlukan pakan khusus, dan modal yang diperlukan untuk membuka usaha peternakan itik pun relatif kecil. Penelitian ini dilaksanakan di sentra peternakan itik rakyat di desa Juluk Kecamatan Saronggi Kabupaten Sumenep mulai tanggal 01 Juni sampai tanggal 30 Juni 2013. Sampel penelitian yang digunakan sebagai media penelitian adalah peternak itik pedaging dengan pengambilan sampel secara Two Stage Cluster Sampling, yaitu mengambil sampel secara cluster berdasarkan skala pemeliharaan peternak dengan 2 (dua) tahapan atau Two Stage. Usaha ternak itik pedaging di Desa Juluk Kecamatan Saronggi Kabupaten Sumenep, diketahui jumlah rata-rata pendapatan bersih usaha tani (NFI) adalah Rp. 3.712.430 (Tiga juta tujuh ratus dua belas ribu empat ratus tiga puluh rupiah), Nilai profitabilitas atau Gross Profit Margin (GPM) adalah = 168,441%, besarnya nilai laba yang memadai dalam usaha tani (ROI) adalah = 37,094% , sedangkan nilai bunga deposito Bank Indonesia (BI) saat penelitian adalah 6,5% pertahun atau 0,7222% per produksi (6,5% /9 kali produksi), atau ROI > nilai bunga deposito bank. Hal ini menunjukkan bahwa usaha ternak itik pedaging di Desa Juluk Kecamatan Saronggi Kabupaten Sumenep mampu menghasilkan laba yang memadai.