Erman Sepniagus Saragih
Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Tarutung

Published : 20 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Hipokrit Pemuka Agama (Matius 23:1-12) Erman Sepniagus Saragih
Integritas: Jurnal Teologi Vol 3 No 2 (2021): Integritas: Jurnal Teologi
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Jaffray Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47628/ijt.v3i2.68

Abstract

Tindakan Penguasa Agama (Matius 23:1-12). Matius 23 terkenal sebagai teks kontroversial, dimana pasal ini merupakan antitesis khotbah Yesus di bukit (pasal 5-7). Yesus mengakui otoritas ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, namun mereka menentang eksistensi-Nya sebagai Mesias. Keberadaan Yesus baik dari aspek popularitas pelayanan maupun pada masa depan membuat kecemasan bagi para pemuka agama di Yudea. Metodologi yang digunakan adalah prinsip hermeneutik dengan menggunakan historis kritis, struktur teks dan analisis sosial komunitas Matius. Dengan demikian Matius 23 menggambarkan perilaku pelayanan pemuka agama di Yudea sebagai dasar untuk memahami maksud kritik Yesus terhadap penguasa agama yang duduk di kursi Musa. Tanpa meniadakan otoritas pemuka agama itu, Yesus dalam injil Matius menekankan ajaran penatalayanan transformatif kepada orang banyak dan murid-murid-Nya (komunitas Matius) untuk lebih menerapkan solidaritas persaudaraan dan empati sosial sebagai keutamaan.
Moderasi Beragama Berbasis Kearifan Lokal Suku Pakpak-Aceh Singkil Erman Sepniagus Saragih
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 2 (2022): Maret 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v4i2.253

Abstract

The destruction of the church in Aceh Singkil in 2015 was phenomenal and a fact of the struggle to achieve religious moderation. The Aliansi Pemuda dan Pembela Islam (APPI) demands a firm stance from the local government to crack down on church buildings that do not have a Building Construction Law (IMB). Of course, the church community in Aceh Singkil is not indifferent to the rules and it seems as if the fulfilment of the IMB is a paradigm for the actualization of religious harmony that goes beyond the virtue of local humanism of the local community. This paper argues that even though the fulfilment of IMB is necessary, local wisdom is a “treasure” that cannot be insulted based on any policy because local wisdom can be a medium to create harmony in religious differences. The case of the destruction of the church in Aceh Singkil has certainly become a public study, but there has been no offer related to local wisdom as a basis for being moderate. The conclusions are: First, a community that emphasizes customs needs each other and maintains existing virtues that have been instilled since ancient times is virtuous. Second, simplicity, certainty, and virtue are the basis. Third, open communication by way of kinship is the openness of the philosophical schools of traditional society. If religious ideas carry a message of benefit to the wider community, of course, suspicion will be low, fanaticism will become open, extremists will become dialogical, and be radical virtue.
Peranan Guru Pendidikan Agama Kristen Sebagai Pendidik Moral Siswa Erman Sepniagus Saragih
Jurnal Christian Humaniora Vol 1, No 1 (2017): November
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jch.v1i1.36

Abstract

Guru PAK adalah seorang guru yang berusaha untuk mendidik watak dan pribadi para murid, supaya akhirnya mereka sendiri berani bertanggungjawab di depan Tuhan tentang kepercayan mereka. Guru PAK adalah juga seorang yang percaya kepada Yesus Kristus, yang mengenal akan pribadi Yesus serta memiliki pribadi yang meneladani Yesus sebagai guru besarnya.Guru PAK memiliki peranan penting dalam mendidik siswa untuk memiliki moral Kristen yang Alkitabiah. Saat ini, generasi muda yang masih mencari jati dirinya kerap kali jatuh ke dalam cobaan dan kehilangan moralitasnya sebagai orang Kristen. Khususnya para siswa-siswi Kristen yang sedang dalam belajar untuk menjadi seorang Kristen yang sejati. Disinilah terletak peranan Guru PAK sebagai pendidik moral Kristen. Tugas guru tidak hanya sebatas mengajar, yang menjelaskan bahan pengajaran tetapi juga melatih dan membimbing anak didiknya untuk memiliki moral Kristiani. Peranan Guru PAK sebagai pendidik  moral siswa yaitu: 1) Menuntun anak didik keluar dari kegelapan menuju terang, 2) Mengajar agama Kristen sebagai pengetahuan dan kehidupan, 3) memberikan perlengkapan pengetahuan kognitif, afektif, moral dan spiritual, 4) Menaruh perhatian pada pembentukan watak dan moral peserta didik. Kata Kunci : Guru PAK Sebagai Pendidik Moral Siswa
POLA MENDIDIK DI SINAGOGA DALAM TRADISI ISRAEL DAN IMPLIKASINYA PADA PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN Erman Sepniagus Saragih
Jurnal Christian Humaniora Vol 3, No 2 (2019): November
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jch.v3i2.124

Abstract

Abstract: The current of globalization is unstoppable and has an impact on culture, society, economics, and social relations. Christian Education has an important role in planting spiritual values as a practical control of the current flow of globalization. The purpose of this article is to raise the history of the educational process, the theological foundation as a pattern of education in the Synagogue in the tradition of teaching Israel which has implications for present-day Christian Education. The method used is the analysis of the content of the relevant literature. The results obtained are that the pattern of education in the Israeli tradition prioritizes God as true wisdom knowledge, experience-based learning with God (spirituality), curriculum grouping based on age, misyna is interpretation learning methods by adjusting words that are understood without reducing real meaning, and besides learning rabbis are done in an integrated manner with parents every day as God's command.BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Arus globalisasi tidak terbendung dan berdampak pada budaya, masyarakat, ekonomi dan relasi sosial. Pendidikan Agama Kristen memiliki fungsi strategis dalam penanaman nilai-nilai spiritual sebagai kontrol praksis arus globalisasi masa kini. Tujuan penulisan artikel ini untuk mengangkat kepermukaan sejarah terjadinya proses pendidikan, landasan teologis sebagai pola pendidikan di Sinagoga dalam tradisi mengajar Israel yang berimplikasi pada pendidikan kristen. Metode yang digunakan adalah analisys content terhadap literatur yang relevan. Hasil yang diperoleh adalah pola pendidikan dalam tradisi Israel mengutamakan Allah sebagai pengetahuan hikmat sejati, pembelajaran berbasis pengalaman dengan Allah (spiritualitas), pengelompokan kurikulum berdasarkan usia, misyna metode pembelajaran penafsiran dengan penyesuaian kata-kata yang dipahami tanpa mengurangi makna sebenarnya, dan selain Rabi pembelajaran dilakukan secara terintegrasi dengan orang tua tiap harinya sebagai implementasi perintah Allah.Keywords: Israel, Christian, Education, Sinagoge
Jemaat yang Kudus sebagai Reinterpretasi Kehadiran Allah Erman Sepniagus Saragih
Jurnal Christian Humaniora Vol 1, No 1 (2017): November
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jch.v1i1.35

Abstract

Kudus berarti terpisah (dikhususkan) atau terpotong dari, digunakan terhadap keadaan terlepasnya seseorang atau suatu benda (supaya Tuhan dapat memakainya, dan dengan demikian terhadap keadaan orang atau obyek yang di lepas itu).  Kata kudus kadang-kadang diterjemahkan dengan suci. Walaupun keduanya memiliki arti yang berbeda. Kata kudus berarti sesuatu yang dipikirkan adalah kualitas hakiki Tuhan dan manusia. Istilah suci menekankan akibat daripada sikap yang menjurus kepada kesucian. Para nabi memproklamirkan  kekudusan sebagai penyataan sendiri oleh Allah, kesaksian yang ia terapkan pada dirinya sendiri dan segi yang ia kehendaki supaya mahluk ciptaan-Nya mengenal Dia demikian. Para nabi menyatakan bahwa Allah menghendaki untuk mengkomunikasikan kekudusan-Nya kepada mahluk ciptaan-Nya, dan sebaliknya menuntut kesucian dari mereka. Kekudusan bukanlah suatu teori belaka, kekudusan itu harus dipraktekkan dalam kehidupan pribadi.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana Allah yang kudus dinyatakan dalam kehidupan jemaat yang kudus. Allah adalah Allah yanag kudus agar tidak ada pemisah hubungan manusia dengan Allah, maka manusia juga sebaiknya menguduskan dirinya. Dalam kehidupan jemaat yang kudus maka Allah akan selalu hadir menyatakan kasihNya, melakukan penebusan lewat pengorbanan Yesus di kayu salib, agar manusia dikuduskan dari dosa. Dalam upaya membahas suatu masalah dalam penelitian, diperlukan suatu metode penulisan agar memperoleh jawaban dan paradigma baru atas permasalahan yang dibahas. Penulisan tesis ini menggunakan metode penelitian kualitatif, yaitu penelitian yang bersumber dari buku-buku teks, jurnal dan bahan-bahan tertulis lainnya.Kata Kunci: Kudus, Suci
PROFIL HIDUP RUKUN ANTAR UMAT BERAGAMA PADA MASYARAKAT KELURAHAN BATANG BERUH KECAMATAN SIDIKALANG KABUPATEN DAIRI Erman Sepniagus Saragih
Jurnal Christian Humaniora Vol 3, No 1 (2019): Mei
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jch.v3i1.123

Abstract

A harmonious life between religious people is one of the shared ideas in the context of Bhinneka. Indonesian society from the past has different cultures, religions and social norms but is a distinctive and worthy of wealth to be preserved and preserved. This study aims to raise the profile of local tradition-based inter-religious harmony in Batang Beruh Village, Sidikalang District, Dairi Regency. The methodology used is a descriptive qualitative research that discusses the sociology of religion. Based on the data agreement with the triangulation technique, data reduction was carried out and concluded about the glue of harmony in family relations, local wisdom (Mardang, Pudun, Markebas, Mamiring, Sikatasatu, and Gugu), looking for houses of worship with assistance, related houses that mingled and gathered together. This condition is proof that interfaith believers accept, accept and accept fully acknowledge the same creation of God; need each other with each other.BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Hidup rukun antar umat beragama merupakan salah satu cita-cita bersama dalam konteks kebhinekaan. Masyarakat Indonesia dari dahulunya sudah berbeda budaya, agama dan norma sosial tetapi ini merupakan nilai kekayaan yang khas dan layak untuk dijaga dan dilestarikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengangkat profil kerukunan antar umat beragama berbasis tradisi lokal di Kelurahan Batang Beruh, Kecamatan Sidikalang Kabupaten Dairi. Metodologi yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif pendekatan sosiologi agama. Berdasarkan perolehan data dengan tehnik trianggulasi, dilakukan reduksi data dan disimpulkan bahwa perekat kerukunan tercermin dalam hubungan kekerabatan keluarga, kearifan lokal (mardang, pudun, markebas, mamiring, sikatasatu dan gugu), letak rumah ibadah berdampingan, rumah penduduk yang berbaur dan budaya gotong-royong. Kondisi tersebut merupakan bukti bahwa antarumat beragama saling menerima, menghargai dan penuh kesadaran mengakui sama-sama ciptaan Tuhan; saling membutuhkan satu dengan yang lainnya. Keywords: Profile of Harmony, Religious
Fungsi Gereja Sebagai Entrepreneurship Sosial dalam Masyarakat Majemuk Erman Sepniagus Saragih
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 5, No 1 (2019): April 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v5i1.89

Abstract

There is a tendency that the church has not been maximal in carrying out its social functions when viewed from the issue of a pluralistic community context. The church must actively transform the deacon, specifically alleviating the social problems surrounded. This study aimed to describe the model of transformation deaconal mission into the form of Christian entrepreneurs. By using literature review and descriptive methods, the conclusions obtained is: The church must be able to foster a sense of solidarity starting from inside the church to outside through the economic empowerment of her people.AbstrakAda kecenderungan bahwa gereja belum maksimal dalam menjalankan fungsi sosialnya ketika ditinjau dari persoalan konteks masyarakat majemuk. Gereja harus giat bertransformasi diakonia, secara khusus pengentasan masalah sosial yang berada disekitarnya. Kajian ini bertujuan untuk mendeskripsikan model transformasi misiologis diakonial dalam bentuk entrepreneur kristiani. Dengan menggunakan kajian literatur dan metode deskriptif, maka kesimpulan yang diperoleh adalah: Gereja harus dapat menumbuhkan rasa solidaritas dimulai dari jemaat hingga ke luar gereja melalui pemberdayaan ekonomi uma
PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN BERBASIS WAWASAN KEBANGSAAN Erman Sepniagus Saragih
Jurnal Teologi Cultivation Vol 2, No 2 (2018): Desember
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jtc.v2i2.276

Abstract

AbstrakJurnal ini membahas tentang Pendidikan Agama Kristen (PAK) berbasis karakter wawasan kebangsaan. PAK merupakan salah satu pilar pendidikan karakter. Pendidikan karakter akan terwujud jika dimulai tertanamnya jiwa wawasan kebangsaan pada anak didik, oleh sebab itu PAK merupakan salah satu unsur penunjang karakter anak didik. Melalui desain materi PAK berwawasan kebangsaan siswa diajarkan bahwa perbuatan nasionalis adalah bukti dari imanseperti dalam Alkitab.Kata Kunci : PAK, Karakter, KebangsaanAbstractThis article discusses about Christian Education based on national characterinsight. PAK is one of the pillars of character education. Character education will be realized if embedded in the spirit of insight of nationality in the students, therefore PAK is one of the supporting elements of the character of the protege. Through the design of the PAK material nationality students are taught that nationalistic deeds are evidence of faith as in the Bible.Keywords: Design, Christian Religion Education, Character, Nationality
ANALISIS DAN MAKNA TEOLOGI KETUHANAN YANG MAHA ESA DALAM KONTEKS PLURALISME AGAMA DI INDONESIA Erman Sepniagus Saragih
Jurnal Teologi Cultivation Vol 2, No 1 (2018): Juli
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jtc.v2i1.175

Abstract

AbstrakIndonesia adalah bangsa yang majemuk. Keadaan ini berpeluang dan sensitif terhadap konflik sosial jika sikap toleran yang rendah, kepentingan politik dan fanatisme. Tujuan penulisan yaitu menemukan makna teologi “Ketuhanan” dalam konteks pluralisme agama. Metologi penelitian dilakukan dengan studi analisis isi. Kesimpulannya yaitu, pertama; kata ketuhanan tidak boleh difahami dari aspek agama tertentu saja dalam kemajemukan di Indonesia. Kedua; ketuhanan berarti sifat-sifat yang mengindahkan Tuhan sebagai tampilan antropomorfis oleh agama manapun. Ketiga; Ketuhanan merupakan hasil sejarah perumusan sila pertama Pancasila dengan kesadaran akan bhineka sebagai realita yang harus dirawat, dijunjung tinggi dan dihormati dalam berbagai aspek hidup melebihi agama. Kata Kunci : Ketuhanan Yang Maha Esa, Pluralisme Agama, Teologi AbstractA plural nation these circumstances are likely and sensitive to social conflict if low tolerance, political interests and fanaticism. The purpose of writing is to find the meaning of theology of as mentioned earlier in the context of religious pluralism. The methodology by content analysis, further interpret theologically. The concludes the theological meaning of God in the first principle of the Pancasila; is first, the meaning of divinity should not be understood from certain aspects of religion only in the context of pluralism in Indonesian. Second; divinity means the properties of God or attributes that need the God as an anthropomorphic appereance of and for any religions. Third; the sentences of “belief in the one and only God is the achierement of reconciliation of the historical resultsof the first principle of pancasila with the awareness of the difference as a reality that must be nurtured, upheld and respected in various aspects of life beyond certain religious values. Keywords: Ketuhanan Yang Maha Esa, Pluralism, Theology
Moderasi Beragama Berbasis Kearifan Lokal Suku Pakpak-Aceh Singkil Erman Sepniagus Saragih
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 2 (2022): Maret 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v4i2.253

Abstract

The destruction of the church in Aceh Singkil in 2015 was phenomenal and a fact of the struggle to achieve religious moderation. The Aliansi Pemuda dan Pembela Islam (APPI) demands a firm stance from the local government to crack down on church buildings that do not have a Building Construction Law (IMB). Of course, the church community in Aceh Singkil is not indifferent to the rules and it seems as if the fulfilment of the IMB is a paradigm for the actualization of religious harmony that goes beyond the virtue of local humanism of the local community. This paper argues that even though the fulfilment of IMB is necessary, local wisdom is a “treasure” that cannot be insulted based on any policy because local wisdom can be a medium to create harmony in religious differences. The case of the destruction of the church in Aceh Singkil has certainly become a public study, but there has been no offer related to local wisdom as a basis for being moderate. The conclusions are: First, a community that emphasizes customs needs each other and maintains existing virtues that have been instilled since ancient times is virtuous. Second, simplicity, certainty, and virtue are the basis. Third, open communication by way of kinship is the openness of the philosophical schools of traditional society. If religious ideas carry a message of benefit to the wider community, of course, suspicion will be low, fanaticism will become open, extremists will become dialogical, and be radical virtue.