Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Molucca Medica

KENDALA PELAKSANAAN POSBINDU PTM DI PULAU SAPARUA KABUPATEN MALUKU TENGAH DARI SUDUT PANDANG PENGAMBIL KEBIJAKAN Annastasia Eklesia Ohoiulun; Christiana R Titaley; Bertha Jean Que; Aldo Evan Wijaya; Maxwell L. V. Malakauseya; Putri Ulandari; Leonardo S Liesay; Filda de Lima; Lidya Saptenno; Anggun L. Hussein
Molucca Medica VOLUME 14 JUNI 2021 : EDISI KHUSUS PENGABDIAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PATTIMURA
Publisher : Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (564.994 KB) | DOI: 10.30598/molmed.2021.v14.ik.1

Abstract

Penyakit tidak Menular (PTM) merupakan penyebab kematian nomor satu di seluruh dunia. PTM juga merupakan penyebab tersering kematian prematur di seluruh dunia. Pada tahun 2016, PTM menjadi penyebab 71% kematian di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri pada tahun yang sama, 73% kematian disebabkan oleh PTM. Akibat tingginya angka kematian yang disebabkan oleh PTM inilah maka pemerintah menetapkan berbagai program yang salah satunya adalah melalui deteksi dini faktor risiko PTM dalam kegiatan Posbindu PTM. Pulau Saparua merupakan salah satu area di Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku yang hingga akhir tahun 2019 belum melaksanakan Posbindu PTM secara optimal. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang dilakukan di tiga desa di Pulau Saparua yakni desa Paperu, Porto dan Ouw. Pengambilan data dilakukan pada bulan Desember 2019 sampai Januari 2020. Dalam penulisan ini peneliti hanya menggunakan hasil wawancara mendalam dengan pengambil kebijakan di tingkat desa hingga provinsi. Berdasarkan hasil wawancara kendala yang dilaporkan di tingkat desa adalah minimnya pengetahuan pengambil kebijakan tentang PTM maupun posbindu PTM, rumitnya pertimbangan alokasi dana, belum adanya pemahaman masyarakat mengenai PTM dan pemeriksaannya di Posbindu. Kendala di tingkat kecamatan ialah tidak adanya penjelasan dan pendampingan dari Dinas Kesehatan terkait pelaksanaan Posbindu, kurangnya kesadaran masyarakat, dana bantuan dari pemerintah desa susah didapat, lokasi pelaksanaan posbindu, keterbatasan jumlah kader, kekhawatiran kader untuk melakukan pemeriksaan, ketidak percayaan masyarakat terhadap kader non-medis yang melakukan pemeriksaan, ketidak percayaan masyarakat terhadap hasil pemeriksaan dengan menggunakan alat digital, tidak fokusnya pemerintah pada masalah PTM. Kendala di tingkat kabupaten termasuk pelaksanaan posbindu oleh Puskesmas belum tepat dan tidak efektif, petugas Puskesmas belum dilatih, seringnya pergantian pemegang program di Puskesma, kurangnya pemahaman pemegang program di Puskesmas tentang Posbindu PTM, kekhawatiran kader dalam melakukan tindakan pemeriksaan dan kurangnya alat yang dimiliki Puskesmas. Di tingkat Provinsi, kendala yang dilaporkan adalah minimnya bantuan dari pemerintah pusat. Dari berbagai kendala yang ditemukan pada penelitian ini kemudian dibahas sesuai panduan yang berlaku untuk mengoptimalkan pelaksanaan Posbindu PTM di pulau Saparua
ANALISIS PERILAKU SEKSUAL REMAJA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN DI KOTA AMBON Elpira Asmin; Alessandra F. Saija; Christiana R Titaley
Molucca Medica Vol 16 No 1 (2023): VOLUME 16, NOMOR 1, APRIL 2023
Publisher : Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/molmed.2023.v16.i1.11

Abstract

Masa remaja ditandai dengan mulai berani untuk menjalin hubungan khusus dengan lawan jenis yang biasa disebut pacaran. Pacaran merupakan salah satu cara yang paling banyak dilakukan dan paling mudah untuk menggiring remaja ke perilaku seksual berisiko. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis perilaku seksual remaja laki-laki dan perempuan di Kota Ambon. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian merupakan remaja di Kota Ambon. Sampel penelitian adalah siswa Sekolah Menengah Atas (SMA)/sederajat di Kota Ambon. Penelitian menggunakan quote sampling dengan sampel sebanyak 50 siswa tiap sekolah. Jumlah sampel sebanyak 1.000 siswa SMA/sederajat yang diambil dari 20 sekolah di Kota Ambon. Hasil penelitian menemukan bahwa sekitar 62,1% remaja pernah menonton video porno dan sekitar 42,7% beranggapan bahwa berpelukan adalah hal yang biasa, sekitar 10,8% remaja pernah melakukan hubungan seksual pranikah. Remaja laki-laki yang memiliki perilaku seksual berisiko sebesar 61,4% sedangkan remaja perempuan yang memiliki perilaku seksual berisiko yaitu 26,4%. Kesimpulannya adalah ada hubungan jenis kelamin dengan perilaku seksual berisiko pada remaja di Kota Ambon (p<0,001). Disarankan bagi guru dan orang tua dapat mengawasi perilaku remaja sehingga tidak terjerumus melakukan perilaku seksual berisiko.