Rahmi Nur Fitri
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Fashion Designer Sebagai Alternatif Keterlibatan Perempuan Maroko Di Ruang Publik Rahmi Nur Fitri
Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Vol. 6 No. 1 (2021)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jkii.v6i1.1116

Abstract

Maroko pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan negara-negara Arab lainnya, yang mana perempuan memiliki akses yang terbatas di ruang publik. Sikap konservatif dan tradisi patriarki mengantarkan perempuan ke tingkat yang sulit untuk terlibat aktif di sektor publik. National Strategy for Equity and Equality di Maroko menginisiasikan untuk mengurangi tingkat diskrimasi terhadap perempuan, tetapi fakta lapangan menunjukkan sebaliknya. Kebiasaan dan tatanan sosial di masyarakat menjadi faktor yang menghambat proses perubahan. Tulisan ini mengkaji berbagai upaya yang dilakukan oleh pemerintah Maroko untuk meningkatkan keterlibatan perempuan. Selain usaha yang dilakukan pemerintah, karya ilmiah ini juga memaparkan peran aktif yang dilakoni oleh perempuan Maroko secara langsung pada saat negara tampak tidak maksimal dalam mereduksi ketidakadilan bagi mereka. Nama-nama tokoh penggerak perempuan dari negeri Maghribi ini kemudian mulai bermunculan, seperti Fatima Mernissi, seorang sosiolog yang menaruh banyak perhatian terhadap persoalan perempuan. Namun, fokus tulisan adalah perempuan Maroko yang menunjukkan ketertarikannya di bidang fashion desainer yang kemudian memiliki label dan jangkauan pasar yang luas. Pengakuan sosial mulai didapatkan oleh Sofia El Arabi dan Ilham Benami melalui bidang ini. Rosaline Delmer menyebutkan bahwa perempuan memiliki kemampuan untuk memajukan kepentingannya didasarkan kepada pemahaman yang mereka yakini. Perempuan Maroko menemukan tempat untuk mereka di ruang publik melalui profesi sebagai desainer. Berkarir di bidang ini menjadi sebuah apresiasi bagi mereka tanpa harus terlibat konfrontasi dengan laki-laki di ranah publik.[Morroco has not especially differences among Arab countries, in which woman have limited access in public sphere. Conservative tradition and patriarchy lead woman to difficult level to be actively involved in public field. National Strategy for Equity and Equality in Morroco initiate to decrease inequity of woman, despite the reality has denoted of divergence. Custom and social order are preventation of change in society. This paper examines various efforts which was made by Morroco’s government to expand woman’s involvement. In addition, the article will explain how far woman contributed in directly activity when the government is not earnestly to reduce injustice for woman. Then, names of female activists from Morroco began to appear, such as Fatima Mernissi, a sociologist who lay down her interest in women’s issues. Nevertheless, this article only focus on Morocco’s women who show interest in fashion desaigner, through this field they have their own label and extend market places. Social recognition has been earned by Sofia El Arabi and Ilham Benami from this field. Rosaline Dalmer addresses, based on comprehension every women has ability to extend her needs and desires. Morrocan’s women have actively found their role as designer in public sphere. A career in this field is an appreciation for them whose they can be spared with men from confrontation in public field.]
Fenomena Seleb Hijrah: Tendensi Ekslusivisme dan Kemunculan Kelompok Sosial Baru Rahmi Nur Fitri; Indah Rama Jayanti
MUHARRIK: Jurnal Dakwah dan Sosial Vol 3 No 01 (2020): Muharrik - Jurnal Dakwah dan Sosial
Publisher : Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.384 KB) | DOI: 10.37680/muharrik.v3i01.222

Abstract

Religious behavior nowadays has became a sector which has a lot of change. Modernity and globalization formed a society that was worried on their religious identity. This problem deliver to a new trend amongst young people and Indonesian celebrities. Campaigns of movement extensively spread on media social, self convertion to religious individuals also known as “seleb hijrah”. The massive movement of hijrah lead by various groups that caused alteration the meaning of it and increased activities of religion commodification. Society today has liberation to select literature of hijrah concept that are available in the media. Media extention facilitate spreading of the existence of seleb hijrah which eventually form new communities such as “Kajian MuSaWaRah”. Data obtain through social media, various video and articles discussing the same topic. This paper aims to scientifically explore and critically examine the phenomenon of seleb hijrah that have occurred among artists in recent years. Examine further the emergence of tendency of exclusivism in modern social circle. In addition, the article also explain the tendency of religious commodification in artists circle, in which called them selves with preacher. Nadirsyah Hosen said that hijrah activity amongst celebrities should not only be a popular trend to moving stage in seek of audiences. The majority of artists who are members of the group, innovate to maintain their existence in the public sphere. Keywords: hijrah, artist, exclusivism, identity Abstrak Perilaku keagamaan masa kini telah menjadi bidang yang banyak mengalami perubahan. Modernitas dan globalisasi kemudian membentuk masyarakat yang terguncang akan identitas keagamaannya. Kekhawatiran ini kemudian menghasilkan tren baru di kalangan anak muda dan selebriti Indonesia. Kampanye gerakan untuk menjadi pribadi religius yang dilakoni para artis kemudian marak ditemukan di media sosial atau yang juga dikenal dengan seleb hijrah. Gerakan massif hijrah yang dilakukan oleh berbagai kalangan, menyebabkan terjadinya pergeseran makna hijrah serta meningkatnya aktivitas komodifikasi yang menjadikan agama sebagai obyeknya. Masyarakat dewasa ini bebas untuk memilih referensi hijrah dari sekian banyak sumber yang telah tersedia di media. Ekstensi media mempermudah penyebaran eksistensi artis hijrah yang akhirnya membentuk sebuah komunitas baru seperti Kajian MuSaWaRah. Data didapatkan melalui media sosial, berbagai video kajian serta artikel-artikel yang membahas topik yang sama. Tulisan ini bertujuan untuk menelusuri dan mengkritisi secara ilmiah fenomena seleb hijrah yang terjadi di kalangan artis beberapa tahun terakhir. Menelaah lebih jauh munculnya kecenderungan ekslusivisme kelompok sosial modern. Selain itu, artikel juga memaparkan terjadinya kecenderungan komodifikasi agama di dalam kelompok artis yang mulai mengidentifikasikan diri sebagai kelompok pendakwah. Mengutip tulisan Nadirsyah Hosen, aktivitas hijrah di kalangan artis seharusnya tidak hanya menjadi tren populer perpindahan panggung dalam mencari audiensi. Mayoritas artis yang tergabung ke dalam kelompok ini kemudian berinovasi untuk tetap mempertahankan eksistensi mereka di ranah publik. Kata kunci: hijrah, artis, eksklusivisme, identitas