Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KEUNGGULAN SUB SEKTOR PERIKANAN DAN PARIWISATA BAHARI DI BELITUNG Mira Mira; Risna Yusuf
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 14, No 1 (2019): JUNI 2019
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.293 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v14i1.7792

Abstract

Tujuan dari penelitian adalah mengukur kinerja perikanan dan pariwisata bahari dalam struktur perekonomian Belitung, apakah sektor tersebut memiliki keuggulan komparatif, termasuk pada sektor unggulan/prospektif/berkembang/potensial/terbelakang. Penelitian dilakukan pada tahun 2016 di Kabupaten Belitung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pergeseran struktur perekonomian. Hasil pengolahan data mengindikasikan, pertama dari sektor perikanan dan pariwisata termasuk pada sektor yang tidak memiliki keunggulan komparatif dan daya saing karena memiliki nilai komponen pangsa wilayah negatif (- 2,58%, dan –1,16%). Kedua, sektor wisata bahari termasuk pada kategori sektor yang mengalami pertumbuhan progresif (3,25%) yang diindikasikan dengan dengan nilai pergeseran bersih yang positif. Perlambatan pertumbuhan terjadi pada sektor yang dulunya tumpuan perekonomian Belitung (perikanan dan pertambangan) yang diindikasikan dengan nilai pergeseran bersih negatif (-11,16%). Ketiga, jika dilihat dari rasio indikator pertambahan pertumbuhan masing-masing sektor adalah wisata (113%), dan perikanan (112%), mengindikasikan kedua sektor ini termasuk yang produktif dan potensial dan tidak terjadi ketimpangan sektor. Keempat, jika dilihat dari profil sektor dalam kuadran, sektor wisata bahari terletak pada kuadran 3 yang berarti termasuk sektor agak mundur. Sedangkan sektor perikanan termasuk pada kuadran 4 yang mengindikasikan sektor ini masuk sektor yang mundur. Di Belitung terjadi pergeseran perekonomian, yang awalnya mengandalkan sektor primer (perikanan dan pertambangan), beralih ke sektor tersier (industri dan wisata bahari). Diharapkan pemerintah, mendukung mata pencarian alternatif selain sektor pertambangan dan perikanan, seperti sektor wisata bahari. Salah kendala pengembangan mata pencarian alternatif ini adalah perbedaan orientasi usahanya, dimana awalnya masyarakat menggeluti usaha ekstrasi (fisik) dan beralih menggeluti usaha jasa wisata (pelayanan). Performance of Fisheries and Tourism Sub Sectors in BelitungThe objective of this research was to analyze performance of fisheries and marine tourism sector in Belitung Regency. The analysis was to measure whether the sector has comparative advantage, prospective, developed, potential or underdeveloped condition.  The research was conducted in 2016 at Belitung Regency. Data were analyzed by economic structure shift analysis. The results indicated a number of findings. First, fisheries and tourism sector did not have comparative advantage and competitiveness due to its negative regional share component (- 2.58%, and -1.16%). Second, marine tourism sector had progressive growth (3.25%) indicated from positive net shift component. Instead, despite the fact that fisheries and mining were the base sector of Belitung Regency, they experienced deceleration of growth indicated by a negative net shift component (-11,16%). Third, a growth rate ratio analysis indicated that fisheries and marine tourism are productive and potential sectors because they had a positive growth rate ratio of 112% and 113%. Fourth, the marine tourism sector was in quadrant 3, it means that marine tourism was a fairly declining sector. Fisheries sub sector was in quadrant 4, it means that it was a declining sector. There was an economic shift in Belitung from primary sector (fisheries and mining) to tertiary sector (industry and marine tourism). The government was expected to create alternative livelihoods other than mining and fisheries such as marine tourism. However, problem occurred in the difference of business orientation from physical business to industrial and tourism services. 
ANALISIS KOMPARATIF USAHA TAMBAK UDANG VANAME DENGAN TEKNIK TRADISIONAL, SEMIINTENSIF, DAN INTENSIF DI WILAYAH PESISIR Mira Mira; Permana Ari Sujarwo; Riesti Triyanti; Nensyiana Shafitri; Armen Zulham
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 17, No 1 (2022): JUNI 2022
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v17i1.10228

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasikan karakteristik sosial ekonomi pembudi daya tambak udang dan melakukan analisis komparatif secara finansial terhadap usaha tambak udang vaname berdasarkan tipe teknologi. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2020 dan berlokasi di pesisir Aceh Tamiang. Dalam penelitian ini digunakan metode deskriptif kuantitatif, yaitu jumlah responden sebesar 182 orang yang terdiri atas 137 petambak tradisional, 36 petambak semiintensif, dan 9 petambak intensif. Perbedaan biaya operasional usaha tambak tradisional, semiintensif, dan intensif yang paling besar adalah pada biaya pakan dan biaya listrik. Pada tambak tradisional, semiintensif, dan intensif, pakan yang dibutuhkan hanya 80 kg, 10 ton, dan 19,33 ton per hektare dan per tahun. Pada tambak tradisional, semiintensif, dan intensif kebutuhan listriknya masing-masing adalah Rp804 ribu, Rp14juta, dan Rp34,4 juta per tahun dan per hektare. Total biaya untuk tiap-tiap tambak, yaitu tradisional, semiintensif, dan intensif adalah Rp6,9 juta, Rp282 juta, dan Rp505 juta. Baik tambak tradisional, semiintensif, maupun intensif sangat menguntungkan secara ekonomis jika dilihat dari indikator kinerja usaha jangka pendek, seperti penerimaan, keuntungan, rasio penerimaan dan biaya, serta periode balik modal. Akan tetapi, dalam jangka panjang, nilai rasio keuntungan bersih dan biaya untuk tambak intensif dan semiintensif kurang dari 1. Hal itu menggambarkan usaha yang belum dilakukan secara efisien karena lahan yang diusahakan hanya 5 hektare dan masih dalam tahap coba-coba sehingga belum menutup semua investasi yang dikeluarkan. Pemilik tambak tradisional diharapkan meningkatkan produktivitasnya melalui peningkatan teknologi.Title: Comparative Analysis of Vannamei Shrimp Farming Business (Traditional, Semi-intensive and Intensive)This research identified the socio-economic characteristics of shrimp farmers and analyzed the financial comparison of vannamei shrimp farming based on the type of technology. This research was conducted in 2020 and is located in Aceh Tamiang. This research used descriptive quantitative method. The number of respondents was 182 people, consisting of 137 traditional farmers, 36 semi-intensive farmers, and 9 intensive farmers. The biggest difference between the operational costs of traditional, semi-intensive and intensive ponds were in the cost of feed and electricity. On traditional, semi-intensive and intensive ponds needed 80 kg, 10 tons, and 19,33 tons of feed per hectare/per year. On traditional, semi-intensive and intensive ponds, the electricity costs are IDR 804,000, IDR 14 million and IDR 34.4 million per year per hectare. The total cost for traditional, semi-intensive and intensive ponds were Rp6.9 million, Rp282 million and Rp505 million per year per hectare, respectively. From short-term business performance indicators, such as revenue, profit, revenue/cost ratio, pay back period, all of the traditional, semi-intensive and intensive ponds were very profitable economically. However, in the long term, the Net B/C value for intensive and semi-intensive ponds was less than 1. It indicated no technical efficiency, because the cultivated land was small (only 5 ha) and farmers were still in the trial stage, so that the investment issued by the farmers had not returned. Traditional pond owners were expected to increase their productivity through technological improvements.